Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #5

Bab 5

Dari tangga, nyaring suara Jay kembali terdengar. Si kribo rupanya masih tetap panik dengan raut wajahnya yang penuh tinta. Tama justru membuat guyonan untuk Jay yang masih dirundung duka. Diambil kemoceng yang tergantung di tembok, lalu diam-diam Tama sapukan benda itu seolah ingin membersihkan wajah Jay.

“Nah…, kalau dibersihin pakai ini, jadi gak akan kelihatan lagi tintanya.” Jay terkejut, langsung menghardik.

“Masa bersihin muka pakai kemoceng. Kurang asem!!” gerutu Jay. Pemuda itu membalas dengan memiting tubuh Tama, hingga akhirnya terjepit. Jay lalu menggelitiki badan Tama sampai membuatnya menggeliat kegelian.

“Ampun! Aduh, aduh berhenti., tolong, tolong, Man!“ rintih Tama antara tertawa dan memelas.

Suasana tenang di ruangan itu, berubah gaduh karena kelakuan Tama dan Jay.” Wahid yang melihat adegan itu, cepat memberi peringatan agar mereka berhenti.

“Jay.. Katanya mau cerita, kenapa harus keluar dari kuliah? Ayo dong, ceritain ke kita-kita.” ungkap Arman pada Jay. Suasana berubah sunyi-senyap.

“Masalah itu.., duh, bingung juga harus mulai ngomongnya dari mana. Tapi yang pasti, mulai semester depan.., mau gak mau, kita gak akan bisa kumpul bersama lagi. Keputusan ini sudah matang, Man.” balas Jay dengan suaranya yang parau.

Pemuda berambut kribo itu akhirnya bercerita panjang lebar tentang kegundahannya, sebab-mengapa melepas studinya.

“Apa yang bisa kita bantu?” tutur Tama begitu Jay selesai bicara.

“Tidak ada. Keputusan ini sudah direnungkan sejak lama.” sambar Jay tertunduk lesu.

Iring-iringan awan tampak menyebar, menutup keindahan pendar-pendar bintang di langit. Gerimis hujan mulai membasahi bumi. Gelegar kilatan petir saling bersahutan, laksana para penyair yang saling beradu rima. Di kamar, Arman tampak serius ketika membaca tuntas naskah drama teater, “Malam Jahanam, karangan Motinggo Busye”.

Arman wajib membuat sebuah karya pertunjukan untuk di pertontonkan pada khalayak ramai, untuk menyelesaikan tugas akhir. Karena itu, sebanyak mungkin naskah drama teater, harus selesai di baca. Menyelesaikan tugas akhir perkuliahan memang bukan suatu perkara yang mudah. Selain biaya produksi yang mahal, Arman dituntut membuat tim produksi sendiri. Kendati demikian, seluruh rintangan harus di lalui demi menyelesaikan perkuliahan.

Rasa kantuk mulai mengayun kedua pelupuk matanya. Jam dinding masih menunjukan pukul delapan dan masih tersisa tiga lembar halaman terahkir untuk di baca, tapi Arman sudah tak kuat lagi. Sebelum rasa kantuk mulai merambat di sekujur tubuh, pemuda itu bergegas bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar untuk menunaikan shalat isya.

Setelah berada di ruang keluarga, samar-samar Arman menangkap suara diskusi kedua orang tuanya. Rasa ingin tahu membuat ingin mendekat ke sumber suara. Ditempelkan gendang telinga merapat ke tembok.

“Terus kuliah Arman bagaimana? Kan tanggung kalau sampai terputus ditengah jalan. Padahal hanya tinggal ujian akhir!”

“Habis mau bagaimana lagi! Kita memang udah tidak punya uang untuk biaya tugas akhir Arman! Apa kita harus jual ini rumah?” sahut Papa terdengar putus asa.

“Bagaimana.., kalau kita pinjam uang sama Uwak Pian. Siapa tahu dia bisa membantu kita. Lagi pula, Ening juga butuh buat bayar uang kuliah. Belum lagi bayar kosannya yang di Bandung.”

“Nanti kita bayar gantinya pakai apa? Kita benar-benar nggak punya apa-apa lagi.” Begitu pasrah Papa menyampaikan penjelasannya.

“InsyaAllah, kita bisa pinjam dari dia! Masalah gantinya itu urusan belakangan. Kita harus mengutamakan kuliah anak-anak selesai dulu. Siapa tahu saja nanti kita dapat rezeki untuk menggantikan uang yang sudah di pinjam!” jawab Mama tanpa ragu, guna meyakinkan hati suami tercinta.

“Memang betul… InsyaAllah akan ada rezeki buat menggantikan pinjaman itu. Yah, paling tidak kita bisa mencicil. Sebagai jaminannya, kita bawa saja sertifikat tanah dan rumah ini. Apapun akan kita lakukan demi pendidikan. Kapan kita kesana?”

“Besok siang? Tapi sebelum ke sana, ada baiknya kita hubungi dulu orangnya.” timpal Mama.

“Besok juga tidak apa-apa. Sehabis shalat dzuhur kita berangkat ke Bogor,”

“Nanti biar di telepon dulu orangnya. Jangan sampai kita susah payah kesana.., eh, orangnya sedang tidak ada di tempat. Sekalian aku juga mau menawarkan baju muslim. Siapa tahu aja mereka mau ambil salah satu daganganku ini.” Arman secepatnya beranjak agar kedua orang tuanya tidak tahu

Selesai mengambil air wudhu, Arman berangkat untuk menenteramkan hatinya yang gundah gulana. Berita itu serasa menggetarkan setiap sendi-sendi tubuhnya. Ia takut semua perjuangannya dalam mendapatkan gelar sarjana hanya tinggal impian. Sajadah yang sedari tadi di pegang, lekas ia gelar pada lantai kamar.

Seraut wajah mulai diwarnai kekhusyukan. Tak terasa, air matanya mulai jatuh menetes kala memanjatkan doa di akhir shalat.

Siang itu, Arman selesai melakukan bimbingan dengan ketua jurusan perkuliahannya. Ia kini ingin mendapat informasi sebanyak mungkin tentang ujian akhirnya. Baru saja hendak beranjak, seketika dering ponsel di saku celana bergetar. Dalam sekejap, ia teringat pada janji untuk jalan dengan Diba. Buru-buru di rogoh saku celananya. Sebaris pesan singkat pada layar ponsel Arman tertera;

#Apa kita jadi jalan, Kak? Kalau jadi, jam berapa kita jalannya. Kakak bisa jemput Diba kan?#

Pesan singkat itu, tak cepat di jawab Arman. Ia ambil dompet di kantong belakang celananya, untuk melihat uang yang dimilikinya, cukup atau tidak jalan dengan Diba. Setiap lipatan dompet itu, diperhatikan teliti. Keraguan mulai menyergap di hati Arman. Khawatir dengan jumlah uang yang dimilikinya. Tetapi kekhawatitan itu terkalahkan oleh besarnya hasrat bertemu dengan Diba.

Lihat selengkapnya