Cinta Teman Masa Kecil

AksaShen
Chapter #15

Bab 15 — Jarak yang Mulai Terbayang

Pagi itu, suasana di dalam rumah Leo terasa jauh lebih tenang dan damai daripada hari-hari biasanya.


Tidak ada lagi suara dering alarm pagi atau teriakan bel sekolah yang harus dikejar dengan terburu-buru. Tidak ada lagi seragam abu-abu yang perlu disetrika rapi setiap malam. Dan tidak ada lagi tumpukan jadwal pelajaran membosankan yang menanti untuk diselesaikan di atas papan tulis.


Fase kelulusan SMA benar-benar telah mengubah banyak hal mendasar dalam ritme kehidupan mereka. Segala keteraturan masa sekolah kini melebur, digantikan oleh kebebasan semu yang diiringi oleh kebingungan khas remaja yang bersiap menatap dunia dewasa.


Namun, bagi Leo, di tengah pusaran perubahan besar tersebut, ada satu hal penting yang tetap berdiri kokoh tanpa bergeser sedikit pun:


Mia.


Leo sedang sibuk membantu ibunya menyapu halaman depan rumah yang dipenuhi dedaunan kering ketika sayup-sayup ia mendengar suara derap langkah kaki seseorang berhenti tepat di depan pagar kayu rumah mereka.


“Leo,” panggil sebuah suara lembut yang sudah sangat melekat di telinganya.


Leo langsung menghentikan gerakan sapunya, lalu menoleh ke sumber suara.


Mia berdiri di sana mengenakan pakaian kasual yang sederhana namun rapi, menenteng sebuah tas kain kecil yang berisi beberapa buku referensi dan lembar brosur pendidikan.


“Pagi, Mia,” sapa Leo ramah.


“Pagi juga,” balas Mia pelan sambil tersenyum tipis.


Ibu Leo yang kebetulan baru saja keluar dari pintu dapur membawa cucian langsung tersenyum lebar begitu melihat kedatangan gadis itu. “Eh, ada Mia. Masuk saja, Nak. Leo sudah hampir selesai membantu Ibu di halaman.”


Mia mengangguk kecil dengan sopan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah duduk berdampingan di ruang tamu. Di atas meja kayu yang bersih terhampar beberapa lembar brosur pendaftaran universitas dari berbagai kota yang sebelumnya sempat mereka kumpulkan bersama.


Mia mengulurkan tangannya, mengambil salah satu brosur berwarna terang. “Aku sudah membaca brosur ini semalam suntuk.”


Leo yang duduk di seberangnya bertanya, “Brosur universitas yang mana?”


“Universitas negeri yang lokasinya paling dekat dengan pusat kota,” jawab Mia serius.


Leo memperhatikan brosur yang ditunjuk oleh jari lentik gadis itu. “Jadi, apakah kamu sudah mulai menetapkan pilihan kampusmu?”


Mia mengangguk pelan. “Sepertinya, aku akan memilih mendaftar ke universitas ini.”


Leo memerhatikan detail program studi dan fakultas yang dipilih oleh Mia pada brosur tersebut. “Apakah jurusan ini masih sesuai dengan bidang yang benar-benar kamu inginkan dari dulu?”


Mia terdiam sejenak sebelum menjawab, “Lumayan. Memang tidak sepenuhnya persis seperti bayangan idealku sewaktu kecil, tapi kurasa bidang ini masih sanggup aku jalani dengan baik.”


Leo tersenyum teduh. “Kalau begitu, jangan memilih sebuah jurusan hanya karena pertimbangan faktor lokasinya yang dekat dari rumah.”


Mia mendongak, menatap mata pemuda itu dengan kening berkerut. “Kenapa memangnya?”


“Karena kuliah itu bukan sekadar soal seberapa dekat atau jauh jarak kampus dari tempat tinggal kita,” jelas Leo dengan nada suara yang bijak. “Kamu harus memikirkan jangka panjangnya, apa sebenarnya yang benar-benar ingin kamu lakukan dan bangun setelah kamu lulus nanti.”


Mia terdiam membisu, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Leo. Ia tahu pemuda di hadapannya ini selalu memikirkan segala sesuatunya dengan matang. “Kalau kamu sendiri bagaimana, Leo?” tanya Mia balik. “Kampus mana yang akan kamu tuju?”


“Aku masih menimbang-nimbang beberapa pilihan terbaik.”


“Berarti kamu sampai sekarang belum menentukan pilihan final?”


“Belum.”


Mia kembali menundukkan pandangannya ke arah meja, memainkan ujung brosur di tangannya. “Kalau seandainya nanti kita ternyata memilih universitas yang berbeda…”


Kalimat itu menggantung begitu saja di udara, tidak diselesaikannya. Namun, Leo tahu persis apa kecemasan terbesar yang sedang disembunyikan di balik kalimat setengah matang itu.


“Kita tetap bisa bertemu,” jawab Leo cepat.

Lihat selengkapnya