Udara malam di luar toko buku tua terasa jauh lebih pekat ketika Leo dan Mia melangkah keluar. Langit yang tadinya hanya menyisakan sisa-sisa gerimis sore kini mulai berubah warna menjadi kelam kehitaman, digantung oleh gumpalan awan tebal yang membawa aroma khas petrikor—campuran tanah basah dan desau angin dingin yang menusuk tulang. Di tangan kanan Mia, sebuah kantong kertas cokelat berisi dua buku latihan soal matematika kelas enam tergenggam erat. Jantung gadis itu masih berdegup kencang, memantulkan sisa-sisa emosi dari pelukan singkat di lorong sempit toko tadi. Wajahnya tertunduk, menyembunyikan rona merah yang belum sepenuhnya surut dari pipinya.
"Hati-hati jalannya, genangannya cukup dalam di sini," suara Leo terdengar lembut di sebelah kanannya.
Tanpa ragu, Leo mengulurkan tangan kanannya, menggenggam pergelangan tangan Mia pelan namun pasti untuk menuntun gadis itu menghindari kubangan air lumpur di trotoar yang rusak. Sentuhan kulit itu membuat tubuh Mia menegang seketika. Ada sengatan hangat yang menjalar dari pergelangan tangannya langsung ke lubuk hatinya, melenyapkan dinginnya malam yang mulai merayap. Mia tidak menarik tangannya; ia justru membiarkan jemari Leo menuntun langkahnya, menikmati rasa aman yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Namun, ketenangan malam itu tidak berlangsung lama.
Ketika mereka berbelok memasuki gang sempit menuju kawasan perumahan tempat tinggal mereka, bayangan beberapa orang dewasa yang berdiri di bawah lampu jalan temaram mulai terlihat. Di dekat pagar rumah Mia, sesosok pria bertubuh gempal dengan bau alkohol yang menyengat sedang berdiri berkacak pinggang, dikelilingi oleh dua orang tetangga yang tampak sibuk melerai. Pria itu adalah paman Mia—pemberi tumpangan yang lebih sering menghabiskan uang hasil kerja serabutan untuk berjudi dan mabuk-mabukan daripada memikirkan nasib keponakannya.
"Kemana saja anak sialan itu dari tadi malam?! Berani-aninya keluyuran sampai malam begini!" suara benturan botol kosong dan umpatan kasar meluncur deras dari mulut sang paman, memecah kesunyian gang.
Mia mendadak menghentikan langkahnya. Seluruh warna di wajahnya memudar seketika, menyisakan pucat pasi yang mengerikan. Genggaman tangannya pada kantong kertas buku mendadak melekat erat hingga kertasnya kusut. Trauma masa lalu, rasa takut akan kemarahan pria itu, dan luka batin yang selama ini ia pendam kembali mencengkeram jiwanya dengan kejam. Tubuhnya bergetar hebat, dan napasnya mulai tersengal-sengal.
Leo merasakan perubahan drastis pada tubuh Mia yang ada di sampingnya. Ia melihat tangan gadis itu bergetar ketakutan. Seketika itu juga, kilas balik masa depan berkelebat di kepala Leo—bagaimana paman tersebut di masa lalu sering menyiksa mental Mia, memukulnya saat mabuk, hingga membuat Mia tumbuh menjadi gadis yang tertutup, penuh luka, dan rapuh sebelum akhirnya Leo sendiri gagal menyelamatkannya dari cengkeraman kemiskinan dan penderitaan keluarga.
*Tidak. Kali ini tidak akan kubiarkan bajingan itu menyentuhnya sedikit pun,* batin Leo bergemuruh, matanya menyipit tajam menyimpan amarah yang mendidih.