Ada satu masalah besar ketika seseorang terkenal diam-diam datang ke kampusmu. Masalahnya karena dia terlalu terkenal untuk datang diam-diam sekalipun menyamar. Dan sialnya, aku baru menyadari efeknya keesokan harinya setelah kejadian itu.
Pukul sembilan pagi, aku sedang berjalan menuju gedung fakultas ketika ponselku bergetar.
Revaldi. Nama itu yang muncul di layar.
Sejak kapan sih manusia ini bangun lebih pagi daripada mahasiswa?
Aku membuka pesannya.
"Aku lapar."
Aku membalas.
"Terus?"
"Belikan sarapan."
Aku hampir tersandung.
"Emangnya aku pembantu?"
"Tapi kamu baik."
"Nggak."
"Ve."
"Nggak."
"Ve."
"Nggak."
"Ve."
"Kenapa sih?"
"Lihat ke kanan."
Aku mengernyit, lalu menoleh, dan hampir mati mendadak.
Di bawah pohon mahoni dekat parkiran berdiri seorang cowok memakai hoodie abu-abu, topi hitam, masker, dan kacamata.
Kalau orang lain mungkin tidak akan mengenalinya, sayangnya aku sudah terlalu sering melihat wajah itu.
Richard Revaldi.
Aku langsung berjalan cepat ke arahnya.
"ASTAGA!"
"Selamat pagi."
"KAMU NGAPAIN DI SINI?"
Dia terlihat santai, seolah datang ke kampus orang lain adalah aktivitas normal.
"Main."
"Main?"
"Iya."
"Kamu artis."
"Iya."
"Ini kampus."
"Iya."
"Kenapa jawabannya iya semua?"
Dia malah tertawa.
Sumpah, aku mulai paham kenapa banyak orang ingin menjitak kepalanya.
***
Sepuluh menit kemudian, aku dan Revaldi duduk di kantin. Untung masih pagi, belum banyak mahasiswa, kalau tidak, mungkin kampusku sudah berubah jadi lokasi konser dadakan.
"Aku serius tanya."
Aku menatapnya.
"Kenapa datang?"
Dia sedang makan nasi uduk dengan lahap. Sangat tidak sesuai citra artis mahal yang selama ini kulihat di televisi.
"Kangen."
Aku tersedak es teh.
"APA?"
"Kangen ngobrol."
"Aku kira kamu sibuk."
"Memang sibuk."