Cinta Tanpa Suara

Remith G
Chapter #8

#8 Rindu Yang Tak Diharapkan


Rio

Kursi itu kosong hari ini.

Biasanya, ada tas punggung hitam yang tersampir di sana, atau setidaknya satu tumbler kuning yang menandakan pemiliknya sedang berada di suatu tempat di gedung ini. Tapi pagi ini, mejanya hanya menampilkan permukaan kayu yang dingin dan layar monitor yang mati.

Sara harus ke kantor cabang. Laporan tiga bulanan. Satu hari penuh.

Aku menatap kursi itu lebih lama dari yang perlu.

Lalu kembali ke layarku.

Sepertinya aku masih diselamatkan.

Tepat pukul sebelas, Nadya akan datang. Kami sudah janjian untuk makan siang — ia ada pertemuan dengan klien di dekat sini, dan ini pertama kalinya kami bertemu sejak aku pindah ke kantor pusat. Seharusnya aku sudah menghitung hari. Seharusnya pagi ini aku bangun dengan perasaan yang berbeda.

Tapi yang ada hanya satu pikiran kecil yang tidak aku minta:

Untung Sara tidak ada.

Aku tidak suka dengan diriku yang memikirkan itu.

Babe, aku di lobby ya.

Pesan itu masuk pukul sepuluh lewat empat puluh.

Lebih cepat dari yang aku perkirakan.

Aku menyimpan ponsel, merapikan mejaku, dan berjalan ke lift dengan langkah yang aku usahakan terasa normal. Di dalam lift, aku melihat bayangan diriku di pintu lift yang mengkilap — kemeja yang sama seperti hari-hari biasa, ekspresi yang aku harap tidak menunjukkan apa-apa.


Lobby.

Nadya berdiri dekat meja resepsionis, melambaikan tangan waktu melihatku keluar lift. Senyumnya yang paling cerah — senyum orang yang sudah menunggu sesuatu cukup lama dan akhirnya melihatnya datang.

Ia cantik hari ini. Selalu cantik. Blazer krem yang rapi, rambut yang tertata, cara berdirinya yang selalu menunjukkan seseorang yang tahu di mana ia berada dan nyaman di sana.

Aku membalas senyumnya.

Aku memeluknya.

Dan di dalam pelukannya yang hangat itu, aku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya aku rasakan — bukan rindu yang akhirnya terbayar, bukan lega yang menyebar ke seluruh dada. Hanya detak jantung seseorang yang sedang menjaga sesuatu agar tidak tumpah.

“Makan sekarang?” tanyaku, melepaskan pelukan lebih cepat dari yang ia harapkan mungkin.

“Ayo! Laper banget,” sahut Nadya, menggandeng lenganku.

Lenganku yang digandeng terasa berat.

Tidak seperti biasanya.

Kami makan di tempat yang ia pilih — restoran kecil dua blok dari gedung, yang menunya ia sudah lihat dari foto yang aku kirimkan malam sebelumnya. Nadya memesan dengan antusias, bercerita tentang kliennya pagi tadi, tentang proyeknya yang hampir selesai, tentang rencana akhir pekan yang ia susun dengan detail yang selalu membuatku kagum.

Aku mendengarkan.

Atau mencoba.

Ada momen di mana ia bercerita tentang sesuatu yang lucu — kejadian di kantornya yang melibatkan lift rusak dan presentasi yang hampir gagal — dan aku tertawa di waktu yang tepat, memberikan respons yang cukup, menunjukkan bahwa aku hadir.

Tapi di belakang semua itu, ada sesuatu yang diam-diam sibuk sendiri.

Aku memikirkan Sara. Aku memikirkan hal-hal yang aku lakukan dengan Sara.

Kata-kata itu keluar sendiri.

Aku memikirkan itu waktu Nadya sedang menceritakan sesuatu yang ia anggap penting.

Dan aku tahu itu tidak adil.

Lihat selengkapnya