Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #2

Bab 2

Hari berikutnya, kenangan pertemuan dengan Diba perlahan beralih dengan padatnya jadwal kuliah. Arman berpacu dengan materi perkuliahan. Dia tenggelam dengan rutinitas seperti biasa. Kampus perkuliahan siap menyambut dengan senyuman penuh misteri. Banyak seniman-seniman sukses dan besar yang terlahir disana.


Di kampus itu, Arman dekat dengan Jay, Wahid dan Tama. Status Arman dan Jay adalah teman seangkatan, sementara Tama dan Wahid adalah adik kelas. Kemana dan dimanapun, mereka selalu bersama. Jika tidak ada mata kuliah, biasanya mereka menghabiskan waktu luang di dalam masjid.


Cita-cita merupakan topik utama yang tak habis dibicarakan. Terlebih mengingat perkuliahan yang tersisa satu semester lagi. Menyelesaikan kuliah adalah yang paling penting. Arman tak ingin membuang kesempatan untuk pengorbanan yang banyak diberikan oleh Papa dan Mama.


Di depan ruang kelas, Arman siap menerima ujian akhir semester. Bangku-bangku berjejer rapih, antara satu dengan lainnya. Letak bangku di beri jarak sedikit rengang, hingga membuat siswa dapat mengerjakan ujian tanpa contek-mencontek. Semester ini merupakan semester penutup, pun sekaligus semester dengan mata kuliah terpadat.

Arman memang harus mengulang beberapa mata kuliah dan semuanya menumpuk di semester akhir. Ia di tuntut belajar ekstra keras.


Dari tas ransel, dikeluarkan semua buku bacaan berikut sejumlah makalah perkuliahan yang menjadi bahan ujian. Tak makan banyak waktu, dia larut pada makalah yang di baca.


Seseorang petugas membuka ruang kelas, Arman bergegas menempati deretan bangku kosong. Ia memilih baris paling depan. Tepat di sebelah Arman, duduk seorang mahasiswi yang setingkat dengannya.


Mahasiswi itu bernama Kyla. Garis serta lekuk di wajahnya, menyiratkan gadis itu berasal dari tanah Pasundan. Tubuh yang dimilikinya aduhai, selalu menyegarkan pandangan mata. Entah darimana asal mulanya, teman-teman biasa memanggilnya dengan julukan,”LOLA,” kepanjangan dari loading lama. Julukan yang dirasa sangat tidak pantas untuk gadis secantik Kyla.


Selang beberapa menit, Dosen mata kuliah bahasa Inggris masuk. Kedua belah tangannya nampak sibuk, mengapit empat buah map cokelat berisi lembar soal dan lembar jawaban ujian.

Dosen yang biasa di sapa Pak Ridwan itu, berdiri persis di depan Arman. Kemudian ia membuka map melalui ujung mata pena yang diambil dari balik kantong baju. Dibagikan lembar itu secara estafet. Arman mengambil selembar, lalu sisanya di angsur ke belakang. Dalam sekejap, semua peserta ujian sudah memegang semua lembar soal dan kertas untuk menulis jawaban. Kelas yang tadinya riuh dengan suara-suara, berubah hening seketika.


Lihat selengkapnya