Hujan gerimis yang dingin selalu berhasil membawa ingatan Leo kembali pada aroma tanah basah dan bau obat-obatan apotek yang menyesakkan. Di tahun-tahun terakhirnya, dunia Leo tidak lebih dari sebuah kamar sempit berukuran tiga kali empat meter, dindingnya yang mengelupas menjadi saksi bisu atas kehancuran hidupnya yang bertumpuk-tumpuk.
Namun, kesadaran itu datang terlambat—selalu terlambat.
Suara detik jam dinding di masa lalu tiba-tiba berdengung di telinganya, menggantikan suara detak jantungnya yang melemah di atas ranjang rumah sakit. Leo membuka matanya lebar-lebar. Bukan langit-langit putih bernoda cairan infus yang ia lihat, melainkan langit-langit kamar asrama atau kamar rumah sederhananya di masa SMA—pemandangan kamar masa mudanya di rumah petak pinggiran kota.
Bruk!
Sebuah buku cetak tebal bersampul biru jatuh ke lantai kayu, memecah lamunannya. Leo tersentak, napasnya memburu. Ia menatap kedua tangannya. Tidak ada lagi keriput, kulit kendur, atau noda bekas jarum infus. Tangannya kokoh, namun terasa asing karena ia kembali berada dalam raga seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang tengah duduk di bangku kelas tiga SMA.
"Leo! Kamu masih melamun? Cepat selesaikan tugas matematika itu, atau ibu tidak akan izinkan kamu keluar malam ini!"
Suara lembut namun tegas itu... suara yang sudah belasan tahun tidak ia dengar dalam keadaan hidup. Suara ibunya.
Air mata Leo seketika tumpah tanpa bisa dicegah. Ia segera bangkit dari kursi belajarnya yang reyot, berputar, dan melihat sesosok wanita paruh baya dengan apron kain pudar sedang berdiri di ambang pintu, membawa segelas air hangat. Wajah ibunya masih terlihat segar, garis-garis keriput di wajahnya belum sepekat hari-hari terakhir sebelum wanita itu menutup mata dalam kesendirian dan kekecewaan mendalam terhadap anak tunggalnya.
"Ibu..." bisik Leo serak, suaranya bergetar hebat.
Ibunya mengerutkan kening, meletakkan gelas di atas meja belajar, lalu menempelkan telapak tangannya yang hangat ke dahi Leo. "Kamu ini kenapa? Demam? Kok menangis, sih? Ada masalah apa di sekolah?"
Kehangatan itu terasa begitu nyata. Sentuhan tangan ibunya langsung menghujam ulu hati Leo, membuka kembali luka penyesalan yang selama ini membakar jiwanya. Di masa depan yang keliru itu, Leo tumbuh menjadi pemuda egois yang menyia-nyiakan pengorbanan ibunya, mengejar cinta palsu yang berujung pada kebangkrutan, hingga akhirnya ia bahkan tidak berada di sisi ibunya saat wanita itu mengembuskan napas terakhirnya. Kegagalan ganda: gagal menjadi anak, dan gagal menata hidup.
"Bu..." Leo langsung memeluk pinggang ibunya erat-erat, membenamkan wajahnya di apron wanita itu, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Ibunya tampak terkejut, namun dengan sabar mengelus rambut hitam Leo. "Iya, iya... Anak laki-laki kok cengeng begini. Sudah, jangan bikin ibu khawatir. Sana, cuci muka. Habis itu kamu temani Mia di teras. Kasihan anak itu dari tadi menunggumu belajar kelompok."
Mendengar nama itu, tubuh Leo menegang seketika.
Mia.
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir ibunya, membangkitkan memori tentang seorang gadis yang selalu berdiri di balik pagar seng rumah mereka, teman masa kecil sekaligus teman sekelasnya.