Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #7

Bab 7: Bayangan Waktu yang Bergeser dan Badai di Lorong Sekolah

Mentari pagi di awal musim semi menyinari pelataran SMA Tunas Harapan dengan bias cahaya keemasan yang hangat, namun udara dingin sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di ujung-ujung daun. Di dalam ruang kelas dua belas, suara kapur tulis bergesekan dengan papan tulis hitam menghasilkan bunyi konstan. Pak Harun sedang menuliskan materi turunan fungsi aljabar di papan, sementara para siswa sibuk menyalinnya ke dalam buku catatan masing-masing.


Leo duduk tegak di bangkunya, tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya melayang jauh. Sejak ia mendapati kesadarannya kembali ke masa lalu saat duduk di bangku kelas tiga SMA, banyak hal yang berhasil ia ubah. Hubungannya dengan sang ibu jauh lebih harmonis, tidak ada lagi bantahan kasar atau kekecewaan mendalam akibat penyesalan masa lalu. Dan yang paling penting, Mia—gadis bersorot mata abu-abu yang duduk tepat dua bangku di depannya—tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan isolasi sosial.


Namun, semakin Leo berusaha mengarahkan masa depan ke jalur yang lebih aman, semakin ia menyadari bahwa lini masa memiliki dinamikanya sendiri. Ada riak-riak kecil yang mulai bergeser, menciptakan tantangan-tantangan baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


Di bangkunya, Mia tampak sesekali menoleh ke belakang dengan gerakan cepat, memastikan Leo masih ada di sana. Sejak insiden di mana Leo berdiri melindunginya, konsistensi sikap pemuda itu telah meruntuhkan tembok pertahanan Mia lapis demi lapis. Gadis itu tidak lagi menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Meskipun sifatnya tetap pendiam dan irit bicara, senyuman tipis kini sering kali terukir di bibirnya, khususnya ketika hanya ada mereka berdua.


Kringgg!


Suara bel istirahat berbunyi nyaring, membuyarkan konsentrasi seisi kelas. Para siswa langsung beranjak, membereskan alat tulis, dan berjalan keluar menuju koridor.


"Leo," panggil suara lembut yang sudah sangat akrab di telinga Leo. Mia berdiri di samping bangkunya, merapikan tali tas selempangnya sambil menatap ragu. "Kamu... mau ke kantin bareng, atau mau lanjut merangkum materi matematika seperti kemarin?"


Leo tersenyum tipis, merapikan bukunya ke dalam laci. "Kita ke kantin dulu, Mia. Kamu belum makan apa-apa dari pagi, nanti konsentrasi belajarmu terganggu."


Pipi Mia merona tipis. Ia mengalihkan pandangannya sesaat, pura-pura kesal. "Aku bisa jaga kesehatan sendiri..." protesnya pelan, meski kakinya tetap setia menunggu langkah Leo untuk berjalan berdampingan keluar kelas.


Namun, langkah mereka terhenti begitu menuruni tangga koridor utama lantai dua.


Suasana di koridor tampak lebih ramai dari biasanya. Sekelompok siswa berkerumun di depan papan pengumuman sekolah. Di tengah kerumunan itu, berdiri Riki. Posturnya tinggi dan atletis, namun ekspresinya selalu memancarkan permusuhan yang kentara. Riki masih menyimpan ketidaksukaan yang mendalam terhadap Leo sejak persaingan akademik dan sosial di antara mereka. Meskipun ia tidak lagi berani berbuat semena-mena secara langsung, Riki menggunakan cara lain: manipulasi opini dan pengaruh kelompok di antara siswa angkatan mereka.


Lihat selengkapnya