Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #4

Bab 4

Dari balik kamar, Diba keluar lalu menjawab panggilan itu. Begitu melirik dari balik pintu, ia temukan kedua pemuda sedang memandanginya.

Wajah yang cerah, berkilau, membuat Jay dan Arman, makin terpesona. Semerbak aroma tubuhnya, serasa merasup di sekujur tubuh. Jay menyapanya lewat senyuman menggoda. Sementara Arman diam-diam memperhatikan seisi rumah.


Ada tiga pintu yang agaknya menuju kamar tidur dan satu kamar mandi yang letaknya di sudut belakang rumah. Samar-samar Arman melihat ada ruang kosong yang menjadi tempat untuk menyimpan barang-barang bekas pakai.

Dapur rumah Diba, letaknya berhadapan dengan kamar mandi. Barang-barang seperti, satu set meja-kursi, almari pajangan, vas bunga dan televisi tabung, tampak menghias di sekitar ruang tengah. Terpampang juga bingkai kaligrafi bernafas Islam yang menjadi simbol kepercayaan si pemilik rumah.


“Diba cantik lagi apa? Bang Jay mau ngomong nih. Ada waktu gak?”seringai Jay, puas.


“Hmm.. Waktu? Tunggu sebentar, Diba lihat jadwal dulu yah.” sahut Diba dengan tutur katanya yang berbaur logat Betawi.


“Masa harus lihat jadwal sih.. Kayak pejabat ajah.”


“Habis Kak Jay aneh.. Tiba-tiba datang nanyain waktu. Memangnya ada apa?”


“Man.. Ngapain sih ngebuntutin? Sudah naik ke atas lagi sana!” bisik Jay ke Arman.


“Ingat! Persaingan bebas, sebelum ada janur kuning. Diba masih milik bersama!” cerocos Arman menanggapi perkataan Jay.


“Loh kok Diba malah di cuekin. Masuk lagi ya?”


“Gini Neng Diba yang cantik! Bang Jay mau ngajak nonton video dokumentasi acara kemarin. Itu kalau gak sibuk! Gimana?” goda Jay cengar-cengir tak karuan.


“Kapan memangnya, kak? Terus dimana nontonnya?”


“Diba bisanya kapan? Besok bisa? Nontonnya dimana ya.., terserah sama Neng Diba! Mau kan nonton bareng sama Bang Jay?”

“Kasih tahu aja kapan waktunya.”


“Jay.. Itu!” tutur Arman ke Jay yang masih terlena memandang paras cantik Diba. Pemuda kribo itu masih belum juga menyadari. Ia malah mengusap telapak tangannya, ke arah rambut. Sementara Diba yang melihat, malah tersenyum geli lantas menegurnya.


“Kak. Aduh, pulpennya bocor itu! Lihat tuh berantakan kemana-mana deh.” Tatapannya menjurus dalam ke dalam pandangan Diba. Tapi pandangan itu lekas di tepis oleh Diba.


Tanpa di sengaja, tangan Jay yang gugup memainkan pulpen yang sedari tadi dipegangnya. Sampai mata pulpen itu copot, lantas mengeluarkan isi. Mulanya jemari tangan yang terkena noda tinta, lama-lama mengenai sekitar wajah.


“Waduh jadi celemotan. Man, kok gak bilang-bilang sih!” Jay kaget sekaligus malu. Ia berbalik pergi, mencuci muka. Sambil naik ke anak tangga, Jay berseru ke Arman.


“Man! Temenin naik ke atas dong!”


“Sendiri aja kan bisa, Jay! Masa gitu aja harus di temani.”


“Awas ya sampai diapa-apain! Jagain lho!” desak Jay ke Arman.


“Memangnya mau diapain sih, Jay! Udah gak usah berisik, cepetan tuh bersihin muka!” balas Arman sambil bergurau. Jay tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bersungut-sungut menjauh. Arman dan Diba tertawa geli melihat tingkah polah si kribo. Saat melihat senyuman itu, Arman bagai terhipnotis.


Lihat selengkapnya