Lantai tiga koridor rumah sakit itu biasanya hanya menyisakan dengung mesin pendingin ruangan dan derap langkah suster yang terjaga. Jam dinding digital di atas meja jaga menunjukkan angka satu dini hari lewat lima belas menit—sebuah titik jenuh di mana dunia seolah menahan napas dalam keheningan yang mencekam.
Namun, keheningan itu robek seketika.
Dari balik pintu kamar bersalin, sebuah teriakan melengking memecah atmosfer sunyi. Itu bukan sekadar suara; itu adalah suara dari bukti otentik yang mempertaruhkan perjuangan antara hidup dan mati. Keringat dingin membasahi pelipis sang ibu, jemarinya meremas sprei hingga buku-bukunya memutih. Di antara udara di dalam ruangan yang terasa berat dan dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, terlintas bayang mendiang suaminya memenuhi pikirannya.
Sementara, setiap detik terasa seperti jam yang merambat lambat. Dari balik pintu kamar bersalin itu, keduanya tak henti mondar-mandir dengan perasaan cemas dan penuh gelisah. Satu menit terasa seperti satu jam, dan satu jam terasa seperti keabadian.
"Ayo, sekali lagi... Bu! Sedikit lagi!"
Suara bidan itu memicu setengah kelegaan di hati mereka. Sedikit lagi. Artinya, sebentar lagi rasa sakit itu akan segera hilang. Surya, pria berusia tiga puluh enam tahun itu lantas menatap lurus ke wajah sang istri.
Seolah saling memahami apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing, baik Surya maupun Maudi yang menggendong anak pertama mereka saling melempar senyum penuh kelegaan.
Tak lama kemudian, terdengar erangan terakhir itu begitu panjang, sebuah puncak dari segala rasa sakit yang bisa ditanggung manusia.
Lalu, tiba-tiba... hening.
Maudi segera menarik lengan Surya dan menatapnya ketakutan. "Mas..."
Oekkk... Oekkk!
Suara tangis bayi yang cempreng dan kuat itu memecah ketegangan seolah-olah fajar baru saja terbit di jam satu pagi itu. Tangisan itu adalah melodi paling indah yang pernah mereka dengar.
Surya tersenyum penuh lega, begitu juga Maudi yang melepaskan cengkraman pada lengan suaminya, kini mengelus-ngelus dada. Sesekali, ia mengayunkan tubuhnya pelan, berusaha menenangkan sang anak yang digendongnya merengek.
Beberapa saat kemudian, daun pintu terbuka perlahan. Sontak, Surya dan Maudi lantas bersamaan berbalik dan mendekati seorang bidan yang keluar dengan wajah yang sulit dilukiskan—campuran antara kelelahan luar biasa, sisa-sisa air mata, dan binar kebahagiaan yang tak terbendung sekaligus seraut wajah yang membuat keduanya saling menatap.
"Bagaimana, Bu Bidan?" Tanya Surya. "Bagaimana kondisi Ibu itu?"