Rio
Jam makan siang di kantor pusat rupanya bergerak lebih cepat dari yang Rio perkirakan.
Atau mungkin pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya — brief proyek yang padat, deretan nama dan tanggung jawab yang perlu dipetakan, dan satu hal kecil lain yang entah kenapa terus muncul di pinggiran pikirannya meski ia tidak mengundangnya.
Ketika orang-orang mulai bergerak meninggalkan meja, Rio ikut berdiri, meraih tumbler-nya yang sudah kosong sejak tadi.
“Hen.” Ia menepuk bahu Hendra yang sedang menggulir ponselnya. “Makan siang.”
“Iya, bentar.” Hendra tidak langsung berdiri. “Kamu tau di sini kantin-nya di mana?”
“Tidak.”
“Kita nyasar bareng kalau gitu.”
Rio hampir menjawab ketika matanya, tanpa dikomando, bergerak ke arah meja dekat jendela.
Sara masih duduk. Laptopnya sudah ditutup, tasnya sudah di bahu — tapi ia tidak bergerak ke mana-mana. Kepalanya sedikit terangkat, memperhatikan arah orang-orang pergi, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan.
Rio mengenali ekspresi itu. Ekspresi orang baru di tempat baru yang tidak mau terlihat seperti orang baru di tempat baru.
Ia menepuk bahu Hendra sekali lagi, lebih cepat. “Hen. Itu si project coordinator. Ajak sekalian — kayaknya bingung juga.”
Hendra menoleh. Melihat Sara. Lalu melihat Rio.
Lalu tersenyum dengan cara yang tidak Rio sukai.
“Modus aja,” kata Hendra, suaranya datar tapi matanya tidak. “Emang gue nggak tahu? Lu daritadi ngeliatin dia.”
Rio membuka mulutnya.
Menutupnya lagi.
Hendra sudah berdiri dan berjalan ke arah Sara sebelum Rio sempat menyusun kalimat pembelaan yang layak. Ia berdiri di tempat yang sama selama dua detik — seperti orang yang baru menyadari ia sudah ketahuan tapi belum tahu harus bereaksi apa — sebelum akhirnya ikut berjalan.
Di belakangnya, suara Hendra terdengar: “Makan siang bareng yuk, kita juga baru di sini, nyasar bertiga lebih seru.”
Sara
Tawaran itu datang tepat ketika Sara sedang mempertimbangkan untuk pura-pura sibuk di mejanya sampai semua orang kembali dan ia bisa menebak dari mana arah mereka datang.
Opsi yang tidak terlalu elegan, tapi cukup efektif.
Ia menoleh. Seorang laki-laki berdiri di depannya — wajahnya ramah, cara berdirifnya santai, tipe orang yang sepertinya belum pernah canggung dalam hidupnya. Di belakangnya, sedikit lebih jauh, kemeja biru muda yang sudah ia kenali sejak pagi.
“Makan siang bareng yuk,” kata laki-laki itu lagi. “Aku Hendra, analis juga. Ini Rio, udah kenalan tadi kan? Kita juga baru di sini, jadi kalau nyasar ya nyasar bertiga aja.”
Sara melirik sebentar ke arah Rio.
Rio sedang melihat ke arah lain — ke arah lift, ke arah papan penunjuk arah di dinding, ke tempat mana saja kecuali ke arah mereka berdua.