Dua minggu pertama di kantor pusat adalah dua minggu terberat yang pernah Sara lalui dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Bukan karena pekerjaannya sulit — ia sudah cukup terbiasa dengan tekanan deadline dan rapat yang molor. Tapi beradaptasi dengan tempat baru adalah hal lain. Orang-orang baru dengan dinamika yang belum ia baca, lorong-lorong yang masih harus ia hafalkan, dan perasaan jadi orang asing di tempat yang seharusnya mulai terasa seperti kantor sendiri.
Ia bersyukur ada Rio dan Hendra.
Entah bagaimana — mungkin karena mereka bertiga sama-sama orang baru di sini, mungkin karena Hendra tidak pernah membiarkan keheningan berlangsung terlalu lama, mungkin karena Rio ada dengan cara yang tidak memaksakan apa-apa — dua minggu itu terasa lebih ringan dari yang seharusnya.
Ia tidak mau membayangkan dua minggu itu tanpa mereka.
Sara
Pagi itu aku memutuskan mampir ke coffeeshop sebelum masuk kantor.
Bukan coffeeshop yang mahal — hanya yang ada di sudut jalan dua blok dari gedung, yang kopinya tidak luar biasa tapi cukup, dan kursinya nyaman untuk duduk lima menit sebelum hari dimulai. Aku sudah tiga kali ke sini dalam dua minggu terakhir. Cukup untuk hafal menu, belum cukup untuk dianggap pelanggan tetap.
Sambil mengantre, aku teringat semalam.
Kami lembur bertiga — Rio, Hendra, dan aku — sampai hampir pukul sepuluh. Hendra yang paling banyak mengeluh tapi paling terakhir pulang. Rio yang paling diam tapi paling banyak menyelesaikan pekerjaan. Dan aku di antaranya, mencoba mengimbangi ritme dua orang yang sudah saling kenal lebih lama.
Pagi ini mereka pasti butuh kopi juga.
Aku mengeluarkan ponsel, membuka nama Rio di daftar kontak.
Ri, aku di coffeeshop. Mau kopi juga? Sekalian si Hendra mau apa?
Pesan terkirim. Aku kembali menatap menu di papan, menghitung apakah aku perlu mengantre ulang atau cukup menunggu balasan dulu.
Tidak sampai semenit, ponselku bergetar.
Tapi bukan notifikasi pesan.
"Ra!"
Suara itu datang dari arah pintu — familiar, cukup keras untuk terdengar di antara suara mesin kopi dan obrolan pagi. Aku menoleh, mencari sumber suara.
Rio ada di sana, baru saja masuk, tangan terangkat setengah untuk menarik perhatianku. Ia tersenyum — bukan senyum besar, hanya senyum yang keluar begitu saja dari orang yang tidak menyangka menemukan seseorang yang ia cari sudah ada duluan.
Aku menahan tawa.
"Baru mau balas pesanku," kataku waktu ia mendekat.
"Baru baca." Ia menunjukkan layar ponselnya sebentar — notifikasi pesanku masih belum dibuka. "Ternyata kamu sudah di sini."
"Ternyata kita satu pikiran."
Rio
Ra.
Nama itu keluar begitu saja — aku bahkan tidak sadar sudah memanggilnya sampai suaranya sendiri terdengar di telingaku.
Dan di saat yang hampir bersamaan, dari arahnya:
"Ri—"
Kami berdua berhenti.
Satu detik yang aneh — bukan canggung, hanya... berhenti sebentar, seperti dua orang yang baru menyadari sesuatu di waktu yang sama tanpa berencana.
Sara yang pertama tertawa. Pelan, tapi sungguhan — tawa yang aku sudah mulai kenali polanya dalam dua minggu ini.
"Kita saling manggil," katanya.
"Iya." Aku tidak tahu harus menambahkan apa. Jadi aku tidak menambahkan apa-apa.
Kami mengantre bersama. Sara sudah hafal antreanya, jadi aku mengikuti saja — ia memesan duluan, lalu menoleh ke arahku, lalu menoleh ke arah pintu seolah mencari seseorang.
"Hendra tidak ikut?"
"Belum sampai kayaknya. Dia tadi bilang mau mampir dulu."
"Mampir ke mana?"
"Tidak tahu. Hendra selalu mampir ke suatu tempat yang tidak pernah ia jelaskan dengan detail yang cukup."
Sara tertawa lagi.
Ri.
Aku tidak tahu kenapa panggilan itu terasa berbeda. Bukan nama yang asing — beberapa orang memanggilku Rio, bahkan pernah ada yang memanggil dengan nama lengkap karena merasa lebih formal. Tapi dari mulutnya, tadi, dengan cara yang keluar begitu saja tanpa direncanakan —
Jantungku bergerak ke tempat yang tidak seharusnya.
Dan di belakang rasa itu, muncul sesuatu yang lain.
Nadya.
Kemarin malam, Nadya mengirim pesan waktu aku masih lembur. Masih di kantor? Jangan lupa makan. Kalimat pendek yang tidak menuntut balasan panjang, tapi aku tahu ada sesuatu di baliknya — cara orang yang menunggu tanpa mau terlihat menunggu.
Aku membalas dengan singkat. Iya, sebentar lagi selesai. Dan kami tidak berbicara lagi malam itu.
Kasir menyebutkan total harga. Aku mengambil dompet.
"Eh, aku yang bayar punyaku," kata Sara.
"Tidak apa-apa, sekalian."
"Ri—"
Nama itu lagi.
"—aku bisa bayar sendiri."
"Aku tahu." Aku sudah menyerahkan uang ke kasir. "Tapi kamu yang inisiatif tanya kopi buat kita, jadi adil."
Sara menatapku sebentar dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya setuju tapi tidak cukup keberatan untuk diperdebatkan lebih lanjut. "Besok gantian."
"Oke."
Kami keluar coffeeshop dengan tiga gelas di tangan — dua di tanganku, satu di tangan Sara, karena ia ngotot membawa miliknya sendiri.
Udara pagi masih segar, matahari belum terlalu tinggi. Dua blok ke kantor, jalan yang tidak terlalu ramai untuk jam segini.
Sara berjalan di sisiku dengan langkah yang tidak terburu-buru. Hanya berjalan, dengan kopi di tangannya.
Hari ini rambutnya dikuncir sebagian, membiarkan bagian bawahnya terjuntai, dikeriting. Entah karena sudah mulai terbiasa atau baru sadar — ia lebih mungil dari yang kukira. Dan entah sejak kapan, ia terlihat makin cantik.
"Udah dua minggu." Sara menoleh, menatap langsung ke mataku.