Cinta Tanpa Suara

Remith G
Chapter #11

#11 Perasaan Tanpa Kesempatan

Sara

Angin laut malam ini terasa jauh lebih dingin dari yang seharusnya.

Mungkin karena sudah tengah malam. Mungkin karena pantai memang selalu terasa lebih luas di malam hari — seperti semesta sengaja membuka dirinya selebar-lebarnya tepat di saat kamu paling tidak ingin merasa kecil.

Atau mungkin karena hatiku sudah kembali dingin.

Ia kehilangan hangatnya.

Di belakangku, suara acara pembubaran tim masih terdengar samar — musik, tawa, gelas yang beradu. Semua orang merayakan enam bulan yang berhasil. Proyek selesai, target tercapai, besok masing-masing kembali ke cabang masing-masing.

Seharusnya aku di sana.

Tapi kakiku memilih ke sini — ke tepi air, di mana suara ombak cukup keras untuk menutupi hal-hal lain yang tidak ingin aku dengar.

Aku menatap laut yang gelap.

Dan pikiranku kembali ke kemarin.

Hari sebelumnya.

Aku sudah memutuskan sejak pagi.

Bukan keputusan yang mudah — aku sudah membalik-baliknya bermalam-malam, menyusun kata-kata yang ingin aku ucapkan, mempertimbangkan semua kemungkinan yang bisa terjadi setelahnya. Dan setiap kali aku sampai di kesimpulan yang sama: lebih baik diucapkan daripada dibawa pulang dan disimpan sampai busuk.

Aku sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sampai busuk.

"Rio. Bisa bicara sebentar?"

Ia duduk di mejanya. Hendra di sebelahnya, langsung memandangi kami dengan curiga yang tidak ia sembunyikan. Rio berdiri tanpa banyak tanya, menepuk pundak Hendra, dan berjalan mengikutiku.

Aku berjalan di depan.

Melewati lorong, melewati lift, melewati pintu yang membuka ke tangga darurat. Kakiku sempat berhenti di depan pantry — pintu itu tertutup, tapi aku tahu seperti apa dalamnya. Bangku mana yang paling nyaman. Jam berapa sinar matahari masuk dari jendela sebelah kiri. Berapa menit yang cukup untuk melupakan bahwa dunia di luar masih berjalan.

Aku tidak masuk.

Aku melanjutkan jalan ke atas.

Atap gedung siang itu sepi — hanya angin dan langit dan area merokok yang tidak ada yang pakai. Aku berhenti di dekat pagar pembatas, membelakangi Rio, menatap kota di bawah yang tidak peduli dengan apapun yang sedang terjadi di sini.

Hening.

Aku tidak tahu sudah berapa lama kami diam sebelum aku akhirnya membuka mulut.

"Aku cuma mau bilang..." Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku rencanakan. "Terima kasih."

Dari semua kata yang aku latih bermalam-malam — kalimat yang lebih panjang, lebih jujur, lebih berani — hanya itu yang mampu keluar.

Payah memang.

Tapi mungkin memang itu satu-satunya kata yang jujur. Yang lain terlalu besar untuk diucapkan kepada seseorang yang tidak bisa menerimanya.

Aku memutar tubuhku, siap pergi.

"Sara, tunggu—"

Tanganku tertahan.

Dan sebelum aku sempat memproses apapun, ada kehangatan yang melingkupi punggungku — pelukannya, akhirnya, setelah semua bulan yang berlalu tanpa pernah terjadi.

"Please," katanya. Satu kata. Tidak menjelaskan apa yang ia minta.

Aku menutup mata sebentar.

Merasakan hangat itu untuk terakhir kali.

Lihat selengkapnya