Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #3

Aroma Bolu Hangat dan Tatapan yang Mengubah Segalanya

Pintu kayu berderit pelan, membiarkan angin sore yang berbau sisa hujan dan tanah basah menyelinap masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana. Leo menepi, memberi jalan bagi Mia untuk melangkah masuk. Gadis kecil itu tampak ragu-ragu sejenak, kedua tangannya yang memegang buku komik lama saling meremas erat di depan rok biru tuanya.


"Masuklah, jangan di situ terus. Lantainya agak dingin kalau kamu berdiri terlalu lama di dekat pintu," kata Leo dengan suara rendah yang terasa begitu dekat di telinga Mia.


Mia mendongak secara spontan. Sorot mata abu-abunya yang biasanya dingin dan tajam kini melebar, menangkap sesuatu yang tidak biasa pada diri Leo. Di usia dua belas tahun, anak laki-laki seusia Leo seharusnya kasar, urakan, dan penuh amarah jika rencana bermainnya terganggu. Namun, cara Leo menatapnya saat ini—penuh ketenangan, intens, dan menyaratkan perlindungan mutlak—membuat napas Mia tertahan seketika. Jantung gadis kecil itu mendadak berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya dengan ritme yang asing dan memusingkan.


*Ada apa dengan dia? Kenapa rasanya... berbeda?* bimbang Mia dalam hati, buru-buru membuang muka demi menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba membakar kedua pipinya.


Aroma manis bolu vanila yang mengepul dari arah dapur dengan cepat menyelamatkan Mia dari kecanggungan yang mencekam itu.


"Duduklah di meja makan dulu," bisik Leo lagi, suaranya pelan namun tegas, membuat kaki Mia seolah bergerak sendiri mengikuti titah tersebut.


---


Di atas meja, sebuah piring seng beralaskan daun pisang bersih menyajikan potongan kue bolu buatan ibunya. Ibu Leo yang sedang membereskan cucian piring menoleh sekilas dan tersenyum hangat. "Eh, ada Mia. Makan yang banyak ya, Nak."


Mia mengangguk kaku, duduk di kursi kayu di sebelah Leo. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat aroma sabun cuci dan udara luar dari pakaian Leo menguar ke indra penciuman Mia, menciptakan ketegangan halus yang membuat perut gadis itu terasa tergelitik. Ia menggigit secuil kue bolu dengan gerakan kaku, berusaha menghindari kontak mata.


Leo tidak makan. Ia hanya duduk bersandar, menatap lurus ke arah profil wajah Mia yang sedang salah tingkah. Tatapan mata Leo begitu intens—bukan tatapan anak kecil, melainkan sorot mata seorang pria dewasa yang menyimpan ribuan rahasia mengerikan dan penyesalan mendalam.


"Enak?" tanya Leo tiba-tiba, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Mia.

Lihat selengkapnya