2012, Ragunan. Tempat ini penuh sesak oleh para pengunjung. Bahkan terik mentari pun, tak mampu menyurutkan niat setiap orang memasuki pintu masuk gerbang area kebun binatang. Di kanan-kiri bahu jalan, nampak para penjual beraneka macam jajanan. Mulai dari makanan berat-ringan, pernak-pernik suvenir, bermacam busana lelaki dan perempuan, sampai dengan perkakas bangunan. Klakson pengemudi kendaraan juga nyaring terdengar di ruas jalan. Hanya sedikit celah bagi pejalan kaki dapat mengayunkan langkah. Udara panas bercampur debu dan asap knalpot kendaraan, mendesak masuk ke pernapasan tiap orang.
Di sudut menuju pintu masuk utama, tampak pemuda dengan pakaian kasual berwarna kalem. Pemuda itu tidak lain adalah Arman. Umurnya memasuki 25 tahun. Ia tengah duduk bersama ketiga orang temannya yang bernama Jay, Tama, dan Wahid. Mereka menanti informasi yang dapat memberikan akses masuk gratis ke dalam tempat wisata kota ini.
Arman lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Tidak ada gelar bangsawan maupun darah ningrat yang mampir dalam diri Arman. Banyak orang bilang, wajahnya serupa dengan bintang film ternama. Tapi ia tak terlalu memikirkan pendapat banyak orang. Arman tipe pemuda yang penuh ambisi meraih kesuksesan masa depannya. Sifat itu di warisi dari sang Papa. Beliaulah yang menjadi motor utama penggerak Arman untuk dapat menggapai semua cita-citanya pada bidang kesenian.
Papa Arman merupakan pensiunan dari perusahaan swasta. Sementara Mama, sepenuhnya menghabiskan waktu di rumah, memberi pengabdian penuh sebagai ibu rumah tangga yang baik bagi anak-anaknya. Meskipun Papa hanya seorang pensiunan, berbagai pengalaman hidup banyak dirasakannya. Asam-manis kehidupan dilaluinya. Selagi muda, dia bekerja sebagai seorang pelaut.
Menurut Arman, Papa seorang lelaki sejati. Ia tak seperti kebanyakan orang tua lain. Dia tak pernah memaksa menekuni profesi sesuai dengan bidang yang dikehendakinya. Ia hanya ingin anaknya menjadi lebih baik daripada dirinya sendiri, dalam bidang apapun, dalam pengalaman dimana pun, dan dalam segi keterampilan apa saja. Sisi lain yang paling membanggakan Arman adalah sampai sekarang Papa dan Mama masih tetap saling mencintai. Tidak ada perpisahan, apalagi sampai terjadi perceraian.
Kedua orang tua Arman sering memberi nasehat, bahwa sebesar apapun pertengkaran di dalam menjalankan bahtera rumah tangga, pernikahan harus tetap diselamatkan. Menikah hanya untuk satu kali seumur hidup.
Prinsip demokrasi yang tertanam itu, menjadi modal kuat Arman meraih cita-citanya di bidang kesenian. Sejak keluar dari sekolah menengah umum, ia melanjutkan kuliah di institusi seni. Karena menekuni bidang itu, Arman kemudian akrab dengan beragam corak kesenian, dan terlihat bersemangat menjalankan pekerjaan yang ditekuninya.
Arman tak peduli pandangan setiap orang bahwa pekerjaan di bidang seni sangat dekat dengan kemiskinan. Kebanyakan orang beranggapan, menjadi seniman tak akan menjamin masa depan lebih baik. Mereka kerap mencibir Arman, agar mencari kerja tetap, dapatkan uang banyak, memperoleh jabatan, menikah, pindah ke rumah mewah, menikmati pesangon dan setelah itu wafat dengan damai. Bahkan beberapa orang ada yang menyatakan, “Kalau mau cepat kaya, ya harus korupsi! Toh, korupsi itu kan gak mempersekutukan Allah. Pada saat kita nantinya sudah kaya, baru tobatan nasuha. Ngono wae kok repot!”
Arman tidak ambil pusing semua itu. Dia percaya, proses kerja yang benar akan menuai hasil sukses yang nyata. Seluruh asa serta kerja keras Arman tercurah di dunia kesenian, khususnya bidang seni pertunjukan. Dari bidang itu juga dia bertemu dengan ketiga orang temannya. Bersama mereka, Arman bekerja lepas sebagai seorang pemain pantomim di acara yang di buat salah satu lembaga swadaya masyarakat.
Satu jam terlewati, belum ada panggilan yang mempersilahkan masuk untuk mengikuti rangkaian acara. Kebosanan mulai menggelayut di pikiran masing-masing. Tama disibukkan aktivitasnya berlatih peran pantomim bersama dengan Arman. Keduanya tengah berlatih moon walk ala Michael Jackson, pantomim ala Charlie Chaplin, pantomim patah-patah, serta beragam latihan imajinasi bebas lainnya. Jay terlihat asyik menggodai perempuan yang berjalan menuju ke kasir tiket.
Sesekali pemuda berambut kribo itu melancarkan rayuan maut lewat cara andalannya; berdehem dan bersiul. Tentu saja hal itu tidak akan mendapatkan respon balik yang baik dari perempuan incarannya. Sementara itu, Wahid justru nampak gelisah. Berkali-kali dilontarkan pertanyaan ke Jay, kapan segera tampil? Sayangnya Jay sibuk dengan pikirannya yang terlalu serius mengamati perempuan-perempuan yang dilihatnya.
Beberapa saat berselang, penantian berahkir dengan adanya getar ponsel di saku celana jeans, Jay. Sebaris pesan singkat yang menjelaskan lokasi acara. Jay menatap jeli, takut-takut kalau proyek ini akan gagal. Karena akibatnya, sudah pasti Jay akan jadi sasaran empuk untuk disalahkan.
“Acaranya ada di rumah panggung pas di pinggir jalan. Dari pintu masuk, langsung lurus. Nanti kelihatan ada spanduk besar di sana. Waktu mau masuk, bilang buat pengisi acara, “Perjuangkan,”. Setelah dari sana langsung jalan terus. Ingat, jangan kemana-mana lagi!” Jay lantas memberi kode pada semua, melalui anggukan di kepala. Mereka pun bergegas ke tempat yang dimaksud.
Kurang dari lima menit, semua berhasil masuk area kebun binatang. Pemandangan di dalam tak ubahnya seperti yang terlihat di luar. Ada beberapa cabang jalan yang membawa para pengunjung menikmati beraneka ragam kandang satwa liar. Tapi terbatasnya waktu, tak memungkinkan sekedar melihat seisi kebun binatang.
Semakin menjurus ke dalam, makin terlihat pepohonan sejauh mata memandang, tanpa ada batas yang menghalangi. Di sekeliling, banyak terdapat pohon yang sudah tua. Akar-akar kokohnya terjulur kuat hingga menembus beton jalan. Daun serta rantingnya yang mengembang, berfungsi sebagai payung penyejuk dari sengat panas mentari.
Dari jauh pandangan samar-samar menangkap spanduk panjang yang tergantung diantara dua buah pohon besar. Sebuah rumah panggung yang berada disisi kanan jalan, kini sudah tertangkap oleh sepasang mata. Beberapa bagian arsitekturnya terbuat dari kayu. Udara dapat leluasa masuk dan keluar mengisi bangunan tersebut.
Desainnya dirancang tanpa bagian tembok kiri dan kanan yang dapat memisahkan luar ruangan dan isi dalam rumah. Orang-orang yang terlibat sebagai panitia maupun pengisi acara menghias seisi rumah panggung. Mereka tampak sibuk dengan berbagai kegiatan. Ada yang menangani perlengkapan acara, dan ada yang bersenda gurau satu dengan lainnya. Garis besar yang diinginkan mengangkat isu bermacam masalah yang melanda bangsa Indonesia, kemiskinan, pendidikan, kelestarian hutan serta bencana alam yang makin marak terjadi di tiap daerah.
Persis di depan rumah, kerumunan orang berpakaian kaus putih bertuliskan, “Perjuangkan”, sedang membagikan kertas selebaran ke para pengunjung. Semua pengurus mengambil spot masing-masing.
Diantara mereka, Arman terpanah dengan sosok gadis muda. Gadis itu sangat berbeda dari perempuan lainnya. Ia cantik, periang serta selalu menebarkan senyum manis ke semua pengunjung yang menghampirinya.
Pesona yang melekat di wajah keturunan timur tengah, membuat mata para lelaki tak berkedip tatkala bertatapan dengannya. Rambut hitam lebat bergelombang, menambah daya pikatnya. Pandangan Arman tak sedikit pun berpaling jauh darinya. Dimana ia berada, selalu diperhatikan detil gerak-geriknya. Bahkan sempat beberapa kali, keduanya saling beradu pandang.
Rupanya bukan hanya Arman yang sedari tadi mengamati perempuan itu, ternyata Jay dan Wahid juga melakukan hal yang sama. Namun tidak demikian halnya dengan Tama, ia terlalu asik dalam alam pikirannya sendiri. Dia tipikal pemuda yang cuek ke setiap perempuan. Sekali pun berhadapan seribu orang perempuan cantik, hatinya tetap beku berada di dekatnya. Arman, Jay dan Wahid sering kali mendoakan Tama. Semoga saja menjadi lelaki tulen pada umumnya.