Rio
Email itu masuk pukul 07.52, tepat saat aku baru duduk dengan kopi yang belum sempat kusentuh.
Aku membacanya dua kali — bukan karena kalimatnya sulit dipahami, tapi karena otakku butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk menerima informasi yang tidak ia minta pagi ini. Proyek kolaborasi lintas divisi. Tim gabungan. Kantor pusat. Mulai bulan depan, durasi tidak ditentukan.
Di bawah subjek email, ada daftar nama.
Aku mengenali beberapa — Hendra dari tim analisku, Pak Wirawan dari divisi strategi yang terkenal tidak pernah puas dengan presentasi siapapun. Sisanya asing. Nama-nama yang mungkin sudah saling kenal di kantor pusat sana, sudah punya meja favorit, sudah tahu toilet mana yang paling sepi.
Aku menutup laptop.
Membukanya lagi.
Lalu meneruskan email itu ke Hendra dengan satu baris pesan: “Kamu dapat ini juga?”
Balasannya datang dalam tiga puluh detik. “Iya. Kamu mau protes?”
Aku tidak membalas. Karena jawabannya tidak — aku tidak akan protes. Bukan karena aku tidak keberatan, tapi karena ada hal yang lebih berat dari sekadar pindah kantor yang perlu kupikirkan dulu.
Nadya.
Enam bulan — belum terlalu lama, tapi cukup untuk mulai mengenal ritme seseorang. Kantor kami bisa ditempuh dua puluh menit, makan siang sesekali kami rencanakan, lebih sering jadi kejutan kecil yang tidak pernah kami bicarakan sebagai sesuatu yang penting. Rutinitas yang baru saja tumbuh, yang belum sempat benar-benar berakar.
Sekarang jarak itu akan berubah sebelum sempat jadi sesuatu yang kokoh. Berapa lama, emailnya tidak bilang.
Aku menyentuh gelas kopiku. Sudah dingin.
Malam sebelum keberangkatan, Nadya memasak.
Bukan karena ada acara — ia memang sesekali memasak ketika pikirannya butuh sesuatu yang konkret untuk dikerjakan. Tangannya bergerak dengan presisi yang sama seperti cara ia merancang denah ruangan: tahu di mana setiap hal harus diletakkan, tidak ada gerakan yang mubazir.
Aku duduk di meja dapur, menonton.
“Kamu tidak tanya berapa lama?” katanya tanpa menoleh.
“Belum ada yang tahu.”
“Tapi kamu tidak tanya.”
Aku diam sebentar. “Kamu mau aku tanya?”
Nadya meletakkan sendok di pinggir wajan, berbalik, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak marah tapi juga tidak netral. “Aku mau kamu ingin tanya, Rio. Beda.”
Kalimat itu menggantung di udara dapur yang hangat dan wangi bawang putih.
Aku tahu apa yang ia maksud. Dan aku tidak punya jawaban yang cukup jujur untuk diucapkan malam itu — jadi aku berdiri, mendekat, dan memeluknya dari belakang sementara api kompor masih menyala.
Nadya tidak mendorongku. Tapi tangannya tidak balik meraih tanganku seperti biasanya.