Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #12

Bab 12 : Orang yang seharusnya tidak kembali

Malam itu, Leo tidak langsung merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


Ia duduk terpekur di kursi meja belajarnya yang diterangi lampu belajar bercahaya kuning temaram. Di hadapannya, sebuah buku catatan kosong terbuka lebar, ditemani oleh catatan-catatan acak yang telah ia susun dengan cermat sejak pertama kali kesadarannya kembali ke masa lalu.


Ada banyak hal yang berhasil ia ubah selama beberapa bulan terakhir.


Hubungannya dengan sang ibu jauh lebih hangat dan harmonis dari sebelumnya. Ia secara sadar menjauhi lingkaran pertemanan toksik yang dulu menjadi akar dari segala kehancurannya. Ia mulai serius merancang masa depan akademisnya tanpa keraguan. Dan yang paling penting, ia tidak lagi membiarkan Mia menghadapi kerasnya dunia sendirian.


Namun, kemunculan nama asing di dalam arsip rahasia sekolah siang itu telah membalikkan seluruh ketenangan yang baru saja ia bangun. Kejadian itu kembali memaksanya mempertanyakan satu hal mendasar: *Apakah perubahan-perubahan yang ia lakukan selama ini benar-benar sepenuhnya berada di bawah kendalinya?*


Leo meraih sebuah pena hitam di atas meja. Di halaman pertama buku kosong itu, dengan goresan tangan yang tegas, ia menuliskan sebuah judul:


*Orang-orang yang perlu diwaspadai.*


Ia mulai mendaftarkan beberapa nama yang masih terekam jelas di dalam memorinya dari kehidupan sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah teman sepermainan yang hobi menyeretnya ke dalam masalah; beberapa yang lain hanyalah orang-orang manipulatif yang sempat singgah dan memanfaatkan keadaannya.


Tetapi, di antara semua nama itu, ada satu nama yang terus-menerus berdengung di kepalanya, mencengkeram kesadarannya dengan kuat.


Nama yang muncul dalam arsip sekolah: *Dimas.*


Leo menatap tulisan nama 'Dimas' itu cukup lama, seolah-olah tinta hitam di atas kertas tersebut bisa memberikan penjelasan.


Di lini masanya yang dulu, Dimas adalah salah satu orang yang paling dekat dengannya ketika hidupnya mulai runtuh perlahan. Awalnya, hubungan mereka hanyalah pertemanan biasa antar-pemuda yang kebetulan sering menghabiskan waktu di luar rumah. Namun, perlahan tapi pasti, Dimas mulai mengenalkannya pada lingkungan pergaulan yang salah—dunia malam, taruhan tak sehat, dan keputusan-keputusan impulsif yang menghancurkan masa depannya.


Dalam kehidupan pertamanya, Leo tidak langsung menyadari betapa beracunnya pengaruh Dimas. Ia baru tersadar dan menyesalinya setelah semuanya terlambat dan nasi telah menjadi bubur.


Tetapi, ada satu kejanggalan besar yang sama sekali tidak masuk akal di lini masa yang sekarang.


Dimas seharusnya belum memiliki alasan apa pun untuk berurusan dengannya di masa-masa SMA ini. Berdasarkan ingatan dari kehidupan lamanya, jalan hidup mereka baru bersimpangan jauh setelah ia lulus sekolah dan mulai memasuki dunia kerja.


"Kenapa namamu bisa ada di arsip sekolahku?" gumam Leo berbisik sendirian, suaranya terdengar serak di tengah kesunyian kamarnya.


Ia tidak menemukan jawaban yang masuk akal. Logikanya berontak, mencari kaitan yang hilang di antara masa lalu yang telah ia ubah dan masa depan yang ia takuti.


Keesokan paginya, Leo kembali melangkah memasuki kompleks SMA Tunas Harapan.


Tujuannya hari ini hanya satu: mengambil dokumen tanda terima terakhir yang diperlukan untuk melengkapi berkas pendaftaran universitas. Suasana di halaman sekolah tampak jauh lebih lengang dan sepi dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Sebagian besar siswa kelas XII memang sudah jarang menampakkan diri karena seluruh kegiatan akademik resmi telah dinyatakan selesai.


Leo berjalan menyusuri koridor lantai satu menuju ruang administrasi tata usaha.


Namun, tepat ketika ia hendak membelok di tikungan lorong dekat kantor staf, langkah kakinya mendadak terhenti secara refleks. Dari balik pintu ruang administrasi yang sedikit terbuka, terdengar sayup-sayup percakapan dua orang staf sekolah.


"...orang asing itu datang ke sini kemarin siang," suara seorang staf pria paruh baya terdengar jelas di telinga Leo.


Leo menahan napasnya, merapatkan diri ke dinding tembok koridor, dan memasang telinga baik-baik.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya suara staf perempuan yang lain.


"Pria yang memaksa bertanya tentang arsip lama siswa. Katanya dia punya kepentingan mendesak dengan data salah satu lulusan angkatan kita."


Jantung Leo berdegup lebih kencang. Insting bertahannya langsung menyala. Jadi, dugaan itu benar: memang ada seseorang yang secara sengaja mendatangi sekolah khusus untuk mengorek data masa lalunya.


"Siapa namanya?" tanya staf perempuan itu lagi.


"Entahlah. Dia tidak menunjukkan kartu identitas resmi, hanya mengaku sebagai kenalan lama."


Leo mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di dalam saku celana. Seseorang benar-benar sedang memburu rekam jejaknya.


Ia sangat ingin melangkah masuk dan mendengar lebih banyak detail, tetapi suara derap kaki dari dalam ruangan menandakan percakapan itu akan segera usai. Leo buru-buru memutar badan dan melangkah beberapa langkah menjauh, pura-pura sibuk memeriksa ponsel di tangannya agar tidak terlihat mencurigakan.


Staf pria paruh baya itu keluar dari ruangan dengan membawa setumpuk map, berjalan melewatinya begitu saja tanpa menaruh curiga sedikit pun.


Setelah bayangan staf itu menghilang di ujung koridor, Leo menunggu beberapa detik sampai suasana benar-benar aman sebelum ia melangkah masuk ke dalam ruang administrasi.


"Permisi," sapanya dengan nada setenang mungkin.


Seorang staf perempuan yang berada di meja dalam mendongak dan mengenalinya. "Oh, Leo. Ada yang bisa Ibu bantu? Bukannya berkasmu sudah selesai kemarin?"


"Saya mau mengambil lembar validasi terakhir yang tertinggal, Bu," jawab Leo beralasan.


"Sebentar, ya, Ibu cari dulu di lemari arsip."


Sambil menunggu staf tersebut membongkar tumpukan map di lemari sudut ruangan, Leo memutuskan untuk memancing percakapan dengan nada suara yang dibuat sesantai mungkin.


Lihat selengkapnya