Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #10

Bab 10

Taman kodok. Hari kian temaram, pertanda senja berganti malam. Gelapnya malam, terisi oleh terangnya cahaya lampu taman. Suasana di kisaran taman, masih ramai oleh beragam aktifitas.

Banyak anak muda mengisi aktifitasnya dengan bermain futsal, berkeliling menggunakan sepeda, memotret, berlatih break dance, dan ada juga yang asyik bercengkrama dengan pujaan hatinya.

Bagi yang sudah berusia lanjut, biasanya mereka datang untuk sekedar berwisata kuliner. Karena memang banyak suguhan makanan yang bisa memanjakan lidah.


Sejak tiba di taman itu, Diba tak mengeluarkan sepatah kata pun. Arman memutuskan untuk duduk di bangku taman, bermandikan cahaya remang-remang.

Suatu tempat yang sedikit privasi dan sengaja ditentukan. Di tempat itu pula, Arman berniat untuk mengutarakan keinginannya, tentang keseriusan serta masa depan hubungannya itu.

Di balik niat untuk mengungkapkan maksud tujuannya, Arman tak menyadari kalau kala itu raut wajah Diba tampak pucat pasi. Sekujur tubuhnya, mengeluarkan keringat dingin.


“Dik, kita sudah jalan genap empat tahun pacaran. Semua sudah pernah kita jalanin berdua.., kakak pingin suatu hari nanti memiliki kamu utuh. Kamu kepikiran gak kalau kita akan nikah? Kakak gak mau kalau kita terus menerus berlumur dosa. Mau Kakak, kita sama-sama kembali ke jalan yang di ridhoi Allah.” mendadak terdengar..


“Hoekhh...Hoekhh..”


Diba tumpahkan rasa mual yang ditahannya sedari tadi. Arman bergegas merebahkan wajah mungilnya ke bahu.


“Kamu kenapa.. Sakit? Kakak kan selalu bilang, meski sesibuk apapun kamu di tempat kerja, kamu harus selalu bisa sempatkan untuk makan. Badan kamu dingin.. Sudah kamu rebahkan wajah kamu di pundak kakak.” Aman raih keningnya.

“Diba mual, kak. Rasanya gak enak banget.” tutur Diba lemah.


“Kenapa kamu tidak coba untuk pergi ke Dokter! Atau kamu mau sekarang kita ke Dokter?”


“Diba takut sama Abah, Kak. Diba takut kalau terjadi kenapa-napa!” ujarnya dengan terbata-bata.


“Maksud kamu apa? Apapun yang terjadi, kakak akan selalu ada disamping kamu. Selalu menemani kamu setiap saat. Kamu inget kan, semua hal yang sudah kita jalani. Kita mampu kan lewati itu berdua?”


“Tapi orang tua Diba bagaimana, kak? Diba bakalan diusir dari rumah kalau memang nantinya terjadi juga.”


Arman masih tetap perhatikan omongan Diba dengan segenap perhatian. Ia kemudian memesan segelas teh hangat, guna meredam rasa mual yang di dera.

Lihat selengkapnya