Cinta Tanpa Suara

Oleh: Remith G

Blurb

Di lantai tujuh gedung kantor pusat, jam tiga sore bukan sekadar waktu istirahat bagi Sara. Itu adalah sebuah ritual.
Di antara aroma kopi yang mengepul dan keheningan pantry, ada debar yang tumbuh tanpa perlu banyak kata.
​Bagi Sara, kehadiran Rio adalah rasa "pulang" setelah bertahun-tahun ia membiarkan hatinya busuk karena masa lalu. Sebuah sticky note kuning di dinding kubikel sudah cukup untuk mengubah suhu ruangan yang dingin menjadi hangat.
​Bagi Rio, Sara adalah kenyamanan yang ia inginkan, namun ia terlalu pengecut untuk memilih. Di sakunya ada struk makan siang mewah bersama Nadya, sementara di mejanya ada nasi uduk tulus pemberian Sara. Ia terjebak di antara hidup yang "seharusnya" dan hidup yang ia damba.
​Namun, rahasia tidak pernah bisa selamanya disimpan di balik pintu pantry. Ketika kenyataan menghantam, Sara memilih cara balas dendam yang paling sunyi: mencabut setiap harapan dan melipatnya kecil-kecil sebelum membuangnya ke tempat sampah.
​Ini bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang sebuah pelukan di atap gedung yang datang terlambat. Tentang dua orang yang sudah pandai berada di tempat yang sama, tanpa benar-benar saling memiliki.
​"Karena terkadang, diam adalah satu-satunya cara untuk mencintai tanpa harus hancur berkali-kali."

Lihat selengkapnya