Suara derit kipas angin tua di langit-langit kelas berputar lambat, memecah keheningan sore hari yang mulai merayap. Jam pelajaran terakhir baru saja usai, namun sebagian besar siswa masih duduk di bangku masing-masing untuk membereskan buku ke dalam tas. Di bangku barisan tengah dekat jendela, Leo merapikan buku catatannya dengan gerakan teratur dan tenang.
Namun, ketenangan di luar itu berbanding terbalik dengan apa yang bergolak di dalam dadanya. Sejak kejadian di gerbang sekolah tadi pagi, di mana ia berdiri kokoh menjadi perisai bagi Mia dari gertakan Riki, suasana di antara mereka berdua berubah drastis. Ada ketegangan yang manis, namun juga mematikan bagi saraf-saraf kewaspadaan mereka. Setiap kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil kapur tulis atau buku di atas meja, aliran sengatan listrik seolah melompat langsung ke kulit, membuat napas keduanya tertahan.
Di bangku sebelah, Mia menunduk dalam-dalam. Wajah kecilnya yang biasanya pucat kini tampak merona kemerahan hingga ke pangkal telinga. Gadis itu berpura-pura sibuk merapikan pita rambutnya yang sebenarnya sudah sangat rapi, sementara ekor matanya terus mencuri pandang ke arah Leo.
*Ada apa dengan dia hari ini?* batin Mia gelisah, jantungnya berdetak liar setiap kali ia menyadari betapa dekatnya jarak bahu mereka. *Kenapa rasanya... berbeda? Dia bukan lagi Leo yang menyebalkan.*
Leo menyadari tatapan curi-curi itu. Ia menoleh perlahan, sengaja memiringkan kepalanya sedikit hingga mata mereka beradu secara langsung. Sorot mata abu-abu Mia membelalak kaget, bagaikan rusa kecil yang tertangkap basah sedang mengamati pemburunya. Alih-alih mengalihkan pandangan, Leo justru menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh makna yang membuat dada Mia bergemuruh hebat, memaksa gadis itu segera membuang muka ke arah luar jendela sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat.
"Mia," panggil Leo dengan suara rendah, sengaja mendekatkan wajahnya sedikit ke arah bangku gadis itu.
"A-apa?!" balas Mia setengah berbisik, nadanya terdengar defensif meski suaranya bergetar hebat. Ia tidak berani menoleh, takut Leo bisa mendengar betapa cepat deru jantungnya saat ini.
"Nanti sore, temani aku sebentar ke toko buku bekas di dekat pasar lama," kata Leo lembut, tanpa memberi ruang penolakan. "Ada beberapa buku catatan tambahan yang harus kubeli untuk persiapan ujian kenaikan kelas nanti. Aku ingin kamu yang pilihkan."
Mia menelan ludah dengan susah payah. Toko buku bekas di dekat pasar lama adalah tempat yang sepi, remang-remang, dan lorong-lorong raknya yang sempit terkenal sangat sempit. Membayangkan harus berdua saja di tempat tertutup dengan Leo yang bersikap aneh dan begitu dominan membuat lututnya terasa lemas.
"K-kenapa harus aku? Minta tolong anak lain saja..." cicit Mia menolak setengah hati, meski jemarinya sudah meremas erat tali tas selempangnya.
"Karena aku hanya percaya pilihanmu," potong Leo cepat, suaranya terdengar begitu mutlak dan dalam, menghantam langsung pertahanan terakhir di hati Mia.
---
Langit sore berubah warna menjadi jingga kemerahan ketika jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Udara sore terasa sejuk setelah gerpun rintik sisa siang tadi menguap dari aspal jalanan. Sesuai janji, Leo dan Mia berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak menuju kawasan pasar lama di ujung distrik.
Suasana di sekitar pasar lama tampak mulai sepi. Kios-kios pedagang sayur dan kelontong mulai membereskan dagangan mereka, menyisakan bau khas tanah basah dan aroma kayu tua dari toko-toko buku loak yang berjajar di sepanjang trotoar sempit. Lampu-lampu neon warna kuning pudar mulai menyala satu per satu, memantulkan bayangan panjang dua anak manusia yang berjalan sangat dekat.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap di antara mereka. Namun, keheningan itu sama sekali tidak terasa canggung; sebaliknya, keheningan itu dipenuhi oleh debaran jantung yang berpacu dalam tempo cepat. Setiap kali angin berhembus membawa aroma sabun mandi dari tubuh Mia, Leo harus mengerahkan seluruh sisa kewarasannya agar tidak meraih tangan kecil gadis itu dan memeluknya erat-erat ke dalam dekapannya. Di kehidupan masa lalu yang hancur berkeping-keping, Leo tidak pernah memiliki kesempatan untuk menikmati momen-momen sederhana yang begitu berharga ini.