Semilir angin berhembus, dedaunan jatuh berguguran. Warna langit cerah, tanpa awan hitam disekelilingnya. Sang surya siap berlabuh diantara cerahnya langit. Kala itu, Arman duduk sendiri di kantin kampus. Dia menikmati kerinduan pada sosok Diba. Kecantikan alami tanpa polesan yang membuat tiap lelaki memujanya.
Semakin lama, lamunan makin menghanyutkan pikiran. Khayalannya lantas terbelah menjadi dua bayang-bayang buram tak berbentuk. Bayangan pertama, bagaimana jika menyatakan perasaannya ke Diba. Kedua mencetuskan, apakah gadis itu sudah memiliki kekasih atau belum. Arman merenung, mencari jawaban atas pergumulan tersebut. Akhirnya ia bulatkan tekad untuk mengambil tindakan. Sebab selamanya akan tetap menjadi keputusan, jika tak ada yang membuatnya bergerak.
“Jay! Lagi ada dimana? Kenapa hari ini tidak kelihatan di kampus?” suara Arman panggilan telepon.
“Lagi di rumah aja. Rasanya males banget ke kampus hari ini.” Jay berhenti sejenak kemudian melanjutkan,
“Sepertinya, sudah ada niat buat berhenti dari kuliah. Yah, panjanglah itu ceritanya!”
“Berhenti? Waduh jangan dulu dong, bro! Bagaimana kalau kita ketemuan sekarang di kosan Wahid? Sekalian cerita-cerita. Bisa kan, Jay? Tapi nanti kasih tahu dimana kosan Wahid, lewat SMS aja.”
“Ya sudah, nanti di SMS patokannya ada dimana. Kita ketemuan di tempat Wahid sore ini yah.”
Begitu saling mengakhiri pembicaraan, Arman langsung merapikan barang-barang miliknya. Ia bergegas menuju kosan Wahid. Buku-buku segera dimasukkan tak beraturan ke dalam ransel. Lalu diambil kunci sepeda motor dan membayar lunas makanan yang dihabiskan tadi.
Tanpa lama berpikir, Arman segera mendatangi rumah Diba.
Rumah petakan dengan luas terbatas serta tata bangunan yang saling tumpang tindih makin tergambar jelas dihadapan Arman.
Di sisi kiri terdapat sungai yang mengalir, dan sebuah jembatan penghubung ke perkampungan lain. Sedangkan jika melihat ke sisi sebelah kanan, berjejer rumah-rumah petak yang berhimpitan.
Rasa letih mengendarai sepeda motor terbayar lunas dengan harapan bertemu Diba. Tak sedikit pun ada keinginan untuk menyurutkan ke tempat tujuan. Arman lalui gang-gang sempit. Begitu mendapat tempat parkir motor sesuai keinginan, dia langsung mengatur kendaraannya serapih mungkin. Semua harus dilakukan, mengingat lahannya sangat sempit.
Dalam beberapa langkah, Arman tiba di depan rumah. Di halaman rumah nampak beberapa pot tanaman, sebuah alas kaki, serta beberapa pasang sepatu dan sendal. Disana juga bisa ditemukan ada tali tambang yang berfungsi sebagai jemuran, beberapa kursi kayu serta sebuah meja kecil.
Rumah itu, bertingkat dua. Lantai atas dijadikan tempat kos-kosan, termasuk kamar Wahid. Sedangkan lantai bawah merupakan tempat tinggal keluarga Diba.
Tanpa tunggu lama, langkahnya genap berada di depan pintu. Sebagaimana seorang muslim umumnya, tak luput Arman mengucapkan salam pembuka.
“Assalamu’allaikum!” seru Arman dari balik pagar.
“Wa’alaikumsallam.” sahut si empunya rumah. Logat suaranya terdengar sedikit cempreng, berbaur aksen Betawi.
“Permisi, Bu. Wahid ada?” sahut Arman sopan ke sosok ibu yang memiliki garis wajah khas timur tengah.
“Ada. Masuk aja. Di atas kelihatannya juga lagi rame tuh! Banyak teman-temannya Wahid yang pada kumpul-kumpul.”
Arman mendongak ke atas, dan segera memasang ancang-ancang menaikki tangga. Akan tetapi, baru saja menginjak anak tangga pertama, Diba melintas menuju ke belakang rumahnya.
Gadis itu berhenti, ketika melihat kedatangan Arman. Melalui celah pintu rumah yang sedikit terbuka, keduanya saling menatap. Pesona kecantikannya, serasa embun pagi yang menentramkan kalbu.
Arman menyapa lewat senyuman yang terbaik. Diba berikan balasan yang menggoda. Seketika kedua insan manusia larut dalam buaian pandangannya.
Namun sayang, kejadian itu tak berlangsung lama. Sosok ibu tua tadi, menghentikan jalinan komunikasi tanpa bahasa. Dia lantas memanggil Wahid dari tempatnya berdiri.
“Hid! Wahid! Ada tamunya, nih!”
“Iya, Ummi! Wahid segera turun!” jawab pemuda itu.
Sebelum kedatangan Wahid, Arman berinisiatif naik ke titian anak tangga penghubung lantai atas dan bawah.
Desain tangga itu berbentuk spiral, dengan keseluruhan bahan dasar terbuat dari kayu yang sudah termakan usia. Terletak persis di pojok, depan pekarangan rumah Diba. Agar tetap aman ketika melangkah, Arman memilih berpegangan ke siku penyanggah, menatap seluruh titian anak tangga berikutnya. Pada waktu itu, tanpa di duga-duga..