Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #11

Bab 11: Dibalik Dokumen

Hari-hari setelah kelulusan SMA ternyata tidak langsung terasa seperti awal kehidupan baru yang tenang dan membahagiakan seperti yang dibayangkan banyak orang. Di luar sana, draf masa depan membentang luas, tetapi bagi Leo, bayang-bayang masa lalu justru bergerak lebih cepat daripada langkah kakinya.


Leo masih beberapa kali harus kembali datang ke kompleks SMA Tunas Harapan. Tujuannya sederhana: mengurus sisa dokumen administrasi akhir yang diperlukan untuk melengkapi berkas pendaftaran masuk universitas pilihannya. Namun, berbeda dengan teman-teman seangkatannya yang mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan merantau atau merayakan kebebasan masa remaja mereka, Leo justru merasa pikiran dan batinnya belum bisa benar-benar tenang.


Berkas arsip lama yang secara misterius muncul di atas meja ruang kepala sekolah terus-menerus terbayang di kepalanya setiap kali ia memejamkan mata.


Bukannya ia merasa takut atau gentar dengan catatan kedisiplinan yang pernah ia torehkan di masa lalu—karena ia tahu betul siapa dirinya sekarang dan seberapa keras ia telah berusaha memperbaiki diri. Yang membuatnya dilanda kecemasan mendalam adalah alasan logis di balik kemunculan berkas itu sekarang.


Kenapa seseorang harus bersusah payah membongkar tumpukan dokumen usang, lalu meletakkannya dengan sengaja di meja kepala sekolah tepat di hari-hari kelulusan? Seseorang pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mematahkan langkahnya.


Pagi itu, udara terasa cukup cerah ketika Leo duduk di bangku panjang di depan perpustakaan sekolah. Ia sedang memeriksa lembar demi lembar dokumen pendaftaran universitas, memastikan tidak ada prasyarat yang terlewatkan.


Tidak lama kemudian, bayangan seorang gadis berambut dikucir rapi muncul dari balik tikungan koridor.


Mia berjalan mendekat dengan langkah ringan, membawa sebuah map bening di tangannya. "Kamu sudah lama di sini, Leo?" tanya Mia lembut sambil berdiri di samping bangku.


Leo mengangkat kepalanya, tersenyum kecil menyambut kedatangan gadis itu. "Baru sekitar sepuluh menit yang lalu."


Mia langsung duduk di sebelah Leo, meletakkan map bening itu di atas meja kayu. "Aku membawa sesuatu untuk dipastikan."


Leo menatap map tersebut dengan alis sedikit berkerut. "Apa itu?"


"Dokumen pendaftaran kampusku," jawab Mia jujur. "Aku hanya ingin memastikan semuanya sudah lengkap dan tidak ada yang tertinggal sebelum dikirim."


Tanpa banyak bicara, Leo mengangguk dan membantu Mia memeriksa dokumen tersebut satu per satu dengan teliti.


Formulir pendaftaran utama.

Fotokopi ijazah dan transkrip nilai.

Pas foto terbaru dengan latar belakang merah.

Surat rekomendasi akademik dari guru pembimbing.


Semuanya tersusun sangat rapi di dalam map plastik bening itu, mencerminkan kepribadian Mia yang teliti dan teratur.


"Sepertinya semuanya sudah lengkap dan tidak ada yang kurang," kata Leo setelah memeriksa lembar terakhir.


Mia menghela napas panjang, pundaknya yang tadinya sedikit tegang kini tampak jauh lebih rileks. "Syukurlah kalau begitu."


Leo tersenyum tipis melihat ekspresi lega di wajah gadis itu. "Kamu ini terlalu sering khawatir untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kamu tangani sendiri."


"Aku memang gampang cemas, kamu tahu kan," sanggah Mia pelan, meskipun ada rona tipis di pipinya.


Leo terdiam sejenak. Mendengar kalimat itu, ingatannya melayang kembali ke masa-masa awal mereka mengenal satu sama lain di kehidupan ini. Dulu, Mia memang selalu memendam kecemasan sendirian di balik tembok kesunyiannya. Namun, di kehidupan sebelumnya yang keliru, ia tidak pernah benar-benar memiliki kepekaan untuk memperhatikan kecemasan-kecemasan kecil yang sering disembunyikan oleh Mia karena ia terlalu egois memikirkan dunianya sendiri.


Sekarang, setelah mendapatkan kesempatan kedua, ia mulai memahami bahwa di balik sifat tenang dan irit bicaranya, Mia selalu memikirkan banyak hal demi bertahan hidup di dunia yang keras.


"Kalau nanti kamu merasa bingung atau kewalahan di kampus baru, jangan pernah dipendam sendirian," kata Leo dengan nada suara yang serius namun hangat.


Mia menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. "Kenapa?"


"Karena kamu punya kebiasaan buruk memikirkan semuanya sendirian tanpa mau meminta bantuan orang lain."


Mia terdiam mendengar teguran lembut itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya. "Kamu ternyata memperhatikanku dengan detail, ya."


Leo segera mengalihkan pandangannya ke arah halaman rumput di depan perpustakaan, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Sudah sejak lama."


Jawaban singkat itu membuat Mia kembali terdiam selama beberapa detik, menciptakan keheningan yang dipenuhi oleh debar rasa yang tidak terkatakan.


Namun, sebelum suasana di antara mereka menjadi semakin canggung, suara derap langkah kaki yang tegas terdengar memecah keheningan dari ujung koridor sekolah.


Pak Hartono, kepala sekolah mereka, sedang berjalan menuju arah ruang administrasi sambil membawa beberapa bendel dokumen penting di tangannya. Ketika mata kepala sekolah itu tidak sengaja melihat keberadaan Leo di depan perpustakaan, langkahnya langsung terhenti.


"Leo," panggil Pak Hartono.


Leo langsung berdiri dari bangkunya, bersikap sopan. "Iya, Pak?"

Lihat selengkapnya