Rio
Bunga di mana-mana.
Terlalu banyak bunga, terlalu putih, terlalu wangi — seperti seseorang sedang berusaha keras meyakinkan semua orang bahwa ini adalah hari yang sempurna.
Tapi itu nanti.
Sebelum kondangan itu, ada malam gathering setahun lalu yang tidak pernah benar-benar pergi dari kepalaku meski aku sudah beberapa kali menyuruhnya pergi.
Acara gathering kantor itu diadakan di rooftop hotel yang terlalu mahal untuk budget tahunan yang biasanya dikeluhkan semua orang di setiap rapat. Musik latar, minuman di nampan silver, orang-orang dengan pakaian terbaik mereka yang berusaha terlihat santai meski jelas tidak.
Aku datang bersama Rian dan Hendra.
Rian, yang sudah aku kenal sejak training tiga tahun lalu — tipe orang yang selalu tahu nama semua orang di ruangan dan tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Hendra, yang selalu lapar dan selalu jujur, dua hal yang kadang muncul bersamaan di waktu yang tidak tepat.
Rian langsung menghilang begitu masuk — ada kenalan lama di sudut sana, ada bos divisi yang perlu disapa di sudut lain. Hendra langsung menuju meja makanan. Aku berdiri dengan gelas di tangan, memindai ruangan dengan cara yang aku harap tidak terlihat seperti orang yang tidak tahu harus ke mana.
Lalu mataku berhenti.
Di sudut ruangan, seorang perempuan sedang berdiri di antara dua rekannya. Rambutnya panjang dikuncir kuda, tanpa poni. Ia sedang mendengarkan seseorang berbicara — bukan pura-pura mendengarkan sambil memindai ruangan seperti yang dilakukan setengah orang di sini, tapi benar-benar mendengarkan, dengan ekspresi yang menunjukkan ia tertarik pada apa yang dikatakan.
Lalu seseorang di sebelahnya mengatakan sesuatu, dan ia tertawa.
Bukan tawa pesta. Bukan tawa yang diperhitungkan.
Tawa yang keluar begitu saja, tanpa mempertimbangkan siapa yang melihat.
Entah karena apa, ia menoleh. Mata kami bertemu — dua detik, mungkin kurang — dan ia tersenyum. Tipis. Senyum orang yang nyaman di dunianya sendiri dan tidak keberatan jika dunia luar sesekali melihat ke dalam.
Aku ingin mendekat.
Sudah kususun kalimat pembukanya — hei, kamu dari cabang mana? Atau sesuatu yang lebih tidak canggung dari itu — tapi sebelum kakiku bergerak, seseorang datang dari arah buffet dan merangkul bahunya.
Rian.
Natural. Seperti sudah ribuan kali ia lakukan.
Perempuan itu tidak kaget. Ia hanya memiringkan tubuhnya sedikit, memberi ruang, dengan cara orang yang sudah hafal betul kehadiran seseorang.
Aku melihat mereka berdua sebentar.
Lalu memindahkan pandanganku ke arah lain.
Pacarnya Rian.
Kalimat itu cukup. Aku tidak perlu tahu lebih dari itu — tidak perlu tahu namanya, tidak perlu tahu dari cabang mana, tidak perlu mendekat dengan kalimat pembuka yang sudah terlanjur kususun tapi tidak jadi terpakai.
Yang tidak punya tempat memang lebih baik dibiarkan diam.
Aku mencari Hendra di meja makanan, dan malam itu berlanjut seperti malam-malam lain yang tidak meninggalkan bekas apa-apa.
Atau begitulah yang aku pikir.
Setahun berlalu dengan cara yang tidak dramatis.
Rian sesekali menyebut pacarnya dalam obrolan — tidak banyak, tidak detail, hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia ada. Aku tidak bertanya lebih. Ada hal-hal yang lebih mudah dibiarkan di pinggir daripada didekati.
Empat bulan setelah gathering itu, aku kenal Nadya.
Bukan di acara yang sinematik — hanya di antrean kopi yang terlalu panjang untuk pagi hari, dan Nadya yang berdiri di depanku tiba-tiba berbalik dan bertanya apakah aku tahu bedanya dua menu yang namanya hampir sama. Aku tidak tahu. Tapi kami akhirnya memesan hal yang sama dan duduk di meja yang sama karena tempatnya penuh.
Dua bulan kemudian, kami pacaran.
Nadya adalah orang yang tahu apa yang ia mau — dari menu kopi sampai rencana lima tahun ke depan. Aku yang lebih sering membiarkan hari ini memimpin ke mana hari ini mau pergi. Awalnya itu gesekan kecil. Lama-lama jadi sesuatu yang kami tertawakan bersama.
Aku mencintai Nadya.
Dengan cara yang tenang — bukan seperti api, tapi seperti lampu yang menyala stabil. Tidak berkedip-kedip, tidak membakar. Hanya ada.
Dan perempuan berkuncir kuda dari malam gathering itu pelan-pelan tenggelam ke tempat di mana hal-hal yang tidak punya tempat seharusnya berada.
Aku kira sudah selesai.
Undangan dari Rian datang enam bulan setelah aku dan Nadya resmi.
Bukan amplop formal — Rian mengirimkannya lewat pesan singkat dulu, “Bro, gue nikah. Lu harus dateng,” baru kemudian undangan fisiknya menyusul. Aku mengucapkan selamat, Hendra mengucapkan selamat dengan tambahan komentar yang tidak perlu tapi khas Hendra, dan kami bertiga makan siang bersama seminggu sebelum hari H.
Rian tidak banyak menyebut nama calon istrinya. Hanya bilang perempuan yang ia kenal dari lingkar pertemanan lama, bukan dari kantor.
Aku tidak bertanya lebih.
Gedung resepsinya terlalu putih.
Bunga di mana-mana — terlalu banyak, terlalu putih, terlalu wangi. Seperti seseorang sedang berusaha keras meyakinkan semua orang bahwa ini adalah hari yang sempurna. Nadya berjalan di sebelahku, tangannya di lenganku, mengomentari dekorasi bunga yang menurutnya berlebihan untuk venue sebesar ini.
Aku mengangguk di waktu yang tepat.
Di meja tamu, kami bertemu Hendra yang sudah duluan duduk dengan piring makanan di depannya meski acara belum dimulai.
“Bro.” Hendra menarik kursi untuk Nadya dengan gerakan yang lebih sopan dari biasanya — ia selalu begitu kalau ada perempuan yang baru dikenalnya. “Tau nggak, gila si Rian. Pacaran lama, nikahnya sama orang lain.”
Aku menoleh. “Maksudnya?”
“Mantannya diundang. Sama nyokapnya Rian langsung, katanya.” Hendra mengangkat bahu, mulutnya sudah setengah penuh. “Nggak tau deh itu ide siapa. Nyokapnya Rian emang suka sama si mantannya.”
Nadya menyentuh lenganku — sesuatu yang ia lakukan ketika ia merasa percakapan sedang bergerak ke arah yang tidak perlu. Aku menggenggam tangannya.
“Kasihan juga,” kata Nadya pelan.
“Iya.” Hendra mengangguk. “Entah dia dateng apa nggak.”
Aku tidak menjawab. Tapi di dalam kepalaku, ada sesuatu yang diam-diam bergerak — pertanyaan yang tidak aku minta: mantannya siapa?
Acara dimulai.
Pengantin masuk, tamu bertepuk tangan. Aku melihat Rian berjalan di pelaminan dengan perempuan yang belum pernah aku lihat sebelumnya — cantik, senyumnya tenang, cara berjalannya menunjukkan seseorang yang sudah memutuskan sejak pagi bahwa hari ini adalah hari yang baik.
Bukan perempuan dari gathering itu.
Aku tahu itu dalam hitungan detik. Dan aku tidak mengerti kenapa itu yang pertama kali aku perhatikan.
Nadya bertepuk tangan di sebelahku. Aku ikut bertepuk tangan.
Di dalam kepalaku, sebuah pertanyaan duduk diam tanpa minta dijawab: kalau bukan dia yang di pelaminan — lalu di mana dia?
Ia datang ketika sesi foto keluarga besar sedang berlangsung dan sebagian besar tamu bergerak ke arah panggung.
Aku melihatnya dari meja.
Rambutnya kali ini dibiarkan menjuntai — tidak dikuncir, tidak diikat, hanya jatuh begitu saja ke bahu dan punggungnya, seakan menutupi sesak di dadanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, memindai ruangan dengan tenang yang tidak dibuat-buat. Tenang orang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum melangkah masuk.
Ia mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
Dan melangkah masuk.
Aku mengenalinya dalam hitungan detik.