Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #7

Bab 7: Bayangan Waktu yang Bergeser dan Badai di Lorong Sekolah

Mentari pagi di awal musim semi menyinari pelataran Sekolah Dasar Negeri Tunas Harapan dengan bias cahaya keemasan yang hangat, namun udara dingin sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di ujung-ujung daun. Di dalam ruang kelas kelas enam, suara kapur tulis bergesekan dengan papan tulis hitam menghasilkan bunyi cit-cit yang konstan. Pak Harun sedang menuliskan rumus pecahan rumit di papan, sementara anak-anak sibuk menyalinnya ke dalam buku catatan masing-masing.


Leo duduk tegak di bangkunya, tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya melayang jauh. Sudah hampir setahun sejak ia mengalami keajaiban transisi waktu kembali ke masa usianya yang dua belas tahun. Selama kurun waktu tersebut, banyak hal yang berhasil ia ubah. Hubungannya dengan sang ibu jauh lebih harmonis, tidak ada lagi bantahan kasar atau kekecewaan mendalam. Dan yang paling penting, Mia gadis kecil bersorot mata abu-abu yang duduk tepat dua bangku di depannya kini tidak lagi hidup dalam ketakutan yang terisolasi.


Namun, semakin Leo berusaha mengubah masa depan, semakin ia menyadari bahwa roda takdir memiliki gravitasi tersendiri. Ada hal-hal kecil yang mulai bergeser, menciptakan riak-riak kecil yang tidak terduga di lini masa baru ini.


Di bangkunya, Mia tampak sesekali menoleh ke belakang dengan gerakan cepat, memastikan Leo masih ada di sana. Sejak insiden konfrontasi dengan sang paman beberapa bulan lalu, perlindungan mutlak yang diberikan Leo telah meruntuhkan tembok es pertahanan Mia. Gadis itu tidak lagi menutup diri dari dunia luar. Meskipun sifatnya tetap pendiam dan irit bicara, senyuman tipis kini sering kali terukir di bibirnya khususnya ketika hanya ada mereka berdua.


*Kringgg!*


Suara bel istirahat berbunyi nyaring, membuyarkan konsentrasi seisi kelas. Anak-anak langsung bersorak riang, membereskan alat tulis mereka dan berhamburan keluar menuju halaman sekolah.


"Leo," panggil suara kecil yang sudah sangat akrab di telinga Leo. Mia berdiri di samping bangkunya, merapikan tali tas selempangnya sambil menatap ragu. "Kamu... mau ke kantin bareng, atau mau latihan soal matematika lagi seperti kemarin?"


Leo tersenyum lembut, merapikan bukunya ke dalam laci. "Kita ke kantin dulu, Mia. Kamu belum makan apa-apa dari pagi, nanti perutmu sakit lagi."


Pipi Mia merona merah. Ia mendengus kecil, pura-pura kesal. "Aku bukan anak kecil yang gampang sakit perut..." protesnya pelan, meski kakinya tetap setia menunggu langkah Leo untuk berjalan berdampingan keluar kelas.


Namun, langkah mereka terhenti begitu menuruni anak tangga koridor lantai dua.


Suasana di koridor utama tampak lebih ramai dari biasanya. Sekelompok anak-anak berkerumun di depan papan pengumuman sekolah. Di tengah kerumunan itu, berdiri Riki yang kini posturnya tampak sedikit lebih tinggi dan besar dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak insiden di ruang kepala sekolah tahun lalu, Riki menyimpan dendam kesumat yang membara terhadap Leo. Meskipun ia tidak lagi berani berbuat semena-mena secara langsung berkat ketegasan Leo dan pengawasan guru, Riki menggunakan cara lain: manipulasi sosial dan pengaruh kelompok.


Melihat kehadiran Leo dan Mia, Riki menyeringai licik. Ia sengaja mengangkat selembar kertas selebaran lusuh di tangannya sebuah selebaran pengumuman pendaftaran lomba cerdas cermat tingkat distrik yang disponsori oleh pabrik tempat ayah Riki bekerja.


"Wah, wah... lihat siapa yang lewat," seru Riki dengan suara lantang sengaja agar didengar oleh puluhan siswa di sekitar koridor. "Si anak pembuat onar dan pelindungnya! Katanya mau ikut seleksi lomba cerdas cermat sains dan matematika mewakili sekolah. Padahal ya, anak dari keluarga pemulung dan janda miskin kayak dia mana mungkin ngerti soal-soal tingkat lanjut tanpa hasil nyontek!"

Lihat selengkapnya