Cinta Lintas Usia

Arif Ramadhan
Chapter #15

Panggilan Kesayangan

Sejak kami pulang dari Anyer, aku merasakan banyak perubahan. Bu Tamara menjadi jauh lebih posesif. Awalnya, sikap itu membuatku tidak nyaman. Namun perlahan aku mulai memahami bahwa kecemburuan itu bukan semata-mata keinginan untuk menguasai, melainkan ketakutan kehilangan—sesuatu yang tumbuh dari kejujuran yang terlambat dan rasa sayang yang akhirnya diakui.

Meski telah berulang kali aku jelaskan, kecemburuannya pada Mba Desi tidak serta-merta mereda. Aku tidak sepenuhnya bisa menyalahkannya. Komunikasi antara aku dan Mba Desi memang tidak mungkin terhenti secara tiba-tiba. Tuntutan pekerjaan membuat kami tetap harus berkoordinasi dan berinteraksi. Situasi itu, disadari atau tidak, menjadi ruang abu-abu yang terus menguji rasa percaya.

Bu Tamara pun mengakui satu hal yang cukup mengguncang perasaanku: sebelum ia membuka perasaannya kepadaku, ia masih rutin berkomunikasi dengan Pak Hasan. Pengakuan itu membuatku sadar bahwa kami sama-sama membawa masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

“Mas, besok Sabtu kamu ada acara?” tanyanya suatu sore. “Kalau tidak, kita ketemuan, ya. Aku tidak punya banyak waktu, dan rasanya kurang aman kalau terlalu lama ngobrol di kantor.”

Aku mengiyakan. Bukan karena dorongan yang menggebu-gebu, melainkan karena aku tahu, barangkali ia sedang membutuhkan ruang untuk memastikan posisiku di hidupnya.

Hari Sabtu itu datang tanpa rencana apa pun. Bu Tamara menungguku di sebuah department store dekat kantor. Tempat yang netral, tetapi tetap terasa penuh kehati-hatian.

“Hari ini mau ke mana, Bu?” tanyaku.

“Tidak usah dipikirkan. Kita keluar saja dulu. Aku tidak ingin ada yang melihat,” jawabnya singkat.

Kami melaju tanpa tujuan pasti. Ada keheningan yang terasa canggung, tetapi juga hangat.

“Mas, kita ke arah timur saja. Aku belum pernah ke sana,” ujarnya kemudian.

Aku mengangguk. Dalam perjalanan, aku mengusulkan untuk mencari tempat makan agar kami bisa duduk, berbicara, dan menenangkan pikiran. Kami akhirnya berhenti di sebuah restoran cepat saji yang masih sepi. Pagi hari memberi kami ruang tanpa banyak mata yang memperhatikan.

“Boleh aku tahu,” kataku hati-hati, “kenapa Ibu ingin kita jalan berdua hari ini?”

Lihat selengkapnya