Sara
Ruang rapat itu mulai terisi pelan-pelan.
Sara sudah di dalam sejak pintu dibuka — ia yang pertama masuk, memilih kursi paling dekat dengan pintu, dan duduk dengan tas di pangkuan seperti orang yang belum memutuskan sepenuhnya apakah ia akan bertahan atau pergi. Bukan karena gugup. Hanya kebiasaan lama yang susah hilang: duduk dekat pintu supaya kalau perlu keluar, tidak ada yang harus dilewati.
Kebiasaan orang yang terlalu sering merasa jadi tamu di ruangannya sendiri.
Satu per satu orang masuk. Sara memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan — keahlian lain yang ia asah bertahun-tahun. Ada yang langsung membuka laptop, ada yang menyapa rekan yang sudah dikenal, ada yang berdiri di dekat jendela dengan kopi dan ekspresi orang yang belum sepenuhnya bangun.
Lalu seseorang menarik kursi di seberangnya.
Sara tidak langsung menoleh. Tapi dari sudut matanya — kemeja biru muda, tumbler yang sama dari tadi di lorong — ia tahu siapa.
Laki-laki yang salah perkiraan rute. Yang berdiri di dinding seberang dalam diam yang tidak canggung.
Ia tidak menoleh ke arah Sara. Membuka laptopnya, menggeser tumbler ke sudut meja, dan mulai membaca sesuatu di layar dengan ekspresi yang tenang — wajah orang yang terbiasa menunggu tanpa perlu mengisi waktu tunggu dengan hal-hal yang tidak perlu.
Sara kembali menatap mejanya sendiri.
Kepala tim kolaborasi datang tepat waktu — perempuan paruh baya dengan rambut pendek dan cara berjalan yang menunjukkan ia tidak terbiasa terlambat dan tidak berencana mulai sekarang. Ia meletakkan map di meja, menyalakan proyektor, dan tanpa basa-basi yang berlebihan mulai memperkenalkan ruangan.
“Kita mulai dari perkenalan dulu. Nama, divisi, dan tanggung jawab di proyek ini.”
Satu per satu orang berbicara. Sara mendengarkan sambil sesekali mencatat — bukan karena ia butuh catatan, tapi karena tangannya lebih tenang kalau ada yang dikerjakan.
Lalu kepala tim menoleh ke sisi kanan meja.
“Rio Aditya. Analis keuangan, kantor pusat. Akan menangani proyeksi anggaran dan evaluasi kelayakan per fase.”
Sara menuliskan sesuatu di catatannya.
Berhenti.
Tangannya tidak bergerak lagi.
Rio.
Nama itu masuk ke kepalanya dan langsung membuka sesuatu — seperti kunci yang tidak sengaja masuk ke lubang yang tepat. Bukan proses yang panjang, bukan pencarian yang sadar. Hanya satu detik di mana beberapa kepingan yang selama ini terpisah tiba-tiba duduk di tempat yang sama.