Cinta Tanpa Kasta KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #6

Tukang Galon Palsu #6 Kozmic Blues

Aku tidak tidur malam itu. Bagaimana mungkin aku bisa tidur? Seseorang memotret rumahku, bukan kampusku. Tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia, itu tempat privasiku. Aku sudah memblokir akun anonim itu, masalahnya, foto tersebut tetap ada di kepalaku seperti noda yang tidak bisa dihapus.

Pukul satu malam, aku masih menatap langit-langit kamar, dan sampai pukul dua, mataku sulit terpejam, masih tetap terjaga. Bahkan pukul tiga, masih sama.

Sampai akhirnya ponselku bergetar, aku hampir melompat dari kasur, ternyata Revaldi. Aku mengangkat panggilan itu.

"Belum tidur?"

Suaranya terdengar serak, sepertinya baru selesai bekerja.

"Kamu juga."

"Aku nanya duluan."

Aku menghela napas.

"Habis dapat pesan aneh."

"Hm."

"Aku takut."

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, karena mungkin aku lelah, sejak tadi aku memendam semuanya sendiri.

Di ujung sana terdengar keheningan, lalu suara Revaldi kembali muncul lebih pelan dan kali ini serius.

"Ve."

"Hm?"

"Aku janji bakal cari tahu siapa yang ngirim itu."

Aku memejamkan mata. Entah kenapa, mendengar kalimat itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.

***

Keesokan paginya. aku sedang membantu Ibu menyapu halaman ketika sebuah mobil putih berhenti di depan rumah.

Aku mengangkat kepala, mobil itu terlihat asing. Seorang laki-laki keluar, memakai topi, masker, kaos kusam, dan membawa galon kosong.

Aku mengernyit.

"Lho?"

Ibu menoleh.

"Oh, tukang galon ya?"

Aku semakin bingung, karena kami merasa tidak memesan galon. Pria itu berjalan mendekat, semakin dekat lalu berbisik.

"Ve."

Aku hampir menjatuhkan sapu.

"ASTAGA!"

Pria itu langsung memberi kode agar aku diam, aku menatapnya tidak percaya.

"Revaldi?!"

"Pelan-pelan."

"Kamu gila?!"

"Sedikit."

"Apa yang kamu lakukan di rumahku?"

Dia mengangkat galon.

"Menyamar."

Aku memijat pelipis, tentu saja. Tapi itu jawaban paling tidak masuk akal dari manusia paling tidak masuk akal.

Sampai lima menit kemudian, akhirnya kami duduk di teras. Ibu membuatkan teh di dapur, dan aku masih belum pulih dari kenyataan bahwa artis terkenal itu datang ke rumahku membawa galon kosong.

"Kamu benar-benar datang." Kataku.

"Iya."

"Hanya gara-gara satu pesan?"

Lihat selengkapnya