Sepanjang perjalanan pulang, Bu Tamara lebih banyak diam. Wajahnya menempel ke jendela, seolah mencoba menyembunyikan sesuatu yang rapuh di balik kaca. Aku tahu, kabar mutasiku menghantamnya lebih keras daripada yang ingin ia akui. Sepanjang jalan, aku menggenggam tangannya. Kursi kami berada di barisan paling belakang, jauh dari pandangan. Sebagian besar teman agen tertidur, dan ia berpura-pura melakukan hal yang sama. Namun genggaman tangannya justru semakin erat—seakan ingin memastikan bahwa aku masih ada di sana.
Saat itu aku menyadari: kebersamaan kami memang akan segera mencapai ujungnya. Bukan karena salah satu dari kami berhenti mencinta, melainkan karena keadaan memaksa kami berjalan ke arah berbeda.
Kami tiba di kantor sekitar pukul lima sore. Setelah membereskan barang, Bu Tamara dan Mba Desi bersikap dingin kepadaku. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Yang tersisa hanyalah raut kekecewaan yang mereka simpan dengan caranya masing-masing. Ketika Bu Ningsih menyinggung perubahan sikap mereka, keduanya hanya beralasan lelah dan merasa telah memberikan yang terbaik.
Beberapa hari berikutnya menjadi canggung. Mba Desi tidak lagi menyapaku dan memilih meminta bantuan Toni. Bu Tamara masih berkomunikasi denganku, tetapi terjaga jaraknya. Ia menolak panggilanku dan membalas seperlunya. Hampir dua minggu keadaan itu berlangsung, hingga aku merasa tak bisa lagi membiarkannya menggantung.
Aku memutuskan menghubungi Mba Desi terlebih dahulu.
Ia mengakui bahwa ia merasa belum siap kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempatnya bersandar di kantor. Bukan cinta, katanya—melainkan rasa aman. Pengakuan itu membuatku terharu sekaligus sedih. Aku memintanya untuk melepas kepergianku dengan hati lapang, agar tak ada penyesalan yang tertinggal. Percakapan itu menutup satu pintu dengan baik.
Tinggal satu yang belum selesai.
Ketika aku menghubungi Bu Tamara, kecemburuannya kembali muncul—kali ini berbalut ketakutan akan ditinggalkan. Namun setelah kami saling berbicara, suasana perlahan mencair. Ia kembali memanggilku darling. Aku pun begitu. Kami sepakat untuk tetap menjaga hubungan ini, sejauh yang kami mampu.
Menjelang hari kepindahanku, komunikasi kami justru semakin intens. Namun di balik itu, aku bisa merasakan kesedihan yang ia sembunyikan. Hingga suatu sore ia bertanya dengan suara bergetar, apakah setelah aku pindah nanti aku masih akan melanjutkan hubungan ini.
“Aku akan tetap menjaga hatiku,” janjiku.