Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #4

Bab 4: Bayangan di Bawah Lampu Neon dan Detak Jantung yang Tak Terkendali

Suara derit kipas angin tua di langit-langit kelas berputar lambat, memecah keheningan sore hari yang mulai merayap. Jam pelajaran terakhir baru saja usai, namun sebagian besar siswa masih duduk di bangku masing-masing untuk membereskan buku ke dalam tas. Di bangku barisan tengah dekat jendela, Leo merapikan buku catatannya dengan gerakan teratur dan tenang.


Namun, ketenangan di luar itu berbanding terbalik dengan apa yang bergolak di dalam dadanya. Sejak kejadian di gerbang sekolah tadi pagi, di mana ia berdiri kokoh menjadi perisai bagi Mia dari gertakan Riki, suasana di antara mereka berdua berubah drastis. Ada ketegangan yang halus, namun cukup menguji saraf kewaspadaan mereka. Setiap kali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil buku di atas meja, aliran hangat seolah melompat langsung ke kulit, membuat napas keduanya tertahan.


Di bangku sebelah, Mia menunduk dalam-dalam. Wajahnya yang biasanya pucat kini tampak merona kemerahan hingga ke pangkal telinga. Gadis itu berpura-pura sibuk merapikan pita rambutnya yang sebenarnya sudah rapi, sementara ekor matanya terus mencuri pandang ke arah Leo.


*Ada apa dengan dia hari ini?* batin Mia gelisah, jantungnya berdetak liar setiap kali ia menyadari betapa dekatnya jarak bahu mereka. *Kenapa rasanya... berbeda? Dia bukan lagi Leo yang menyebalkan.*


Leo menyadari tatapan curi-curi itu. Ia menoleh perlahan, sengaja memiringkan kepalanya sedikit hingga mata mereka beradu secara langsung. Sorot mata abu-abu Mia membelalak kaget, bagaikan seseorang yang tertangkap basah sedang mengamati. Alih-alih mengalihkan pandangan, Leo justru menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh makna yang membuat dada Mia bergemuruh hebat, memaksa gadis itu segera membuang muka ke arah luar jendela sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat.


"Mia," panggil Leo dengan suara rendah, sengaja mendekatkan wajahnya sedikit ke arah bangku gadis itu.


"A-apa?!" balas Mia setengah berbisik, nadanya terdengar defensif meski suaranya bergetar hebat. Ia tidak berani menoleh, takut Leo bisa mendengar betapa cepat deru jantungnya saat ini.


"Nanti sore, temani aku sebentar ke toko buku bekas di dekat pasar lama," kata Leo lembut, tanpa memberi ruang penolakan. "Ada beberapa buku catatan tambahan dan bank soal yang harus kubeli untuk persiapan ujian akhir. Aku ingin kamu yang pilihkan."


Mia menolak dengan refleks. Toko buku bekas di dekat pasar lama adalah tempat yang sepi, remang-remang, dan lorong-lorong raknya terkenal sangat sempit. Membayangkan harus pergi berdua saja di tempat tertutup dengan Leo yang bersikap aneh dan begitu dominan membuat lututnya terasa lemas.


"K-kenapa harus aku? Minta tolong anak lain saja..." cicit Mia menolak setengah hati, meski jemarinya sudah meremas erat tali tas selempangnya.


"Karena aku hanya percaya pilihanmu," potong Leo cepat, suaranya terdengar begitu mutlak dan dalam, menghantam pertahanan yang coba Mia bangun.


---


Langit sore berubah warna menjadi jingga kemerahan ketika jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Sesuai janji, Leo dan Mia berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak menuju kawasan pasar lama di ujung distrik.

Lihat selengkapnya