Cinta Tanpa Kasta KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #1

Prolog #1 Kozmic Blues

Aku nggak tahu mimpi apa semalam.

Serius.

Karena nggak ingat sama sekali, apa aku menolong seorang nenek menyeberang jalan, atau mungkin aku menyelamatkan anak kucing yang tersangkut di pohon karena damkar ngga keburu datang, atau mungkin aku diam-diam keturunan sultan yang baru ditemukan. Pokoknya keturunan orang penting gitu.

Karena nggak ada penjelasan logis lain kenapa seorang Richard Revaldi, artis, penyanyi, aktor, model, idola sejuta umat, penghancur konsentrasi para gadis Indonesia, tiba-tiba duduk di kursi kosong tepat di sebelahku.

Padahal tadi aku cuma datang ke acara launching produk minuman karena dia tampil sebagai bintang tamu. Jujur saja aku datang bukan karena dia.

Sumpah.

Aku datang karena tiketnya gratis. Kalian tau kan gratis adalah bahasa cinta yang paling universal bagi mahasiswa, apalagi yang sepertiku yang serba pas-pasan.

Saat cewek-cewek lain berdesakan di depan panggung sambil membawa banner bertuliskan REVALDI MARRY ME, aku justru memilih duduk di belakang panggung sambil menikmati es teh gratis hasil nukar kupon itu.

Rasanya tenang, nggak ada drama, dan yang pasti nggak ada fangirling. Intinya nggak ada harapan ketemu artis.

Sampai seseorang duduk di sebelahku. Aku bahkan nggak langsung menoleh, sampai aroma parfum mahal mengganggu konsentrasiku.

Aku melirik, lalu membeku. Lalu melirik lagi, tapi malah bikin aku membeku lebih keras.

Richard Revaldi.

Sumpah ini asli, bernapas, punya denyut nadi, bukan manekin apalagi poster. Bukan juga video atau gambar editan AI.

Asli.

Sekarang dia malah sedang melihat ke arahku.

"Kenapa?" tanyanya.

Aku menelan ludah.

"Nggak."

"Kok kayak lihat hantu?"

Aku menunjuk wajahnya.

"Kamu."

Dia tertawa.

Aku semakin curiga ini mimpi, karena enggak mungkin manusia setampan itu tertawa di depanku. Biasanya manusia seperti itu hidup di layar ponsel dan iklan skincare.

Belum sempat aku sadar, seorang pria berkemeja hitam berlari mendekat, kelihatannya sih manajernya.

"Revaldi! Lima menit lagi tampil!"

"Aku tahu."

"Kalau tahu kenapa malah nongkrong di sini?"

Revaldi menunjuk ke arahku.

"Karena aku lagi ngobrol."

Manajernya menatapku, aku menatap balik karena kebingungan nggak tau masalahnya apa.

Dia menatap Revaldi lagi, lalu menghela napas panjang seperti orang yang baru menerima takdir hidup paling menyebalkan.

"Kapan lagi punya kesempatan duduk dekat cewek ini?" kata Revaldi santai.

Aku hampir tersedak.

Apa?

Cewek ini?

Aku, maksudnya?

Cewek yang bahkan datang ke acara dengan kaus oblong dan sepatu yang solnya mulai lepas cuma demi minuman gratisan?

Lihat selengkapnya