Setelah pertengkaran terakhir itu, kami belum sempat bertemu lagi. Namun komunikasi di antara kami tetap terjaga—bahkan terasa lebih hangat dan romantis daripada sebelumnya. Seakan-akan pertengkaran itu menjadi cermin yang memantulkan banyak pelajaran. Kami belajar menurunkan ego, lebih berhati-hati dengan kata-kata, dan mulai benar-benar menjaga perasaan satu sama lain. Aku perlahan menyadari, setiap luka yang sempat tercipta ternyata menyisakan hikmah di baliknya.
Mendekati perayaan ulang tahun perusahaan, Kantor Pusat mengadakan lomba seni tari daerah. Setiap kantor cabang diwajibkan mengirimkan tim untuk menampilkan kreasi terbaik mereka. Karena kedekatanku dengan Mba Desi, serta rekomendasi dari beberapa rekan agent dan Bu Ningsih—kepala cabang baru yang menggantikan Pak John—aku dan Mba Desi dipercaya menjadi tim sukses untuk perwakilan kantor kami.
Awalnya aku ragu menerima tanggung jawab itu. Bukan karena tak yakin pada kemampuanku, melainkan karena ada perasaan khawatir Bu Tamara kembali merasa cemburu. Namun dugaanku keliru. Ia justru mendukung sepenuhnya, selama aku bisa menjaga jarak dan tetap memperhatikannya.
Rapat internal pun dimulai. Salah satu ketentuannya, tim harus beranggotakan enam orang. Mba Desi ditunjuk sebagai ketua tim. Nama pertama yang aku rekomendasikan tanpa ragu adalah Bu Tamara. Selebihnya, para agent mengajukan diri sesuai kemampuan masing-masing. Tidak semua bisa menari, tetapi semua ingin terlibat. Kami diberi waktu satu bulan untuk persiapan dan berlatih setiap sore.
Latihan pertama mempertemukanku kembali dengan Bu Tamara setelah sekian hari. Rasanya canggung—seperti dua orang yang sedang belajar memulai kembali sesuatu yang sempat goyah. Aku hanya memantau, sementara koreografi sepenuhnya kupercayakan pada Mba Desi dan Bu Tamara. Hari itu aku sengaja pulang lebih lambat, berharap bisa meluangkan waktu lebih banyak dengannya. Ternyata keinginannya serupa. Ia ingin aku mengantarnya pulang. Sebelum itu, kami mampir ke sebuah kedai roti bakar sederhana.
“Darling, kamu tidak keberatan aku dan Mba Desi jadi panitia lagi, kan?” tanyaku hati-hati.
“Selama kamu bisa menjaga perasaanku, aku tidak akan marah,” jawabnya singkat, namun tegas.
Aku tersenyum kecil. “Tenang saja. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.”
Ia mencubit kecil tanganku sambil bersungut manja. Aku justru memanfaatkan momen itu untuk menggenggam tangannya.