Cinta Tanpa Suara

Remith G
Chapter #9

#9 Kembalinya Si Rahasia


Sara

Kantor pusat terasa dua kali lipat lebih dingin pagi ini.

Mungkin karena aku baru saja menghabiskan sehari penuh di kantor cabang yang AC-nya sering mati, atau mungkin karena ada debar yang tidak bisa kujelaskan saat kakiku melangkah keluar dari lift. Aku merapatkan kardigan, menyandang tas yang terasa lebih berat karena berisi kotak makan plastik—oleh-oleh nasi uduk legendaris dekat kantor cabang yang sengaja kubeli subuh tadi.

Aku berjalan menuju kubikelku, dan langkahku terhenti tepat dua meter sebelum sampai.

Di atas meja yang kemarin kosong, ada satu cup kopi, masih hangat. Dan di sebelahnya ada selembar kertas kuning kecil.

Hi. Glad you’re back! 

Aku tidak bisa menahan senyum.

Sederhana. Hanya lima kata dan satu simbol senyum yang digoreskan dengan pulpen hitam yang aku tahu persis itu milik siapa. Tapi bagiku, kertas kecil itu seolah mengubah seluruh suhu ruangan menjadi hangat. Aku tidak langsung duduk. Aku menyentuh pinggiran kertas itu dengan ujung telunjuk, memastikan lemnya merekat kuat.

Aku memutuskan untuk tidak membuangnya. Aku mencabutnya dari meja, menempelkannya di dinding kubikal, di samping kalender meja, supaya setiap kali aku mendongak dari tumpukan laporan, aku bisa melihatnya.

Lihat selengkapnya