Rumah kontrakan yang memiliki dua kamar, satu dapur, dan ruang tamu serta kamar mandi, sekarang menjadi tempat tinggalku yang baru. Aku sangat bahagia sekali bisa keluar dari rumah yang tak layak di sebut rumah, tetapi neraka. Banyak sekali pertengkaran yang membuat telingaku sakit setiap hari. Apalagi, ketik Ayah sering membanding-bandingkanku dengan adikku yang bernama Daren. Aku tak sengaja pernah menguping pembicaraan teman-teman adikku itu, ketika mereka semua menginap di sini Ternyata, Daren adalah pria paling populer dan cerdas di SMA Karunia Bangsa. Tak hanya itu, adikku juga selalu menjadi juara dalam setiap perlombaan. Hingga Ayah selalu membangga-banggakan Daren ketika semua keluarga besarnya berkumpul bersama.
Lantas, siapa aku di mata Ayah? Aku hanya seorang perempuan yang memiliki nama Advika Maharani. Mahasiswa yang sebentar lagi akan lulus dari kuliah jurusan sastra di salah satu universitas ternama di Bandung. Dulu, Ayah menyuruhku untuk mengambil jurusan bisnis dan manajemen agar bisa kerja kantoran sepertinya. Namun, aku tolak mentah-mentah keinginan Ayah itu. Enak saja, Ayah mau mengatur hidupku. Aku bukan Daren yang bisa Ayah atur ini dan itu. Aku adalah aku dengan sifat keras kepala dan juga egoisku. Karena itulah, Ayah selalu memperlakukanku, layaknya anak tiri. Tak pernah ada pujian, rasa bangga, atau hadiah ketika aku pernah menjuarai lomba membaca puisi. Dalam hidup Ayah, hanya ada Daren saja.
Akhirnya, demi menjaga kewarasan dan juga konsentrasi pada skripsi, aku memutuskan keluar dari rumah itu dan mengontrak sebuah rumah kecil yang dekat dengan tempat kuliahku. Sebuah permintaan yang membuat Ayah semakin meradang dan tidak mengizinkanku untuk tinggal selain di rumah. Bukan karena khawatir, pada anak perempuannya, tetapi ia tidak mau mengeluarkan uang untuk membayar biaya kontrakan, dan biaya-biaya lainnya.
"Ayah, aku enggak minta Ayah untuk membayar kontrakanku, kok? Aku hanya ingin minta izin saja. Mengenai biaya kontrakan, Ayah tidak usah khawatir. Aku punya uang kok, dari hasil nulis," cerocosku ketika Ayah tak mengeluarkan izinnya.
"Sombong, kamu. Baru aja jadi penulis, bukan pembisnis. Lihat, Daren." Ayah menunjuk Daren yang sedang makan sambil mendengarkan musik dari aerphone yang terhubung dengan ponsel keluaran baru. Aku yakin. Ponsel itu, pasti pemberian Ayah untuk prestasinya.
"Daren, emang kenapa, Yah?" tanyaku pura-pura tidak tahu arah pembicaraan Ayah yang pasti akan mendewakan Daren.