Mentari pagi di awal bulan Juli menyinari pelataran SMP Negeri 1 Utama dengan bias cahaya keemasan yang menyegarkan. Gerbang besi tinggi berwarna hijau tua itu tampak dipadati oleh ratusan siswa baru yang mengenakan seragam putih-biru khas Sekolah Menengah Pertama. Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan bergemuruh memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang jauh lebih dinamis dan bising dibandingkan masa-masa sekolah dasar.
Leo berdiri di dekat pilar utama halaman sekolah, merapikan kerah seragam biru dongkernya yang terasa sedikit kaku di tubuh remajanya yang mulai meninggi. Di usia tiga belas tahun menjelang empat belas ini, struktur wajah Leo tampak semakin tegas, dengan sorot mata hitam yang memancarkan ketenangan matang di luar usianya. Meskipun ia diterima di SMP negeri utama yang menjadi pusat distrik, pikirannya tidak sepenuhnya berada di lingkungan baru tersebut.
Di seberang distrik, di arah yang berlawanan, Mia hari ini juga sedang menjalani hari pertamanya di SMP Swasta Cahaya Bangsa. Meskipun jarak sekolah mereka terpisah sekitar tiga kilometer, Leo sudah menepati janjinya sejak pagi-pagi sekali.
*Flashback beberapa jam sebelumnya...*
Pukul enam pagi lewat seperempat, Leo sudah berdiri tegak di depan pagar rumah Mia. Begitu pintu bercat luntur itu terbuka dan Mia melangkah keluar mengenakan seragam putih-biru dengan dasi kecil rapi serta rambut yang dikepon rapi, mata Leo berbinar lembut.
"Pagi, Mia," sapa Leo ceria, menyodorkan sekotak kecil susu cokelat hangat yang dibawanya.
Mia merona merah, menerima kotak susu itu dengan tangan sedikit bergetar. "Pagi, Leo... Kamu kan searah kalau langsung ke SMP Negeri 1, kenapa harus mampir ke sini dulu? Nanti kamu bisa telat."
"Mana mungkin aku biarkan kamu berangkat sendirian di hari pertama sekolah," balas Leo mantap sambil tersenyum tulus. "Meskipun nanti kita pisah arah ke sekolah masing-masing, aku akan selalu pastikan kita jalan bersama sampai di persimpangan jalan raya utama."