Hari-hari setelah pengumuman kelulusan SMA ternyata berjalan jauh lebih cepat dari yang pernah Leo bayangkan sebelumnya. Waktu seolah bergulir tanpa henti, membawa keheningan baru yang asing ke dalam lingkungan kompleks sekolah.
Gedung SMA Tunas Harapan mulai terasa sangat berbeda. Koridor-koridor yang biasanya setiap pagi dan siang dipenuhi oleh gelak tawa, keributan kecil antarsiswa, atau suara langkah kaki berkejaran, kini mendadak terasa jauh lebih sunyi dan lengang. Tidak ada lagi jadwal pelajaran harian yang mengikat, tidak ada lagi tugas-tugas menumpuk yang harus diselesaikan tepat waktu, dan tidak ada lagi suara tegas Pak Harun yang mengingatkan mereka agar fokus memperhatikan materi rumit di papan tulis.
Bagi Leo, semua perubahan atmosfer ini terasa seperti sebuah halaman buku kehidupan yang perlahan-lahan ditutup dengan rapi. Babak remajanya telah resmi berakhir. Namun, di balik rasa senyap itu, ia tahu persis bahwa babak kehidupan barunya yang sebenarnya baru saja akan dimulai dari titik nol.
Pagi itu, udara terasa cukup sejuk ketika Leo duduk tenang di kursi meja makannya. Ia sedang sibuk memeriksa beberapa lembar dokumen penting universitas yang berserakan di hadapannya, memastikan tidak ada satu pun persyaratan administrasi atau tanda tangan yang terlewatkan.
Ibunya melangkah pelan dari arah dapur, lalu meletakkan segelas teh hangat tepat di hadapan putranya.
"Sudah selesai mengurus semua berkas pendaftarannya, Nak?" tanya sang ibu dengan nada suara yang hangat dan penuh kelegaan.
Leo mengangkat kepalanya dari tumpukan map, tersenyum kecil menatap wanita yang telah melahirkannya itu. "Hampir semuanya selesai, Bu. Ini tinggal merapikan beberapa dokumen pendukung terakhir yang harus dikumpulkan minggu depan."
Ibunya menarik kursi lalu duduk tepat di seberangnya, memerhatikan gerak-gerik Leo dengan saksama. "Kamu sudah memikirkan soal tempat tinggal di sana? Jarak dari rumah kita ke kampus pilihanmu lumayan jauh, lho."
Leo mengangguk mantap. "Untuk beberapa bulan pertama, aku rasa aku masih bisa bolak-balik naik transportasi umum atau berkendara sendiri, Bu. Tapi, kalau nanti jadwal kuliahnya mulai terlalu padat dan menyita waktu, baru aku akan mencari tempat indekos atau asrama yang lokasinya lebih dekat dari kampus."
Ibunya tersenyum tulus, garis-garis kelelahan di wajahnya tampak jauh berkurang dibandingkan dengan kehidupan mereka di lini masa lalu. "Yang paling penting, jangan pernah lupa makan tepat waktu. Kesehatanmu tetap nomor satu."
Leo tertawa kecil mendengar nasihat klise namun penuh makna itu. "Ibu selalu saja bilang begitu setiap hari."
"Karena kamu punya kebiasaan buruk sering lupa diri kalau sudah fokus mengerjakan sesuatu."
Leo terdiam sejenak mendengar kalimat itu. Hal-hal kecil dan sederhana seperti percakapan ringan di meja makan ini berhasil membuatnya kembali teringat pada kepahitan dari kehidupan sebelumnya. Dulu, karena kebodohan, ego, dan kelalaiannya sendiri, ia bahkan tidak pernah sempat menikmati momen-momen tenang dan berharga bersama ibunya seperti ini. Hubungan mereka hancur berkeping-keping akibat kenakalannya.
Sekarang, di kesempatan kedua yang diberikan oleh semesta, ia bersumpah dalam hati untuk menjaga kehangatan ini selama mungkin.
Menjelang tengah hari, Leo memutuskan untuk pergi keluar rumah menuju perpustakaan sekolah. Masih ada beberapa buku referensi lama milik perpustakaan yang harus ia kembalikan sebelum status keanggotaannya resmi dicabut.
Setibanya di gedung perpustakaan yang sejuk dan beraroma khas kertas tua, ia tidak sengaja melihat sosok yang sudah sangat ia kenal sedang duduk di salah satu meja sudut dekat jendela besar.
Mia.
Gadis itu sedang duduk sendiri di sana, dikelilingi oleh beberapa lembar formulir pendaftaran berwarna putih di hadapannya.
Leo melangkah mendekat perlahan tanpa bersuara, lalu berdiri di samping meja. "Kamu juga di sini hari ini?"
Mia sedikit terkejut, lalu mengangkat kepalanya cepat-cepat. Begitu melihat wajah Leo, ia tersenyum kecil. "Oh... iya. Aku sedang menyempatkan diri mengisi beberapa formulir daftar ulang."
Tanpa menunggu undangan formal, Leo menarik kursi kayu di hadapan Mia lalu duduk dengan tenang. "Bagaimana? Sudah memutuskan semua pilihan kampus dan jurusannya?"
"Sepertinya sudah final," jawab Mia pelan. Ia menyerahkan salah satu lembar formulir yang ada di atas meja kepada Leo. "Aku mengambil jurusan yang waktu itu pernah aku ceritakan kepadamu."
Leo membaca sekilas pilihan program studi yang tertera di kertas tersebut. Ia mengingat kembali percakapan mereka beberapa bulan lalu di bawah pohon rindang. "Pilihan yang sangat bagus dan cocok untukmu."
"Tapi, kampusnya terletak cukup jauh dari lingkungan tempat tinggal kita," tambah Mia, nadanya menyiratkan sedikit keraguan.
Leo mengangguk paham. "Itu artinya kamu harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang benar-benar baru."
Mia menundukkan pandangannya, menatap jemarinya sendiri di atas meja. "Itulah bagian yang membuatku merasa sedikit takut."
Leo tidak langsung memberikan jawaban klise. Ia tahu betul karakter Mia; gadis itu tidak pernah merasa nyaman berada di tengah keramaian atau lingkungan asing yang penuh sesak dengan orang-orang baru. Namun, jauh di lubuk hatinya, Leo juga sangat memahami bahwa Mia harus belajar melangkah dan berdiri di atas kakinya sendiri dengan caranya yang unik.
"Kamu pasti bisa melewatinya, Mia," ucap Leo dengan suara rendah yang menenangkan.
Mia mendongak, menatap mata hitam pemuda itu lekat-lekat. "Kamu benar-benar yakin aku bisa?"
"Aku sangat yakin," jawab Leo sambil tersenyum tulus. "Kamu sudah melewati banyak hal berat dalam hidupmu sejauh ini. Menghadapi lingkungan kampus seharusnya tidak akan terasa lebih sulit dari apa yang sudah berhasil kamu taklukkan sebelumnya."