CINTA PERTAMA ANDREA

essa amalia khairina
Chapter #3

KEMBALI BERKUMPUL

Raungan mesin motor sport milik Vhirel akhirnya mereda, berganti hening saat standar motor diturunkan apik di pelataran rumah. Begitu mesin mati, Dea langsung melompat turun, bahkan sebelum Vhirel sempat melepas helmnya dengan sempurna.


​"MAMAAAAAA! PAPAAAAAA!"


​Suara melengking Dea memecah kesunyian malam itu. Di ambang pintu, Surya dan Maudi sudah berdiri tegak dengan senyum lebar, seolah memang sudah menanti kedatangan dua buah hati mereka. Tanpa aba-aba, Dea menghambur, menubruk kedua orang tuanya dengan pelukan erat yang penuh kerinduan.


Sementara itu, ​Vhirel mengekor di belakang. Ia berjalan santai sambil menenteng helm, memperhatikan adegan drama rindu di depannya dengan dahi yang berkerut jenaka.


​"Udah kali pelukannya, lama amat," Celetuk Vhirel, memecah suasana haru. "Kakak aja tadi nggak dipeluk selama itu."


​Surya tertawa renyah mendengar gerutu putra sulungnya. Ia melepaskan pelukan Dea lalu menepuk bahu Vhirel. "Gimana di jalan tadi? Aman semua?"


​"Aman, Pa. Cuma ya gitu, tadi sempat kena hujan gerimis dikit," Jawab Vhirel santai.


​Maudi menyenggol pelan lengan suaminya, menatap Vhirel dengan sisa kekhawatiran seorang ibu. "Tuh kan, Papa sih. Padahal Mama sudah bilang, suruh Vhirel pakai mobil aja biar nggak kehujanan."


​"Yah, biar sat-set sat-set dong, Ma..." Sahut Surya sambil memperagakan gerakan membelokkan setang motor dengan jenaka. "... Biar Papa cepat ketemu sama anak gadis kesayangan Papa ini."


​Surya mengakhiri kalimatnya dengan cubitan gemas di pipi Dea.


​"Ih, Papa sama saja kayak Kak Vhirel!" Protes Dea sambil merengek manja. Ia mengusap pipinya yang memerah. "Kenapa sih hobi banget nyubit Dea?"


​Vhirel yang sedang asyik memutar-mutar kunci motor di jarinya tiba-tiba berhenti. Ia lalu menatap adiknya lekat-lekat dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan.


​"Itu karena..." Vhirel menggantung kalimatnya, membuat Dea menoleh penasaran. "Kamu sadar nggak sih? Pipi kamu sekarang udah kayak bapau. Gendut!"


​Bibir Dea spontan membulat membentuk huruf 'O' sempurna. Matanya membelalak tak percaya.


​"Vhireeeeeel, jangan mulai deh," Tegur Maudi sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.


​"Lah, emang kenyataan kan, Ma? Gendut!" Seru Vhirel tanpa dosa. "Makan apa aja si di Amerika? Kebanyakan junk food, yaaaa? Bleeee!" Ia menjulurkan lidah mengejek sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam rumah.


​"Iiiih! Aku nggak gendut!" Teriak Dea kesal. Ia sempat melayangkan pukulan keras ke bahu kakaknya sebelum cowok itu menjauh. "Enggak juga sering makan junk food, kok!"


"Oh iya? Tapi kok gendut, ya?!"


"Vhireeeeel...." Tegur Maudi lagi, kali ini dengan suara setengah meninggi.


Namun Vhirel tak menggubris. Ia kemudian mencubit pipi Dea lalu berlari, melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Merasa kesal oleh tingkah sang kakak, Dea tak diam. Ia mengejar sang kakak menerobos tuang tamu menuju ke meja makan.


​Surya dan Maudi hanya bisa berdiri di teras, saling melempar pandang lalu tersenyum simpul melihat kelakuan kakak-beradik itu.

Lihat selengkapnya