Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #2

Bab 2: Aroma Bolu Hangat dan Janji yang Belum Terucap

Pintu kayu berderit pelan, membiarkan angin sore yang berbau sisa hujan dan tanah basah menyelinap masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana. Leo menepi, memberi jalan bagi Mia untuk melangkah masuk. Gadis kecil itu tampak ragu-ragu sejenak, kedua tangannya yang memegang buku komik lama saling meremas erat di depan rok biru tuanya.


"Masuklah, jangan di situ terus. Lantainya agak dingin kalau kamu berdiri terlalu lama di dekat pintu," kata Leo lembut.


Mia mendongak, menatap Leo dengan sorot mata abu-abunya yang tajam. Ada kilat keheranan yang tidak bisa ia sembunyikan di balik sikap dinginnya. Di mata anak seusianya, perubahan drastis pada diri Leo terasa begitu ganjil—seperti melihat kucing berubah menjadi harimau, atau sebaliknya. Namun, aroma manis bolu vanila yang mengepul dari arah dapur dengan cepat mengalahkan rasa curiganya.


"Aku... aku cuma mau makan kuenya, bukan berarti aku mau bertamu lama," gumam Mia membela diri, meski kakinya akhirnya melangkah masuk menapak ke lantai semen yang ditutupi tikar plastik usang.


Leo tersenyum tipis. Ia tahu betul pertahanan diri gadis itu. Di balik sifatnya yang kaku dan irit bicara, Mia adalah anak yang kesepian. Sejak kecil, paman yang menampung dan merawatnya setelah kedua orang tuanya tiada lebih sering menghabiskan waktu di warung kopi atau mabuk-mabukan daripada mengurus rumah. Rumah Mia dingin, sunyi, dan jarang sekali ada aroma masakan hangat atau kue yang baru dipanggang seperti di rumah Leo.


"Duduklah di meja makan dulu," ajak Leo sambil menuntun langkah kecil Mia menuju meja kayu kecil di sudut ruangan dekat dapur.


Di atas meja, sebuah piring seng beralaskan daun pisang bersih menyajikan potongan kue bolu buatan ibunya yang masih mengepulkan uap tipis. Ibunya, yang sedang membereskan cucian piring di dekat wastafel, menoleh sekilas dan tersenyum hangat melihat kehadiran Mia.


"Eh, ada Mia. Kebetulan sekali kuenya baru matang. Makan yang banyak ya, Nak. Badanmu kurus sekali, harus lebih sering makan di sini," sapa ibu Leo ramah sambil mengusap puncak kepala Mia pelan.


Mia sedikit tersentak saat tangan hangat ibu Leo menyentuh rambutnya. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya melunak. Ia menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona malu, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih... bibi," cicitnya nyaris tak terdengar.


"Sama-sama. Leo, temani Mia makan. Jangan dijahili terus seperti biasa. Ibu mau lanjut beres-beres sebentar di belakang," pesan ibu Leo sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Leo mengangguk patuh. Ia menarik kursi kayu di sebelah Mia dan duduk di sana. Diam-diam, ia mengamati setiap gerak-gerik gadis itu. Di kehidupan yang dulu, Leo tidak pernah benar-benar memperhatikan betapa rapuhnya Mia di usia dua belas tahun. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dengan pergaulan luar yang toxic, dan dengan kebodohannya yang merasa paling hebat. Sekarang, melihat pundak kecil itu bergetar halus saat Mia menggigit kue bolu pemberian ibunya, hati Leo terasa diremas oleh penyesalan yang teramat sangat.


*Di masa depan nanti, gadis sekecil ini menangis tersedu-sedu di hadapanku saat membawakan tabungannya untuk melunasi utang-utangku... dan aku malah mengusirnya,* batin Leo getir. Tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat. *Tidak. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.*


"Enak?" tanya Leo pelan, memecah keheningan di antara mereka.


Mia menghentikan kunyahannya sejenak. Ia menatap piring di depannya, lalu melirik Leo dari sudut matanya. "Biasa saja," jawabnya ketus, meski mulutnya masih mengunyah dengan lahap. "Tapi... lumayan manis."


"Kalau suka, besok ibu pasti akan buatkan lagi. Atau kalau mau, nanti aku yang belajar bikin kue sama ibu supaya bisa bikin buat kamu setiap hari," balas Leo tanpa ragu.


Mendengar itu, Mia hampir tersedak. Ia buru-buru meneguk segelas air putih yang disiapkan Leo di dekatnya. Wajah kecilnya memerah, kali ini bukan karena malu, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.


"Kamu... kamu sakit kepala ya? Atau kepalamu habis kebentur batu?" Mia menatap Leo dengan mata membelalak lebar, seolah ia sedang melihat makhluk asing dari planet lain. "Mana mungkin kamu mau belajar bikin kue? Biasanya juga kerjaanmu cuma main kelereng di lapangan sampai sore atau ngebut pakai sepeda roda tiga rusak itu."


Leo tertawa kecil. Tawa yang terdengar tulus, hangat, dan begitu dewasa bagi anak seusianya. "Aku serius, Mia. Mulai sekarang aku mau berubah. Aku mau belajar yang bener, bantu ibu di rumah, dan... memastikan kamu punya teman yang bisa diandalkan."


Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun memiliki bobot emosional yang membuat Mia terdiam seribu bahasa. Ada kesungguhan yang begitu pekat di dalam mata Leo—sebuah sorot ketulusan mutlak yang membuat dada Mia berdegup kencang dengan cara yang asing. Gadis itu menunduk, menghindari tatapan mata Leo yang terlalu intens, sementara jemarinya meremas ujung seragamnya sendiri.


"Siapa juga yang butuh diandalkan..." cibir Mia pelan, meski sudut bibirnya sempat terangkat sedikit membentuk senyuman tipis yang sangat cepat hilang sebelum Leo sempat menangkapnya sepenuhnya.


---


Matahari perlahan tenggelam di balik garis horizon barat, meninggalkan bias cahaya jingga keemasan yang menembus celah-celah jendela rumah petak itu. Setelah menghabiskan kue bolu dan menyelesaikan PR matematika yang sempat tertunda—dengan bantuan penjelasan sabar dari Leo yang membuat Mia keheranan karena Leo mendadak menjadi sangat pintar—Mia pamit pulang ke rumah pamannya yang berada tepat tiga pintu dari sana.


Leo mengantar Mia sampai ke depan pagar seng rumah mereka. Udara malam mulai menusuk kulit, membawa hawa dingin khas musim hujan di pinggiran kota industri tersebut.


"Besok pagi, aku jemput ke sini ya. Kita berangkat sekolah bareng," kata Leo ketika mereka berdiri di depan gerbang rumah Mia yang berderit tua.


Mia menghentikan langkahnya di ambang pintu halaman rumahnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Leo dengan alis bertaut. "Biasanya juga kamu selalu jalan duluan sama kelompok Riki dan anak-anak nakal itu. Kenapa jadi mau bareng aku?"


"Riki dan anak-anak itu tidak penting lagi, Mia," jawab Leo mantap. Suaranya terdengar serius, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Mulai sekarang, jalanku adalah jalanku sendiri. Dan aku ingin kita berangkat bersama setiap hari."


Mia terdiam lama. Lampu jalan kuning temaram di ujung gang menyinari separuh wajahnya, menampakkan binar kebingungan bercampur rasa hangat yang perlahan merayap di hatinya. Selama ini, ia terbiasa berjalan sendirian di bayang-bayang, menjadi anak yatim yang dikucilkan dan diabaikan. Tidak pernah ada seorang pun—bahkan pamannya sendiri—yang secara khusus berjanji untuk menunggunya dan berangkat bersama setiap pagi.


"Terserah kamu..." ucap Mia akhirnya dengan nada pelan, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona di balik kerah jaket tipisnya. "Tapi awas kalau kamu kesiangan. Aku tidak akan menunggu kalau kamu telat."


"Tenang saja. Aku tidak akan pernah telat lagi," balas Leo sambil tersenyum lebar. "Masuklah, di luar dingin. Selamat malam, Mia."


Mia mengangguk kecil, lalu berbalik dan membuka pintu rumahnya yang sunyi dan gelap. Sebelum pintu itu tertutup rapat, ia sempat melirik sekilas ke arah Leo yang masih berdiri di bawah lampu jalan, melambaikan tangan dengan senyuman paling tulus di dunia.


Lihat selengkapnya