Langkah kaki Siti terasa kosong saat meninggalkan bandara hari itu.
Setiap langkah yang ia ambil seolah tidak memiliki tujuan. Suara bising di sekitarnya, panggilan penerbangan, suara koper diseret, tangis perpisahan orang lain semuanya terdengar samar.
Yang tersisa hanya satu perasaan.
Sepi...
Tangannya mengepal pelan. Masih terasa hangat… seolah pelukan terakhir Rizky belum benar-benar hilang.
“Tiga tahun…” bisiknya lirih.
Bukan hanya waktu yang lama,tapi cukup lama untuk mengubah segalanya.
Sejak hari itu, Siti belajar satu hal yang paling sulit hidup tanpa seseorang yang selalu ada di sisinya.
**
Hari-hari setelah kepergian Rizky tidak pernah benar-benar mudah bagi Siti.
Awalnya, mereka masih saling berkabar, Pesan singkat setiap pagi, Panggilan video di malam hari. Janji-janji kecil yang diulang berulang kali.
Namun waktu… perlahan mengubah segalanya.
Kesibukan mulai mengambil alih.
Perbedaan waktu menjadi alasan.
Dan percakapan yang dulu panjang… berubah menjadi singkat.
Hingga suatu hari…
Tidak ada lagi kabar.
Tidak ada lagi “selamat pagi.”
Tidak ada lagi “jaga diri kamu.”
Yang tersisa hanya kenangan… dan tanda tanya.
Namun Siti tetap bertahan.
Ia tidak pernah melepas gelang perak di pergelangan tangannya, satu-satunya bukti bahwa semua itu pernah terjadi.
Tiga tahun berlalu...
Dan Siti bukan lagi gadis SMA yang sama.
Kini ia berdiri di depan kelas, mengenakan pakaian sederhana sebagai seorang guru sekolah dasar.
Senyumnya tetap sama.
Hangat..
Namun di balik itu ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Setelah tiga tahun di Jepang, akhir Rizky menginjakkan kaki lagi di Indonesia.
Pelukan orang tuanya terasa hangat, penuh rindu.
Namun entah kenapa hatinya tidak benar-benar tenang.
Ada satu bagian dalam dirinya yang terasa kosong.
Dan ia tahu… siapa yang mengisinya.
Malam itu, saat ia membuka koper di kamarnya, sebuah foto jatuh ke lantai.
Rizky terdiam..
Ia perlahan mengambilnya.
Foto lama.
Dirinya… dan Siti.
Tertawa sambil memegang popcorn di bioskop.
Senyum di foto itu terlihat begitu bahagia, seolah dunia tidak punya masalah.
Berbeda dengan sekarang, tetiba Dada Rizky terasa sesak.
“Kenapa… aku pergi selama itu?” gumamnya pelan.
Tanpa berpikir panjang, ia berdiri. Keputusan itu datang begitu saja, Ia harus menemui Siti apapun yang terjadi.
Rizky berdiri di depan sebuah sekolah dasar.
Matanya mencari satu sosok yang tidak pernah benar-benar ia lupakan.
Dan di sanalah ia melihat Siti
Ia berdiri di depan kelas, tersenyum pada murid-muridnya.
Cantik...
Tenang...