Cinta Tanpa Suara

Remith G
Chapter #7

#7 Lima Belas Menit

Rio

Setelah malam di warkop itu, canggung di antara kami perlahan hilang.

Tidak ada yang mengumumkan. Tidak ada yang memutuskan. Hanya satu hari ke hari berikutnya, dan sesuatu yang tadinya perlu usaha tiba-tiba tidak lagi membutuhkan usaha apa-apa.

Aneh.

Aku yang biasa diam, mulai bercerita macam-macam ke Sara.

Pertama kali aku menyadarinya adalah di pantry, suatu siang yang tidak direncanakan.

Aku sedang menunggu air panas ketika Sara masuk — juga tidak dengan rencana, juga hanya karena butuh sesuatu. Kami berdiri di sana, menunggu masing-masing, dan obrolan tumbuh dari tidak ada menjadi ada dengan cara yang sudah mulai aku kenal.

Di luar pantry, Sara adalah orang yang terlihat tidak terlalu peduli dengan sekitarnya — efisien, fokus, tidak banyak basa-basi. Tapi kalau hanya berdua, ia menjadi pribadi yang berbeda. Ia mendengarkan dengan cara yang membuat orang ingin terus berbicara — tidak menyela, tidak menyiapkan respons di tengah-tengah, hanya hadir sepenuhnya.

Dan entah bagaimana, aku mulai berbicara.

Tentang hal-hal kecil dulu — rekan kerja yang menyebalkan, laporan yang tidak ada habisnya, kopi kantor yang tidak pernah cukup panas. Lalu hal-hal yang sedikit lebih besar. Lalu hal-hal yang bahkan tidak aku sadari sedang aku ceritakan sampai sudah terucap.

“Aku nggak terbiasa ngomongin perasaan,” kataku di suatu titik, tanpa direncanakan. “Tapi anehnya sama kamu, kata-kata itu keluar sendiri.”

Sara menatapku sebentar.

Lalu tersenyum — tipis, hangat — dan menepuk bahuku sekali.

“Duluan ya,” katanya, lalu berjalan kembali ke mejanya.

Aku berdiri di pantry itu sendirian, dengan air panas yang sudah terlalu lama menunggu, dan kalimat yang baru saja aku ucapkan yang sepertinya lebih besar dari yang aku sadari waktu mengucapkannya.

Sara

Pagi itu aku datang terlambat.

Kantor sudah ramai waktu aku masuk — hal yang selalu aku hindari, karena ramai berarti harus merespons sapaan dari berbagai arah dan aku belum cukup siap untuk itu sebelum kopi pertama.

Aku berjalan ke mejaku dengan kepala sedikit menunduk.

Dan berhenti.

Di atas mejaku ada selembar catatan kecil — tulisan tangan, dua kata — dan di sebelahnya, satu gelas kopi yang masih mengepul.

Good morning

Aku mendongak, mencari ke arah meja Rio.

Ia mengangkat tangan sebentar, tersenyum, lalu kembali ke layarnya.

Aku duduk. Menyentuh gelas kopinya — hangat, pas — dan mengisyaratkan terima kasih ke arahnya dengan cara yang semoga cukup menyampaikan bahwa ini lebih dari sekadar kopi.

Hari-hari berikutnya, pantry jadi tempat kami.

Tidak pernah dijanjikan. Tidak pernah disebut. Hanya terjadi — kami berdua datang ke sana di waktu-waktu yang tidak selalu sama tapi entah kenapa selalu bertepatan, dan lima belas menit itu menjadi bagian dari hari yang paling aku tunggu tanpa pernah mengakuinya.

Dua hari sebelumnya, aku yang duluan di pantry.

Sudah menyiapkan dua kopi hitam sebelum Rio datang — bukan karena ada yang memintaku, hanya karena aku sudah tahu. Jam segini, setelah rapat pagi yang panjang, ia pasti butuh kopi kedua.

Lihat selengkapnya