Ciawi. Awan gelap masih menutup birunya langit. Aspal jalan tampak belum kering benar. Masih terdapat sisa-sisa genangan air di permukaan jalan. Angin gunung, udara lembab berkabut, dan semerbak wangi uap daun teh, makin menambah kesan romantis.
Sehabis menempuh perjalanan panjang yang banyak menguras tenaga, Arman dan Diba memutuskan beristirahat sebentar di warung kecil di kaki gunung.
Dagangan berupa umbi-umbian, air mineral, rokok berbagai merk, makanan ringan, dan berbagai kebutuhan lainnya masih tertata rapi di tempatnya masing-masing. Warung yang berdiri di atas tebing curam itu, lumayan membuat bulu kuduk berdiri.
Arman jelajahi seluruh ruangan yang membuat warung itu seolah tak berpenghuni. Diba sendiri tak sedikitpun sudi melepaskan ikatan jari jemari tangannya dengan Arman. Irama langkah kakinya tak berupaya mendahului Arman yang ada di depannya.
Mulanya Arman menyisir ke arah jejeran bangku-bangku plastik di dalam. Ia tak menemukan sosok si pemilik warung.
Kemudian Arman melongok ke bangunan lain di sebelahnya. Tetap tak ada seorang pun yang berhasil ditemukan. Lantas dikelilingi warung itu dari ujung ke ujung, tapi hasilnya tetap nihil. Dihempaskan napas panjang, tanda dari rasa kecewa karena tak bisa menemukan pemilik warung.
“Pak-Bu! Permisi!! Assalamu’allaikum.”
Tak ada jawaban yang menyahut. Diba dan Arman memutuskan menunggu sambil duduk di bangku kecil yang tersedia ditepian meja panjang, tempat pengunjung bisa duduk sambil menyeruput kopi.
Selang beberapa menit berlalu, sosok pria dan perempuan berusia lanjut, tiba-tiba menampakan dirinya dari balik tebalnya kabut. Keduanya terlihat memikul beban berat di punggungnya.
Pikulan itu tidak lain merupakan batang-batang kayu yang sudah di bungkus dengan kain hitam. Melalui cahaya keremangan kabut gunung, Arman dapat menangkap keberadaan kedua sosok tersebut. Diba juga ikut bereaksi terhadap kedatangan kedua orang tersebut.
“Kak, itu mungkin yang punya warung datang,” bisik Diba menandakan kegelisahannya. Arman segera beranjak mendekati kedua sosok sepuh itu.
“Pak, Bu, permisi, assalamu’allaikum.” sapa kembali Arman dengan sopan.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa, Jang ?” tanya si Kakek pada Arman, dengan irama bicaranya yang terdengar berat lagi serak. Nenek yang ada di tengah, memilih untuk berlalu pergi ke dalam warung kelontong miliknya. Membawa batang-batang kayu kepunyaannya.
“Saya ingin beli air mineral, Pak. Sekalian juga sama snack.” jelas Arman, lalu menoleh ke arah Diba.
“Kamu mau beli apa?”
“Diba mau beli ini saja,” sahutnya, mengambil beberapa bungkus makanan ringan.
“Sama sekalian teh kotak, deh.”
Arman segera membayar sejumlah makanan dan minuman yang mereka pilih. Sang kakek menerima uang itu, lantas kembali sibuk di bagian dalam warungnya.
“Kita isthirahat sebentar di sini ya.. Kakak benar-benar capek. Lagian juga masih jauh perjalanannya.” ujar Arman sambil duduk kembali di sebelah Diba.
“Ya udah. Tapi habis minum, kita langsung jalan lagi.” Diba regangkan tubuhnya yang kaku setelah beberapa jam berada di perjalanan.