Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #9

Bab 9

Saat Arman dan Diba tiba di ambang pintu rumah, Ummi sudah berdiri menanti, sambil menatap tajam pada keduanya. Sorot matanya tertuju ke arah Arman. Di dalam rumah, Abah yang sedari tadi duduk di kursi ruang tengah juga memberikan tatapan yang tak bersahabat. Arman tahu harus bertanggung jawab karena telah memulangkan Diba melebihi waktu yang ditentukan. Maka dari itu diputuskan untuk menghadapi apapun dampratan yang akan diterimanya. Toh dia memang berniat serius.


“Arman!” panggil Abah dari arah dalam.


“Iya, Bah. Assalamu’alaikum!” sahut Arman sambil mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya Arman bicara dengan abah Diba itu. Sosok paruh baya itu memiliki tatapan seperti elang yang tengah mencari mangsanya. Begitu dapat, ia akan cepat melumat habis si mangsa hidup-hidup.


Postur tubuhnya tinggi besar. Sekilas mirip dengan seorang perwira. Namun berdasarkan cerita yang pernah diutarakan Diba, Abah sama sekali tidak pernah menjadi prajurit.

Diba yang berdiri di samping Arman segera menjaga jarak, lantas pergi mengganti pakaian di kamar mandi. Setelahnya, di ambil posisi duduk berdekatan dengan Abah dan Ummi. Sementara Arman duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


“Dari mana kamu! Sampai pulang larut malam begini!” seru Abah gusar pada Diba dengan logat betawi kental. Perempuan itu memandang Arman, lantas memberi isyarat dari kedipan matanya.


“Tadi habis dari acara ulang tahun teman, Bah.. Karena hujan deras, di jalan kami neduh dulu Bah, Mi. Makanya kemalaman pulangnya. Saya minta maaf,” sahut Arman dengan ekspresi penyesalan.


“Kita bukannya melarang kalian pergi sampai malam, tapi kalau kelewat larut ‘kan nggak enak sama warga sini. Kalau nanti kamu dituduh yang enggak-enggak, gimana? Diba juga yang bakalan kena tumpu!”


“Iya Bah, saya betul-betul minta maaf. Tadinya kami sudah di jalan pulang, tapi mendadak hujan turun deras. Dibanya kasihan kalau basah-basahan di jalan, nanti malah sakit.”


“Iya, Abah, Ummi. Diba rencananya juga pulang cepat. Tapi gak jadi, soalnya hujannya gede banget.”


“Ini buat peringatan ke kalian berdua. Besok-besok jangan sampai pulang malam lagi. Abah gak enak hati sama warga di sini. Arman juga ngga mau kan kalau nanti dicurigai sama warga sini.”


“Ya sudah kamu pulang. Nanti kemalaman sampai rumah. Hati-hati di jalan,” pesan Abah. Ummi masih menatapnya sengit.


“Kak, nanti sampai rumah langsung kabari ya,” pesan Diba saat Arman melangkah keluar dari rumah itu. Ia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.


Sembari melangkah, sesekali menoleh ke arah rumah Diba. Di balik kaca jendela kamarnya, Diba melihat jelas kepergian Arman, sementara pemuda itu terus melangkah menuju tempatnya memarkir motor hingga sosoknya menghilang ditelan gelapnya malam.

Hari-hari penuh kasih di jalani Arman dan Diba. Keduanya kerap kali mengunjungi tempat-tempat wisata. Menghabiskan hari libur berdua dengan pujaan hati. Seperti halnya muda-mudi ketika merajut jalinan asmara. Tetapi sangat disayangkan, Arman dan Diba telah melampaui batas kewajaran, sewaktu mengisi kebersamaan. Kedua telah menikmati kenikmatan sesaat. Kenikmatan yang membuahkan hasil pada benih-benih cinta.

Hari berikutnya, tepat di awal minggu. Arman beranggapan bahwa Senin adalah hari yang menjengkelkan. Hari di mana rutinitas mingguan di mulai kembali setelah liburan singkat di akhir pekan. Bisa saja semua orang juga sependapar dengan pikiran Arman.

Berkutat dengan segala pekerjaan atau tugas yang terkadang membuat jenuh dan penat. Mungkin itulah yang dirasakan oleh banyak orang, tapi tidak demikian dengan Arman. Baginya, setiap hari adalah sama.


Para pekerja outsourcing bekerja untuk meringankan tugas-tugas para pekerja yang permanen. Bila hasil kerja mereka bagus, promosi dan penghargaan sudah pasti diberikan untuk para itu, sementara jerih payah mereka nyaris tak dianggap. Tapi itulah resiko menjadi pekerja outsourcing, “Kalau suka, silakan ikuti aturan dan teruslah bekerja. Kalau tidak suka, silahkan cari tempat yang lebih baik.”


Suatu waktu, Arman pernah melakukan iseng-iseng melakukan survey amatir. Ia menggali informasi, mengapa para outsourcing tidak ingin mencari pekerjaan selain di tempatnya bekerja? Sebagian dari korespondennya menjawab dengan kalimat serupa, “Daripada tidak kerja, daripada anak dan istri terlantar.” Bagi Arman, situasi itu tak ubahnya seperti jaman penjajahan. Bedanya, penjajah modern ini tak lagi menantang berperang satu lawan satu, tapi berkedok sebagai penonton yang sedang melihat jalannya peperangan.


Di perusahaan tempat Arman bekerja, ada beberapa golongan jabatan yang bisa dikategorikan sebagai pekerja outsourcing. Untuk mereka, tak ada jenjang karir, tak ada tunjangan hari tua, pesangon dan juga tidak tersedia wadah untuk meningkatkan kemahiran. Uang gaji bulanan yang di dapat hanya untuk gali lubang-tutup lubang.


Pemerintah memang sudah berlaku manusiawi dengan menaikkan gaji pekerja outsourcing, tapi beberapa bulan kemudian harga BBM juga meningkat tajam. Alhasil kondisi itu tak bisa disebut berpihak juga.


Arman coba menerka amatiran tentang sebab-musabab keberadaan karyawan outsourcing. Eksistensi buruh tidak lain hanyalah perwujudan hasrat balas dendam dari kaum intelektual.

Dapat dibayangkan, jika semasa sekolah dulu ada satu orang juara kelas yang setiap waktunya diisi dengan belajar hingga ia menarik diri dari lingkungan sosial, tapi justru dianggap sebagai ”musuh bersama” oleh mereka yang nilainya pas-pasan tapi pandai bersosialisasi.


Saat sang juara kelas tersebut berhasil mendapat posisi jabatan strategis dan mapan, ia lampiaskan dendam masa lalunya dengan cara mengelompokkan manusia pada kasta menurutnya masing-masing.

Mereka yang tak memiliki kepandaian ataupun harta berlimpah, harus bekerja sebagai outsourcing. Diperbudak mereka yang berkuasa.


Kaum-kaum penuh dendam itulah yang akhirnya merong-rong negara dengan tindak korupsi, penipuan, penindasan terhadap rakyat kecil, dan sebagainya. Andai kaum intelektual itu memiliki ketebalan iman serta ketaqwaan pada Yang Kuasa, dapat dipastikan tidak akan pernah ada kesewenang-wenangan yang terjadi.

Mereka akan menciptakan keadilan di sertai dengan rasa kemanusiaan. Sayang, jumlah manusia yang berjiwa mulia itu hanya sebagian kecil saja.


Selepas mengikuti briefing pagi yang rutin dilakukan, Arman menyusun rencana kerjanya hari itu. Tugas utamanya sebagai staff administrasi di kantor ialah mengurus surat keluar dan mengantarkannya ke divisi lain. Ia berada di bawah jabatan sekretaris yang menjalankan perintah dari seorang manajer.

Arman masih bisa bersyukur memiliki lingkungan kerja yang nyaman.


Atasan Arman bernama Yanthi. Umurnya genap memasuki usia dua puluh delapan, tapi statusnya masih lajang. Meskipun demikian, ia memiliki karakter keibuan.

Tutur bahasanya lembut dan pembawaannya selalu tenang. Ketika menerima tekanan dari atasannya, Yanthi menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya dengan hati-hati. Tak panik serta tidak pula grasah-grusuh.


Arman bekerja sesuai dengan semua yang diperintahkan oleh perempuan itu. Bila sedang menjalankan dinas, atau tidak ada di ruangan kerjanya, Arman diharuskan untuk menjaga ruang kerja agar tetap dalam kondisi aman.

Lihat selengkapnya