Hendra pergi di hari Selasa.
Tidak dramatis — hanya tas ransel, satu kardus kecil berisi barang-barang mejanya, dan ucapan pamit yang lebih mirip orang yang mau makan siang daripada orang yang akan absen berminggu-minggu.
“Cabang lagi butuh tenaga,” katanya, menyandang ranselnya. “Kalian bisa jaga diri sendiri kan.”
Bukan pertanyaan.
Rio mengangguk. Sara mengangkat tangan sebentar — semacam lambaian yang tidak sepenuhnya lambaian. Hendra menunjuk mereka berdua bergantian dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, lalu berbalik dan pergi.
Lift menutup.
Rio dan Sara berdiri di lorong yang tiba-tiba terasa lebih sepi dari biasanya.
“Jadi Cuma berdua,” kata Sara akhirnya.
“Kelihatannya begitu.”
Mereka kembali ke meja masing-masing. Hari itu berjalan seperti biasa — rapat, laporan, email yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang berubah secara teknis.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kecil, yang tidak punya nama yang tepat, yang baru terasa ketika jam makan siang tiba dan Rio mendapati dirinya berjalan ke meja Sara tanpa terlalu memikirkannya.
“Makan?”
Sara menutup laptopnya. “Ayo.”
Rio
Hari-hari berikutnya mengalir dengan cara yang tidak aku rencanakan.
Laporan analisis yang biasanya kukerjakan bertima sekarang hanya berdua dengan Sara — ia yang mengkoordinasi kebutuhan data dari lapangan, aku yang mengolahnya di kantor. Ritme itu terbentuk sendiri, tanpa ada yang menyepakatinya. Tiba-tiba saja kami sudah punya sistem.
Sara di lapangan pagi, kembali menjelang siang, langsung membuka laptop dan mengirimkan catatan yang sudah ia rapikan di perjalanan pulang. Aku membacanya, mengolah angkanya, dan kadang meninggalkan catatan kecil di dokumen yang kami bagikan — pertanyaan, atau koreksi kecil, atau kadang hanya tanda tanya yang artinya ini maksudmu apa?
Ia selalu membalasnya. Kadang dengan penjelasan panjang, kadang dengan satu kalimat yang langsung ke intinya, kadang dengan tanda seru yang aku interpretasikan sebagai iya bener, makasih sudah nangkap.
Kami jarang perlu rapat panjang.
Dan entah sejak hari ke berapa, aku mulai hafal jadwalnya — jam berapa ia biasanya kembali dari lapangan, berapa lama ia butuh untuk merapikan catatannya, kapan ia biasanya butuh kopi kedua karena deadline mulai menekan.
Aku tidak pernah memperhatikan hafal kapan mulainya.
Makan siang jadi waktu yang kami isi bersama — bukan karena ada yang mengusulkan, hanya karena warung di sebelah gedung sudah hafal kami datang berdua dan langsung mengarahkan ke meja pojok yang agak teduh.
“Kamu selalu pesan yang sama,” kata Sara suatu hari, menatap menunya tanpa terlalu membacanya.
“Kalau sudah tahu enak, kenapa harus ganti.”
“Karena ada pilihan lain yang mungkin lebih enak.”
“Atau lebih mengecewakan.”
Sara menoleh. Ada sesuatu di ekspresinya — setengah setuju, setengah seperti orang yang baru mendengar sesuatu yang ia sendiri pernah pikirkan tapi belum pernah diucapkan.
“Kamu tipe yang tidak suka mengambil risiko,” katanya akhirnya. Bukan tuduhan, hanya observasi.
“Kamu tipe yang sudah tahu jawabannya tapi tetap tanya,” balasku.
Sara tertawa — pelan, tapi sampai matanya ikut. Tawa yang sudah mulai terlalu aku kenal polanya.
Aku memesan yang sama seperti biasa.
Ada sore di mana hujan turun tiba-tiba dan Sara terjebak di kantor lebih lama dari yang ia rencanakan — lapangan sudah tidak bisa dikunjungi, dan tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu atau mencari pekerjaan lain untuk diselesaikan.
Ia memilih yang kedua.
Aku masih di meja ketika ia menarik kursi di meja seberang — bukan mejanya sendiri, tapi meja kosong yang lebih dekat ke jendela, tempat dari mana hujan terlihat lebih jelas.
“Tidak apa-apa aku di sini?”
“Kantor semua orang,” jawabku tanpa menoleh dari layar.
Ia tidak bersuara lagi. Kami bekerja dalam diam yang tidak perlu diisi — diam yang terasa berbeda dari diam orang asing, lebih seperti diam dua orang yang sudah tahu kapan perlu berbicara dan kapan tidak.
Hujan di luar terdengar konsisten. Sesekali suara notifikasi. Sesekali suara Sara mengetik lebih cepat, yang artinya ada yang sedang ia kejar.
Di suatu titik, ia bersuara. “Ri.”
“Hm.”
“Di keluargamu, siapa yang paling banyak bicara?”
Pertanyaan yang tidak aku antisipasi. Aku berhenti mengetik.
“Tidak ada,” jawabku akhirnya.
Sara menoleh dari layarnya.
“Maksudnya?”
Aku meletakkan tangan dari keyboard. Di luar, hujan masih turun. Ruangan hampir kosong — hanya kami dan satu orang lagi di sudut yang sudah memakai headphone sejak tadi.
“Keluargaku… tidak banyak bicara,” kataku. “Bukan karena tidak saling peduli. Tapi lebih ke — semua orang sudah tahu caranya tanpa perlu diucapkan. Ayahku tidak pernah bilang sayang, tapi selalu ada di depan pintu kalau aku pulang malam. Ibuku tidak tanya aku baik-baik saja, tapi selalu ada makanan di meja kalau aku kelihatan tidak baik-baik saja.”
Sara tidak langsung menjawab. Mendengarkan dengan cara yang tidak banyak orang lakukan — tidak menyiapkan respons di tengah-tengah, hanya mendengarkan sampai selesai.
“Kedengarannya hangat,” katanya akhirnya.
“Iya.” Aku mengangguk pelan. “Tapi kadang aku tidak tahu apa yang mereka rasakan. Dan mereka tidak tahu apa yang aku rasakan. Karena tidak ada yang pernah bilang.”
Hening sebentar.
“Dan kamu tumbuh jadi orang yang sama,” kata Sara — bukan pertanyaan, tapi bukan juga tuduhan. Hanya sesuatu yang ia letakkan di udara dengan hati-hati.
Aku menatapnya.
Ia sudah kembali menatap layarnya. Tapi ada sesuatu di sudut bibirnya — bukan senyum, lebih ke ekspresi orang yang baru saja menghubungkan dua hal yang selama ini terpisah.