Pagi itu, udara terasa jauh lebih segar daripada biasanya ketika Leo membuka kelopak matanya dan bangun lebih awal dari jadwal hari-hari sebelumnya.
Setelah menghabiskan sarapan pagi yang hangat bersama sang ibu—momen tenang yang kini selalu ia syukuri dengan sepenuh hati—Leo segera bersiap merapikan diri dan mengenakan pakaian kasualnya. Tujuannya hari ini sudah jelas: ia harus pergi ke rumah Mia. Mereka sudah membuat janji sejak kemarin untuk menghabiskan waktu belajar bersama, mempersiapkan diri menghadapi transisi kehidupan perkuliahan yang sudah berada di ambang mata.
Ketika langkah kaki Leo akhirnya tiba di depan pagar rumah Mia, gadis berambut hitam itu ternyata sudah berdiri menunggunya di teras dengan ransel kain tersampir rapi di bahunya.
"Kamu sudah lama menunggu di sini?" sapa Leo ramah begitu mendekat.
Mia menggeleng pelan, merapikan letak tasnya. "Tidak, kok. Aku baru saja keluar dari rumah."
Leo mengamati sekilas tas ransel yang dibawa gadis itu, tampak agak menggembung. "Banyak buku yang kamu bawa?"
"Sedikit, hanya buku referensi materi dasar," jawab Mia singkat.
Leo tersenyum kecil menangkap ekspresi serius di wajah gadis itu. "Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang."
Mereka berdua lantas berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak perkampungan menuju sebuah perpustakaan umum kota yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan tempat tinggal mereka.
Jarak yang dulunya terasa sangat biasa dan sering mereka lewati tanpa banyak pikiran, kini mendadak terasa memiliki arti yang sedikit berbeda. Di dalam benak Leo, kesadaran itu mulai merayap pelan: sebentar lagi, kebiasaan sederhana seperti berjalan bersama menuju tempat belajar atau sekolah tidak akan lagi semudah dulu untuk mereka lakukan karena kesibukan kampus masing-masing.
Setibanya di gedung perpustakaan umum yang sejuk dan tenang, mereka langsung memilih sebuah meja kosong yang terletak tepat di dekat jendela besar dengan pencahayaan matahari pagi yang sempurna.
Mia langsung mengeluarkan beberapa buku tebal dan buku catatan dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu. "Aku masih merasa agak bingung dengan beberapa materi dasar matematika lanjutan dan logika dasar untuk persiapan kuliah nanti."
Leo menarik kursi duduknya sedikit lebih dekat ke arah meja Mia, menyamakan posisi mereka. "Bagian bab mana yang masih membuatmu bingung?"
Mia membuka halaman catatan yang ditandai dengan selembar kertas kecil, lalu menunjukkan beberapa soal latihan. "Di sini."
Dengan telaten dan sabar, Leo mulai menjelaskan materi demi materi satu per satu kepada Mia. Berbeda jauh dengan karakternya di kehidupan dulu yang sering terburu-buru atau mudah kehilangan kesabaran, Leo yang sekarang menikmati setiap detik proses tersebut.
Ia tidak lagi merasa terbeban oleh ambisi atau terburu-buru ingin segera menyelesaikan semuanya. Ia benar-benar menikmati waktu yang ada, menghargai setiap tarikan napas dan senyuman tipis yang terukir di wajah gadis di hadapannya.
Sesekali, Mia mengerutkan dahi ketika mencoba memahami penjelasan logika yang rumit. Dan sesekali pula, mereka tertawa kecil bersama ketika mendapati diri mereka salah melakukan perhitungan dasar yang sepele.
Tanpa disadari oleh keduanya, hampir dua jam penuh waktu berlalu begitu saja di balik tumpukan buku-buku tebal.
Mia akhirnya menutup buku catatannya dengan gerakan lembut. "Kamu merasa lelah, Leo?"
"Sedikit saja," jawab Leo jujur. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga agak penat."
"Kalau begitu, mari kita istirahat sejenak."
Mereka berdua memutuskan untuk keluar dari ruang baca utama dan berjalan menuju sebuah halaman rumput kecil yang asri di samping gedung perpustakaan. Angin siang berembus pelan, membawa kesejukan di tengah teriknya matahari.
Mia duduk di atas bangku taman dari besi tempa, menarik napas panjang.
Leo berjalan sejenak ke arah warung kecil di dekat gerbang luar perpustakaan untuk membeli dua botol minuman dingin, lalu kembali dan menyerahkan salah satunya kepada Mia.
"Terima kasih banyak, Leo," kata Mia tulus.