Aku tidak ingat persis bagaimana aku pulang dari perpustakaan hari itu, namun ada satu hal yang tersimpan di pikiran sepanjang hari itu. Kalimat terakhir Revaldi yang bilang,
"Aku memang sudah mengenalmu jauh sebelum kamu mengenalku."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku, tak mau hilang seolah ada rahasia di baliknya. Pikiranku mengingatnya seperti lagu yang terjebak di tombol repeat, terus dipenuhi tanda tanya.
Sorenya hujan turun, dan aku duduk di dekat jendela kamar dengan posisi ponselku tergeletak di atas meja. Selama hampir satu jam aku hanya menatap layar chat Revaldi, tidak tahu harus marah, bingung atau malah penasaran.
Akhirnya aku putuskan mengetik.
"Jadi selama ini kamu semacam stalker?"
Balasan Revaldi tak menunggu jeda lama.
"Tidak membantu."
"Aku sedang berusaha memahami."
"Tapi jangan pakai kata stalker."
"Pengagum rahasia?"
"Terlalu romantis."
"Penguntit premium?"
"VE."
Aku tertawa kecil, entah kenapa sejak mengetahui rahasianya, aku tidak merasa takut, hanya sangat penasaran.
Malamnya, teleponku berdering dari Revaldi, kali ini aku langsung mengangkat.
"Halo."
"Halo."
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik, aneh padahal biasanya dia tidak pernah kehabisan kata.
"Aku mau cerita." Katanya akhirnya.
"Silakan."
"Tapi jangan ketawa."
"Aku belum janji."
"Ve."
"Oke, oke."
Aku tersenyum, lalu bersandar di kursi mendengarkan. Aku merasa aneh karena sejak mengenalnya suara Revaldi terdengar berbeda, tidak seperti artis, selebritas dan tidak seperti seseorang yang selalu tahu harus berkata apa, melainkan seperti seorang laki-laki yang sedang membuka rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Beberapa bulan lalu, " ia memulai.
"...aku hampir berhenti dari dunia hiburan."
Aku langsung terdiam.
Apa?
"Kenapa?"
Pertanyaan itu keluar spontan karena sejujurnya sulit membayangkan Richard Revaldi menyerah. Di mata publik dia selalu terlihat sempurna, selalu tersenyum, terlihat sukses dan selalu dicintai.
"Capek." Jawabnya singkat.
Namun aku bisa merasakan beratnya.
"Capek bagaimana?"
"Hampir semua orang mengenalku."
"Hm."
"Tapi hampir tidak ada yang benar-benar mengenalku."
Aku tidak menyela karena aku tahu itu bukan kalimat yang diucapkan sembarangan.
"Aku harus tersenyum."
"Aku harus ramah."
"Aku harus sempurna."