Sara
Hendra kembali di hari Senin dengan ransel yang sama dan kardus yang sama seperti waktu ia pergi.
Aku melihatnya tiba di kursinya, lalu menghampirinya.
“Enak ya,” kataku, tangan terlipat di dada. “Udah minggu-minggu terakhir baru balik sini lagi. Aku sih kalau jadi kamu, nggak mau balik.”
Hendra menaruh kardusnya, menatapku dengan ekspresi datar. “Kangen juga kan sama aku.”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku menahan senyum — gagal. “Selamat datang kembali.”
“Makasih.” Ia melirik sekeliling, lalu kembali ke aku. “Semua baik-baik saja?”
“Baik-baik saja,” jawabku. “Seperti biasa.”
Kami makan siang berdua hari itu — Hendra yang mengajak, aku yang tidak punya alasan untuk menolak karena bekalku memang belum aku siapkan.
Kantin ramai seperti biasa. Hendra makan dengan efisiensi yang tidak pernah berubah. Aku mengaduk kuahku tanpa terlalu memakannya.
“Hmm, Hen.”
“Apa.” Ia tidak mendongak dari nasinya.
“Kepo nih.”
Kali ini ia mendongak. Mengangkat dagunya sedikit. “Apa.”
“Nadya itu…” aku berhenti sebentar. Bukan karena tidak yakin — aku sudah yakin sejak malam di kosanku, sejak layar ponsel itu menyala dan nama itu muncul dengan simbol kecil di sebelahnya. Aku hanya butuh seseorang mengucapkannya dengan keras supaya ia menjadi nyata sepenuhnya. “Pacarnya Rio ya?”
Hendra meletakkan sendoknya.
Menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca sepenuhnya — bukan kaget, lebih ke seseorang yang baru saja menyadari ada yang belum beres.
“Jadi dia belum bilang.” Bukan pertanyaan. Ia menghela napas pendek. “Brengsek juga tuh anak.”
Aku tidak menjawab.
Di luar kantin, suara orang-orang berlalu-lalang. Sendok beradu piring. Dunia berjalan seperti biasa, tidak peduli ada yang sedang duduk di kursi kantin dengan dada yang lebih berat dari tadi.
“Apes lu, Ra.” Hendra berkata akhirnya. “Jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar.”
Dua kalimat. Cukup untuk mengkonfirmasi semua yang sudah aku tahu tapi belum mau aku akui sepenuhnya.
Aku mengangguk pelan — bukan karena setuju, tapi karena tidak ada yang perlu dibantah. Hendra berdiri, menepuk pundakku sekali — singkat, pelan — lalu kembali ke mejanya.