Ketika aku duduk, kecemasan terpancar jelas dari wajahku. Aku sama sekali tidak menyangka akan duduk di sebelah Mbak Desi. Tiba-tiba dia menyerahkan handuk kecil kepadaku. Aku sempat bingung—kenapa handukku ada di tangannya.
“Ini, Mas, handuknya,” katanya sambil tersenyum.
“Aku salut sama kamu. Meski kemarin Bu Sri sempat mengecewakanmu, aku enggak melihat dendam sedikit pun di matamu. Kamu justru jadi orang paling bertanggung jawab hari ini. Tidak ada yang nyuruh, tapi kamu tetap nunggu di kantor dan bawain barang Bu Sri.”
Aku tersenyum kikuk.
“Maaf ya, Mbak, aku berkeringat. Enggak apa-apa aku duduk di sini? Terus… kok handukku bisa di Mbak Desi? Bukannya aku titip ke Bu Sari?”
“Bu Sari lihat kamu sibuk sekali,” jawabnya tenang.
“Dia titipkan handukmu ke aku karena mengira kamu pasti duduk di sebelahku. Lagipula enggak apa-apa, Mas. Kamu wajar berkeringat—kamu yang paling capek sebelum bus berangkat.”
Aku menunduk, tersipu. Tanpa kusadari, dia memperhatikanku sejak tadi.
“Ini, Mas. Minum dulu,” katanya sambil menyodorkan botol air.
“Terima kasih, Mbak. Maaf jadi merepotkan.”
“Hanya air, kok. Aku enggak merasa repot,” ujarnya.
“Sepertinya aku enggak salah memilih partner. Oh iya, tadi sebelum kamu naik, kami sempat foto-foto dulu. Rasanya kurang lengkap kalau kamu enggak ikut.”
Aku mengangguk, meski sedikit gugup. Aku memang tidak terlalu suka difoto—apalagi duduk tepat di sebelahnya. Kami berfoto berlima karena kursi belakang berkapasitas lima orang.
Tak lama setelah foto dikirim ke grup kantor, BBM dari Bu Tamara masuk.
Aku membalas pelan-pelan.
Aku menarik napas panjang dan memilih menghentikan percakapan itu.
Sepanjang perjalanan, Mbak Desi bercerita tentang keluarganya—tentang suami dan anak-anaknya. Cara dia bercerita membuatku sadar bahwa aku keliru menafsirkan banyak hal. Sikap baiknya bukan karena rasa khusus, melainkan karena hatinya memang hangat pada siapa pun.
“Kamu tahu, Mas,” katanya pelan,
“aku paling bersyukur kalau bisa cepat pulang dan berkumpul sama anak-anakku.”
Aku mengangguk.
“Iya, Mbak. Kelihatan kok.”
Kalimat sederhana itu cukup menyadarkanku. Ada batas yang tidak boleh—dan tidak ingin—kulangkahi.
Sesampainya di pantai, Bu Tamara masih terlihat menjauh. Aku dan Mbak Desi sibuk mempersiapkan acara tukar kado. Setelah selesai, aku duduk di pinggir pantai. Mbak Desi menyusul.
“Kenapa enggak main ombak, Mas?” tanyanya.