Cinta Lintas Usia

Arif Ramadhan
Chapter #16

Pertengkaran Tiada Akhir

Setiap hubungan tidak pernah berjalan mulus sepanjang waktu. Ada kalanya rasa cemburu justru dibutuhkan—layaknya bumbu dalam sebuah masakan. Bila takarannya tepat, ia akan memperkaya rasa. Namun jika berlebihan, yang tersisa hanyalah pahit. Aku mulai menyadari itulah yang perlahan terjadi dalam hubunganku dengan Bu Tamara akhir-akhir ini.

Kecemburuan kecil sering muncul, lalu reda kembali setelah kami berbicara dan saling memahami. Hubungan kami sempat kembali harmonis, meski aku tahu keseimbangan itu rapuh. Aku juga sadar, jauh sebelum kehadiranku, ada Pak Hasan yang lebih dahulu menaruh rasa pada Bu Tamara. Ia tak pernah menyatakannya secara gamblang, tetapi bahasa tubuh dan sorot matanya sering kali tak mampu menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan.

Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabar tentang Pak Hasan. Entah karena Bu Tamara menyimpannya, atau memang komunikasi itu telah benar-benar terputus. Hingga suatu sore, di tengah perjalananku pulang, Bu Tamara menghubungiku dan menyampaikan pengakuan yang datang seperti petir di siang hari.

“Darling, sibuk tidak? Bagaimana pekerjaan hari ini?” tanyanya ringan.

“Alhamdulillah lancar. Ada apa?” balasku.

“Mood kamu sedang baik? Ada hal yang ingin aku sampaikan, tapi aku mohon pengertianmu.”

Aku menarik napas. “Tentang Pak Hasan, ya? Silakan.”

Ia bercerita bahwa siang itu Pak Hasan mengajaknya menonton bioskop. Kalimatnya bahkan belum selesai ketika emosiku terlanjur mendahului logika.

“Lalu kamu setuju?” potongku. “Kenapa harus izin kalau ujungnya seperti itu?”

Ia menenangkan. Menjelaskan bahwa ia menolak, lalu menerima dengan syarat pergi bersama beberapa teman agar ajakan itu batal dengan sendirinya.

Lihat selengkapnya