Pagi berikutnya, suasana di SMA Tunas Harapan sudah kembali normal seperti hari-hari biasa.
Sebagian besar siswa kelas XII mulai disibukkan dengan urusan masa depan mereka masing-masing setelah pengumuman kelulusan resmi dibagikan. Ada yang mengurus berkas pendaftaran kuliah ke luar kota, mencari informasi tempat tinggal bagi yang merantau, atau sekadar menikmati hari-hari terakhir di lingkungan sekolah sebelum benar-benar melangkah meninggalkan gerbang utama.
Leo datang lebih pagi dari biasanya.
Ia berjalan melewati koridor utama yang masih sepi sambil membawa beberapa dokumen penting yang berkaitan dengan pendaftaran universitas dan syarat administrasi beasiswa. Sesekali, ia berhenti sejenak untuk memeriksa kembali isi map transparan di tangannya, memastikan tidak ada satu pun syarat yang terlewat atau kurang tanda tangan.
Semua berjalan sesuai rencana.
Setidaknya, itulah yang ia pikirkan sepanjang perjalanan menuju ruang kelas.
Namun, ketika ia melewati area ruang kepala sekolah, langkah kaki Leo tiba-tiba terhenti secara otomatis. Pintu ruangan itu terbuka lebar, dan Pak Hartono berdiri di balik meja kerjanya dengan raut wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
"Leo," panggil Pak Hartono tegas.
Leo menoleh, sedikit terkejut mendapati kepala sekolah memandangnya. "Iya, Pak?"
"Masuk sebentar."
Nada suara kepala sekolah yang kaku membuat Leo merasakan firasat buruk yang tidak biasa. Ada sesuatu yang mengganjal di udara, menciptakan getaran kecil di balik dadanya.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan dan berdiri tegak di depan meja kayu besar itu. Pak Hartono menunjuk sebuah kursi kosong di hadapannya dengan gestur tangan yang tenang namun berat.
"Duduk."
Leo menurut, menarik kursi tersebut lalu duduk dengan punggung tegap.
Beberapa detik kemudian, Pak Hartono mengambil sebuah map cokelat tebal yang terletak tepat di tengah meja. Map itu tampak tidak asing, sebuah arsip lama yang kelihatannya sudah lama tidak dibuka oleh siapapun.
"Bapak mau menanyakan sesuatu kepada kamu," ujar Pak Hartono membuka percakapan.
Leo memperhatikan map cokelat tersebut dengan saksama. Alisnya sedikit berkerut, mencoba menebak apa isi di dalamnya. "Berkas apa, Pak?"
Pak Hartono membuka halaman pertama map tersebut dengan gerakan lambat. "Catatan kedisiplinan dan arsip konseling kamu dari tahun-tahun sebelumnya."
Leo terdiam. Seketika itu juga, memori masa lalunya berkelebat di dalam kepalanya.
Di kehidupan sebelumnya, sebelum ia mendapatkan kesempatan kedua ini, ia memang pernah menjadi remaja yang bermasalah. Ia sering membolos, terseret dalam pergaulan yang salah, bersikap kasar kepada beberapa orang, dan beberapa kali mendapat teguran keras hingga catatan skorsing dari pihak bimbingan konseling sekolah.
Namun, sebagian besar masalah itu seharusnya sudah terkubur di masa lalu. Berdasarkan ingatannya, sekolah memiliki prosedur pembersihan arsip siswa setelah mereka naik ke tingkat akhir, atau setidaknya catatan itu tidak akan mendadak muncul dan menjadi bahan evaluasi di hari-hari kelulusan seperti ini.
"Kenapa berkas itu baru muncul sekarang, Pak?" tanya Leo, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang dan tidak bergetar.
"Itu juga yang sedang Bapak tanyakan," jawab Pak Hartono sambil membalik beberapa halaman dokumen di depannya. "Menurut standar administrasi arsip sekolah, berkas ini seharusnya tersimpan di ruang arsip tertutup bersama dokumen-dokumen lama lainnya. Bapak sama sekali tidak tahu siapa yang sengaja mengeluarkannya dan meletakkannya di atas meja Bapak pagi ini."
Leo menatap lembaran-lembaran kertas yang mulai menguning di pinggirannya itu. Ada sesuatu yang terasa sangat janggal. Ia memang mengenali sebagian catatan kedisiplinan di dalamnya, tetapi ketika ia melirik sekilas ke beberapa bagian bawah halaman, ada kalimat-kalimat tambahan yang tidak pernah ia rasakan atau lakukan sebelumnya—seolah-olah isi berkas itu telah dimanipulasi agar terlihat jauh lebih buruk dari kenyataannya.
"Pak..." panggil Leo hati-hati.
"Ya?"
"Apakah berkas lama ini berpengaruh langsung terhadap status pendaftaran universitas atau beasiswa yang sedang saya ajukan?"
Pak Hartono tidak langsung menjawab. Ia melepas kacamatanya sejenak lalu mengusap wajahnya. "Belum tentu secara otomatis menggugurkan, tetapi situasi ini rumit."
Jawaban itu membuat kewaspadaan Leo meningkat tajam. Ia tahu betul bagaimana mekanisme seleksi beasiswa dan rekomendasi sekolah negeri. Sedikit saja ada noda hitam dalam catatan kedisiplinan, pihak panitia seleksi universitas bisa dengan mudah mencoret namanya dari daftar penerima.