Cinta Sampai Akhir Nanti

Pasya Firmansyah
Chapter #11

Bab 11

Mentari mulai beranjak naik ke atas kepala. Kumandang pemanggil shalat dzuhur mulai terdengar bertaut-tautan di setiap penjuru. Sejak merajut jalinan kasih dengan Diba, ibadah shalat lima waktu menjadi prioritas kedua baginya. Diba telah mencuri tempat yang istimewa dalam hati. Tapi hari itu, sebelum keberangkatan Arman dan Diba ke bidan.

Sepasang kaki Arman ingin sekali mampir sebentar ke sebuah langgar, guna menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim sejati. Begitu rindu hatinya pada shalat lima waktu yang telah lama diabaikannya.

“Kamu shalat yah?”

“Diba tunggu disini saja, Kak. Biar shalatnya nanti aja di rumah!” tutur Diba sambil pandangannya liar menatap kemana-mana.

“Memangnya kamu lagi tidak bisa shalat? Aneh, kok shalat kamu bilang nanti sih!” ucap Arman penuh rasa heran.

“Bawel ya, kakak! Kalau mau shalat, ya shalat saja sendiri!!” tegas Diba dengan nada bicaranya yang sudah terdengar jengkel.

“Ya sudah kalau kamu memang mau tunggu disini. Kakak tidak akan memaksa kamu.” Di akhir kata-katanya, Arman bergegas memasuki langgar.

Pemuda itu lekas mengambil wudhu dibelakang langgar. Selesai itu, ia pun segera bersujud dihadapan Allah yang Esa. Sampai rakaat terahkir, Arman shalat dalam keadaan sangat khusuk. Tak lupa ia panjatkan doa di akhir shalatnya.

Arman tak kuasa mengingat rentetan peristiwa maksiat yang sudah dilalui bersama dengan Diba. Derai air mata itu jatuh membasahi sajadahnya. Pikirannya terbayang setiap dosa yang diperbuatnya.

Dosa karena mengecewakan kedua orang tuanya, dan dosa karena mengisi hidupnya dengan perbuatan maksiat. Matanya yang di penuhi bulir air mata, pelan-pelan mulai membukakan katup penutupnya. Kedua bola mata itu lantas menyisir seisi langgar yang nampak kosong membisu.

Dunia seakan berputar-putar dalam benaknya. Hingga pandangannya terhenti pada sebuah tulisan kaligrafi yang tertanam di salah satu sudut dinding langgar . Ia menatap lekat ke arah kaligrafi berlafas-kan, “Allah,” Tulisan itu serasa menyalurkan energi untuk terus melangkah, menghadapi kenyataan yang harus di hadapi. Saat itu juga, ia bangkit dari sajadahnya, lalu menuju ke tempat Diba di luar langgar.

Di langgar, Diba menunggu kedatangan Arman. Mual yang di rasakannya tak bisa tertahankan lagi. Hingga ia pun meluapkan rasa mual yang dialaminya.

Bukan sari-sari makanan yang keluar dari mulutnya, melainkan air liur berwarna putih yang menggumpal kental. Arman melihat keadaan Diba dari jauh. Ia langsung ayunkan langkah seribu mendekati. Dalam sekejap, jari jemarinya lekas hinggap di pundak Diba.

“Kamu kakak kasih teh hangat yah?”

“Tidak perlu! Sudah cepetan jalan dong!!”

“Benar kamu tidak mau kakak kasih air putih atau teh hangat. Biar badan kamu itu bisa sedikit enakkan!” ujar Arman menenangkan emosi Diba.

“Cepetan jalan dong. Diba sudah tidak tahan lagi!” bentak Diba ke Arman yang berada di sampingnya.

Sepeda motor Arman melaju sesuai rencana. Ketika Arman mengemudikan motornya, Diba menyandarkan badannya, di pundak Arman. Tubuhnya terasa amat lesu dan letih. Ia juga tak banyak bergerak.

Sesekali perasaan mual itu datang, tapi Diba buru-buru menutupnya dengan kedua tangannya.

Kurang dari sepuluh menit, papan nama bertuliskan,”BIDAN LIANA,” sudah dalam jangkauan mata. Tempatnya tidak sebesar rumah sakit. Sebuah rumah tinggal yang dijadikan praktek kebidanan, serta diapit oleh rumah tinggal penduduk.

Ketika Arman sampai disana, tindak-tanduknya diliputi kewaspadaan penuh. Takut-takut kalau ada tetangga Diba atau teman kerja Arman melihat keberadaannya. Bukan hanya Arman yang memasang aksi penuh kewaspadaan, Diba juga melakukan hal yang serupa. Semua itu terjadi, sebab lokasi tempat praktek bidan Liana berada dalam satu wilayah dengan rumah Diba.

“Kita sudah sampai. Ayo, kamu yang kuat yah!!”

Lihat selengkapnya