CINTA PERTAMA ANDREA

essa amalia khairina
Chapter #2

MENJEMPUT ANDREA

Langit di balik dinding kaca raksasa terminal mulai menumpahkan warna jingga pekat. Seakan, seseorang baru saja menumpahkan tinta emas di atas cakrawala. Cahaya matahari sore yang rendah menusuk masuk ke dalam aula keberangkatan, memanjang di atas lantai granit yang dipoles mengilap, menciptakan bayangan-bayangan panjang dari orang-orang yang bergegas.


​Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlarian mengejar jadwal, Vhirel justru terduduk di kursi yang berderet panjang. Ia telah berada di posisi yang sama selama lebih dari tiga puluh menit. Punggungnya tegak, namun ada keletihan yang tersirat dari cara bahunya sedikit turun. Ia tidak bergerak, tidak juga menyesap kopi di genggamannya yang kini sudah habis total. Pandangannya terkunci lurus pada pintu otomatis di ujung lorong—gerbang yang terus berdesis terbuka dan tertutup, namun tak kunjung memuntahkan sosok yang ia cari.


Di tengah kebekuan posisinya, sebuah getaran pendek di saku celana jeans yang Vhirel kenakan memecah lamunannya. Getaran itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang mengembalikan kesadarannya ke realitas bandara yang bising.


​Vhirel menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat akan beban penantian selama setengah jam terakhir. Dengan gerakan yang agak kaku karena terlalu lama berdiam diri, ia merogoh saku celananya. Jemarinya yang panjang menarik keluar sebuah ponsel pintar dengan layar yang menyala terang. Di saat yang sama, ia menarik ikon hijau ke atas dan menempelkan benda tipisnya itu ke daun telinga.


"Halo, Ma?" Lirih Vhirel.


"Gimana, Vhirel? Adik kamu sudah datang?"


Lelaki berkulit sawo matang itu menghembuskan napasnya gusar sambil menatap jam di lengannya. Jarum pendeknya kini nyaris berpindah ke angka enam. "Ma. Kalau Dea udah pulang... aku mungkin udah dari tadi per—"


"Kak Vhirel!"


Suara itu membuat Vhirel urung melanjutkan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, di mana seorang gadis tampak berlari kecil menghampirinya dengan napas terengah dan ransel yang melorot di salah satu bahu. Sementara, sebelah lengannya menggusur koper besar dibelakangnya.


Mula-mula, Vhirel beranjak dari kursinya. Matanya menyipit, memperhatikan sosok yang baru saja muncul dari balik pintu setelah kilat "lima menit" yang ia berikan.


​Rasa jengkel yang tadi memenuhi dadanya perlahan surut, digantikan oleh decak kagum yang ia sembunyikan rapat-rapat. Andrea. Gadis kecil yang biasanya hanya ia lihat dalam balutan seragam sekolah yang berantakan, piyama tidur bergambar kartun, atau kaus oblong rumahan yang kebesaran, kini bertransformasi sepenuhnya.


Vhirel sempat mematung sejenak, kunci motor di genggamannya berhenti berputar. Ada denyut kebanggaan sekaligus rasa protektif yang mendadak muncul melihat adiknya tumbuh secepat itu.


Lihat selengkapnya