Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #6

Bab 6: Bayangan Masa Lalu dan Sumpah di Bawah Langit Kelabu

Hujan gerimis yang tadinya hanya menyapu permukaan jalan setapak perlahan-lahan berubah menjadi rintikan air yang semakin rapat, menghadirkan aroma tanah basah yang menusuk hidung dan mendinginkan udara malam di kawasan pinggiran kota industri tersebut. Di bawah naungan atap seng teras rumah Mia yang berkarat, Leo berdiri dengan tenang sambil mengenakan jaketnya yang tadi ia sampirkan untuk Mia.


Napas Mia masih terdengar sedikit tersengal-sengal. Isak tangis kecil yang sempat pecah kini berangsur-angsur mereda, menyisakan getaran-getaran halus pada tubuh gadis itu. Tangannya masih mencengkeram erat ujung kain tas selempangnya, seolah berusaha mencari pegangan di tengah rasa syok yang melanda.


Leo tidak mendekat secara berlebihan; ia menjaga jarak dengan sopan untuk memberikan ruang bagi Mia menenangkan diri. Sebelah tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara matanya mengawasi pintu rumah Mia yang sudah tertutup rapat. Di dalam kepalanya, badai pikiran bergemuruh hebat. Konfrontasi dengan paman Mia tadi malam baru permulaan. Di masa lalu, pria tersebut sering menjadi sumber tekanan psikologis yang membuat Mia memilih menutup diri dari dunia luar.


Aku tidak akan membiarkan garis takdir itu terulang, sumpah Leo dalam hati, menatap tajam ke arah bayangan gelap di balik pintu rumah Mia. Apapun yang terjadi, aku akan mengubah hidupmu.


Perlahan-lahan, Mia menegakkan kepalanya. Wajah kecil gadis itu tampak sembab, dengan mata abu-abunya yang basah, memancarkan binar kebingungan bercampur rasa lega yang teramat dalam.


"Leo..." panggil Mia lirih, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh. "Kenapa... kenapa kamu berbuat sejauh ini buat aku? Kamu nggak takut kalau paman membuat masalah besar besok?"


Leo menatap lurus ke dalam mata Mia dengan tenang. "Kenapa aku harus takut? Tidak ada seorang pun yang punya hak untuk meneror atau menyakitimu, Mia—bahkan orang yang tinggal satu atap denganmu."


Kata-kata itu meluncur begitu tulus, menghantam dinding pertahanan terakhir di hati Mia. Gadis itu kembali merasakan gelombang kehangatan yang melingkupi rongga dadanya, melenyapkan sebagian rasa sepi dan dingin yang selama ini membeku di jiwanya. Bibir kecilnya bergetar, membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia tunjukkan.


"Terima kasih, Leo..." bisik Mia tulus.


"Sama-sama," balas Leo tersenyum tipis. Ia kemudian melangkah mundur perlahan. "Sudah malam, masuklah ke dalam dan istirahat yang cukup. Besok pagi kita harus bersiap untuk sekolah. Jangan dipikirkan lagi kejadian tadi, ya."


Mia mengangguk pelan, lalu membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Setelah mendengar bunyi gerendel pintu dikunci dari dalam, Leo baru membalikkan badan dan berjalan pulang menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari sana.


Keesokan paginya, matahari terbit di balik gumpalan awan tipis, menyebarkan cahaya keemasan yang menghangatkan kawasan perumahan. Di rumah Leo, aroma nasi hangat dan sup sayur buatan sang ibu sudah menguar memenuhi dapur. Ibu Leo sedang menata piring ketika Leo melangkah keluar kamarnya dengan seragam putih abu-abu SMA yang disetrika rapi.


"Wah, anak ibu pagi ini benar-benar kelihatan bersemangat," puji sang ibu sambil tersenyum lebar. "Tidurmu nyenyak sekali, Le? Ibu perhatikan belakangan ini kamu jadi lebih fokus dan bertanggung jawab. Ada apa, hm?" canda sang ibu sambil tertawa kecil.


Leo mendadak tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya merona merah karena ucapan ibunya itu secara tidak langsung tepat sasaran. Ia segera duduk di kursi untuk menyembunyikan salah tingkahnya. "Ah, Ibu bisa saja. Aku cuma sadar kalau aku harus jadi anak yang bisa dibanggakan."


Lihat selengkapnya