Cinta Terhalang di Penghujung Jalan

Lynda Cevest
Chapter #1

Bab 1

Siti adalah gadis sederhana, tidak berasal dari keluarga kaya, tidak juga memiliki sesuatu yang terlalu menonjol untuk dibanggakan.

Tapi satu hal yang selalu pegang erat dalam hidup Siti "Harus Rajin, selalu berusaha tetap Ceria, apa pun yang terjadi."

Bagi sebagian orang, hidup Siti mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Siti, justru hidup dalam kesederhanaan itulah ia akan menemukan kebahagiaan.

Dan di sanalah,di kehidupan yang sederhana itu Siti bertemu dengannya.

Rizky..

Namanya sudah tidak asing lagi di sekolah. Anak dari pemilik perusahaan besar yang cukup terkenal. Banyak orang mengira dia anak yang sombong, dingin, atau menjaga jarak. Tapi kenyataannya… justru sebaliknya.

Rizky adalah sosok yang hangat.

Ia ramah pada siapa saja, tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu siap membantu tanpa mengharapkan imbalan. Senyumnya tulus, jsenyum yang bisa membuat orang merasa nyaman hanya dengan melihatnya.

Siti sering melihatnya sebelumnya.

Di koridor sekolah.

Di lapangan.

Di depan kelasnya yang letaknya tidak jauh dari kelasku.

Namun, seperti dua garis yang berjalan berdekatan tapi tak pernah bersinggungan, mereka tidak pernah benar-benar saling mengenal.

Sampai suatu hari… semuanya berubah.

Hari itu, seperti biasa...

Siti duduk di kantin sekolah dengan semangkuk bakso kuah hangat. Uap tipis mengepul dari mangkuk, membawa aroma kaldu yang menenangkan.

Siti selalu menyukai momen seperti ini,sederhana, tenang, dan cukup untuk membuatnya merasa bahagia.

Tanpa Siti sadari, di meja sebelah, Rizky duduk dengan makanan sepiring nasi goreng. Dari obrolan yang pernah kudengar sekilas dari teman temannya, itu adalah makanan favoritnya.

Kami sempat saling melirik.

Hanya sekilas...

Lalu berpura-pura tidak melihat.

Canggung… tanpa alasan yang jelas.

Mungkin karena kami sadar satu sama lain, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Dan mungkin, kalau bukan karena dua orang sahabat kami… cerita ini tidak akan pernah dimulai.

“Sit, pindah yuk! Duduk di sana aja, lebih lega.”

Rahmi, sahabat terbaik Siti sejak lama, tiba-tiba menarik lengannya. Siti bahkan belum sempat protes ketika Rahmi sudah menarikku menuju meja yang lebih besar.

Di sana… ada Rizky.

Dan satu orang lagi di sampingnya Anton, sahabat karibn Rizky.

“Hay, Rizky!” sapa Rahmi dengan santai, seolah semuanya sudah direncanakan.

“Kenalin, ini sahabat aku. Namanya Siti.”

Siti langsung membeku sejenak.

“Eh… hai,” Sapanya pelan, mencoba tersenyum.

Anton langsung menjawab dengan nada menggoda, “Rizky udah sering denger nama kamu, lho. Katanya kamu murid paling pintar… dan paling baik.”

Siti refleks menatap Rizky.

Dan untuk pertama kalinya, Siti bisa melihatnya begitu dekat.

“Hallo… Siti,” ucapnya lembut sambil mengulurkan tangan.

Ada sesuatu dalam suaranya, tenang, tapi hangat.

Siti menyambut uluran tangannya.

“Hallo, Rizky…”

Saat tangan kami bersentuhan, entah kenapa jantung Siti berdegup lebih cepat dari biasanya. Seolah ada getaran kecil yang menjalar, hal yang tidak bisa Siti jelaskan dengan kata-kata.

“Ciee… kenalan baru nih!” celetuk Anton.

“Cantik lagi!”sambungnya

“Diam, Ton! berisik lo...” Rizky langsung memukul bahu temannya pelan. Wajahnya memerah, membuat Siti tanpa sadar tersenyum kecil.

Suasana menjadi cair.

Dan sejak saat itu, kami mulai berbicara,Akrab.

Hari itu menjadi awal dari banyak hal.

Mereka makan di meja yang sama, Sesekali saling melirik, Sesekali tersenyum tanpa alasan yang jelas. Percakapan sederhana yang terasa… berbeda.

Seperti ada sesuatu yang perlahan tumbuh.

Sesuatu yang belum mereka pahami.

Hari-hari berikutnya terasa berubah.

Lihat selengkapnya