Cinta Tanpa Kasta KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #7

Sosok yang Selalu Melihat #7 Kozmic Blues

Aku tidak tahu berapa lama aku menatap layar ponsel, yang jelas, saat akhirnya aku sadar, mobil Revaldi sudah menghilang dari ujung jalan, tapi tanganku masih gemetar.

Foto itu baru saja diambil, artinya saat aku dan Revaldi berdiri di depan pagar beberapa menit lalu, ada seseorang yang sedang memperhatikan. Mungkin dari seberang jalan, dari dalam mobil atau mungkin dari balik pohon, atau bahkan lebih dekat dari itu.

Aku langsung menelepon Revaldi, telepon langsung diangkat sebelum dering kedua.

"Ve?"

"Seseorang kirim foto lagi."

Suasana mendadak sunyi sejenak.

"Apa?"

"Foto kita."

Suara rem mendadak terdengar dari ujung sana, sepertinya mobilnya berhenti mendadak.

"Kirim ke aku."

Sepuluh menit kemudian, aku duduk di ruang tamu bersama Ayah dan Ibu. Mereka mulai ikut khawatir, karena awalnya mereka mengira ini hanya ulah penggemar yang terlalu berlebihan, tapi sekarang tidak lagi.

Karena foto itu objeknya terlalu baru, yang menunjukkan diambil dari jarak dekat, sehingga terasa terlalu menyeramkan.

Ponselku kembali bergetar, kali ini video call. Begitu layar terbuka, aku langsung melihat wajahnya, Revaldi. Tapi kali ini tidak ada senyum atau candaan. Bukan Richard Revaldi yang biasanya menyebalkan, sebaliknya yang ada hanya seseorang yang terlihat marah.

"Nomornya sudah dicek." Katanya.

"Hasilnya?"

"Nomor prabayar."

"Tidak bisa dilacak?"

"Bisa." Ia mengusap wajahnya.

"Tapi butuh waktu." Aku mengangguk pelan, lalu sesuatu terlintas di kepalaku.

"Re."

"Hm?"

"Itu tadi."

"Apa?"

"Katamu orang ini mengawasiku sejak tiga bulan lalu."

"Iya."

"Kenapa?" Ia terdiam lama sekali, seolah sedang memikirkan sesuatu. Kemudian menjawab.

"Itu yang sedang aku cari tahu."

Malam itu aku tidak bisa tidur lagi, bukan karena takut atau setidaknya bukan hanya karena takut, tapi karena ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Tiga bulan.

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku, kenapa tiga bulan? Apa yang terjadi dalam tiga bulan lalu?

Aku memejamkan mata, mencoba mengingat. Kuliah sepanjang waktu itu juga normal, tidak ada yang aneh, atau kejadian yang bisa kuingat lebih lama karena spesial. Di organisasi juga begitu, selain kegiatan kunjungan ke panti untuk kegiatan psiko sosial dengan anak-anak, selebihnya cuma urusan manajemen. Kalau tugas, itu memang sudah makanan sehari-hari, selama dosennya bernafas, selama itu akan ada tugas.

Aku mencoba melacak jalur lain, lomba menulis yang sering aku ikuti, urusannya juga nggak lebih dari urusan adminstratif. Perpustakaan, kafe, dan rumah, semuanya tidak ada yang aneh. Sampai tiba-tiba aku teringat satu hal, aku langsung duduk.

Tunggu.

Tiga bulan lalu. Seingatku aku memenangkan lomba cerpen nasional, memang tidak terlalu besar evennya, tapi cukup terkenal di kalangan mahasiswa. Apalagi foto pemenang dipublikasikan, dan tentu saja profil singkatku juga dipasang.

Aku membeku, jangan-jangan.

Tapi tidak, itu terlalu kebetulan kan?

***

Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya kepada Revaldi melalui telepon, dan sejak percakapan dimulai, ia tidak memotong, tidak bercanda dan menggodaku seperti kebiasaannya. Tapi ia justru hanya mendengarkan sampai semuanya selesai.

"Lomba cerpen?"

Lihat selengkapnya